LIPSUS SPANDUK
Estetika Kota Terancam, Akademisi UNG Soroti Baliho dan Kabel Kusut di Gorontalo
Kondisi wajah Kota Gorontalo yang kian dipenuhi baliho liar dan jaringan kabel yang tumpang tindih memicu kekhawatiran mengenai degradasi estetika
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Spanduk-yang-terpasang-di-ruas-Jalan-HB-Jassin.jpg)
Ringkasan Berita:
- Sri Sutarni Arifin menilai menjamurnya baliho liar dan kabel semrawut sebagai fenomena visual clutter yang merusak estetika kota serta mengindikasikan lemahnya koordinasi antarinstansi dalam pengendalian tata ruang.
- Kesemrawutan visual ini dinilai berdampak negatif pada kenyamanan psikologis warga, faktor keamanan fisik akibat kabel kusut
- Instruksi Presiden dan Penataan: Penataan media visual di Gorontalo kini menjadi fokus selaras dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto
TRIBUNGORONTALO.COM – Kondisi wajah Kota Gorontalo yang kian dipenuhi baliho liar dan jaringan kabel yang tumpang tindih memicu kekhawatiran mengenai degradasi estetika ruang publik.
Fenomena visual clutter atau kekacauan visual ini dinilai bukan sekadar masalah tampilan, melainkan ancaman serius terhadap kenyamanan psikologis warga hingga daya tarik investasi dan pariwisata di daerah.
Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Sri Sutarni Arifin, menyoroti menjamurnya atribut promosi dan kabel yang tidak tertata sebagai indikator lemahnya kepatuhan terhadap tata ruang.
Menurutnya, persoalan ini mencerminkan kurangnya sinkronisasi antar-instansi dalam pengawasan dan pengendalian ruang.
"Ini akan menimbulkan kesan semrawut dan tidak rapi, padahal estetika sangat penting dalam penataan sebuah kota. Persoalan ini berkaitan erat dengan kualitas ruang yang dirasakan masyarakat," ujar Sri kepada TribunGorontalo.com pada Minggu (8/2/2026).
Sri mengungkapkan bahwa kondisi kabel yang melintang tidak beraturan di sejumlah ruas jalan utama mulai menunjukkan tanda-tanda memprihatinkan. Kondisi ini menuntut penanganan segera agar wajah kota tidak semakin kumuh.
Lebih jauh, akademisi UNG ini menjelaskan bahwa dampak dari kesemrawutan visual ini meluas ke berbagai sektor:
- Psikologis: Menciptakan rasa tidak nyaman bagi pengguna jalan dan warga yang beraktivitas.
- Keamanan: Kabel yang kusut berpotensi menimbulkan bahaya fisik bagi masyarakat.
- Ekonomi: Menurunkan nilai estetika yang menjadi modal utama sektor pariwisata dan investasi.
"Wisatawan bisa merasa tidak nyaman dengan kondisi yang semrawut. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berdampak pada minat investor yang melihat keteraturan kota sebagai salah satu tolok ukur," jelas Sri.
Sebagai langkah konkret, ia menyarankan pemerintah mulai mempertimbangkan regulasi penataan kabel bawah tanah dan pembatasan elemen visual agar tidak mendominasi ruang publik.
Pantauan TribunGorontalo.com di lapangan memperkuat kekhawatiran tersebut. Di Jalan Pangeran Hidayat, selebaran iklan dipaku hampir di setiap pohon pelindung jalan.
Sementara di pusat kota, tepatnya di simpang empat Masjid Baiturrahim, sejumlah baliho tokoh politik dan spanduk komersial masih terpasang meski sebagian sudah mulai rusak.
Sebelumnya, Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP Kota Gorontalo, Ramli Taliki, menegaskan bahwa penataan ini sejalan dengan Instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait estetika kota.
“Pemasangan baliho itu sudah diatur dan tidak bisa sembarangan. Kami terus melakukan pemantauan, terutama di kawasan strategis. Jika ada pemasangan yang melanggar, langsung kami tertibkan,” tegas Ramli.
Baca juga: Lowongan Kerja Gorontalo 8 Februari 2026, Sinar Mas Multifinance Buka Rekrutmen
Instruksi Presiden RI
Instruksi Presiden Prabowo Subianto menyoroti masih maraknya pemasangan spanduk dan baliho berukuran besar di sejumlah daerah yang dinilai mengganggu estetika dan kenyamanan masyarakat.