Tumbilotohe Gorontalo
Kisah di Balik Tradisi Tumbilotohe Gorontalo: Titin Dama Lanjutkan Bisnis Lampu Botol Warisan Ayah
Deretan lampu botol tersusun rapi di sebuah lapak sederhana di Jalan Samratulangi
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Titin-Dama-berjualan-lampu-botol-di-Jl-Samratulangi.jpg)
Dalam menjalankan usaha ini, Titin sering berjualan sendirian. Namun untuk merakit lampu ia dibantu suaminya.
“Suami juga membantu merakit lampu, jadi lampu botolnya saja yang kami cari,” ujarnya.
Di sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga, Titin tetap menyempatkan diri menjaga lapaknya setiap hari selama Ramadan. Usaha ini, menurutnya, cukup membantu menambah penghasilan keluarga.
“Alhamdulillah lumayan membantu ekonomi keluarga,” katanya.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Cuaca sering menjadi kendala, terutama saat hujan.
“Kalau hujan harus cepat ditutup supaya lampu tidak basah, apalagi lapak saya hanya beralaskan terpal,” ujarnya.
Titin berharap tradisi menyalakan lampu botol saat Ramadan tetap dipertahankan masyarakat Gorontalo.
Baginya, usaha ini bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga tradisi warisan ayahnya.
“Harapannya semoga tradisi ini tetap ada di Gorontalo supaya lampu-lampu seperti ini masih dipakai,” tuturnya.
Sore itu, Titin kembali duduk di balik lapaknya. Lampu-lampu botol yang berjajar rapi menunggu waktunya menyala, menerangi malam Ramadan sekaligus menjaga cahaya tradisi Gorontalo yang diwariskan turun-temurun. (*)