Kebakaran di Gorontalo
Hidup Sebatang Kara, Dona Karim Warga Moodu Gorontalo Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran
Subuh yang seharusnya tenang justru menjadi duka paling kelam bagi Dona Karim (50).
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dona-Karim-50-menatap-puing-puing-rumah-kayu-miliknya-yang-ludes-terbakar.jpg)
Beruntung, laporan ke pemadam kebakaran dilakukan dengan cepat sehingga api berhasil dikendalikan dan tidak merembet lebih jauh ke rumah-rumah lain di kawasan padat tersebut.
Dona tinggal seorang diri di rumah itu. Suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu dan dimakamkan tepat di samping rumah yang kini tinggal puing-puing.
Momen paling menyayat hati terjadi saat Dona menatap makam mendiang suaminya. Tatapannya kosong, matanya berkaca-kaca, seolah ingin menyampaikan keluh kesah atas musibah yang menimpanya, bahwa rumah yang berdiri di sisi makam itu kini sudah tak ada.
Sekitar dua tahun lalu, Dona kehilangan suami. Kini, ia kembali kehilangan tempat berpijak.
Untuk bertahan hidup, Dona mengandalkan pekerjaan serabutan sebagai tukang cuci pakaian dengan penghasilan yang tidak menentu.
“Kadang ada orang panggil saya cuci baju, setiap kali cuci alhamdulillah bisa Rp 50 ribu yang saya dapat,” tuturnya.
Namun pekerjaan itu tidak datang setiap hari. Ia hanya bisa berharap ada panggilan dari warga.
Pasca kebakaran, Dona terpaksa tinggal di rumah tetangganya. Ia tak tahu lagi harus ke mana.
“Tinggal di rumah sini, karena sudah tidak tahu lagi mau tinggal di mana,” katanya.
Kini, yang tersisa dari rumahnya hanyalah puing-puing bangunan yang telah dipasangi garis polisi. Tak ada perabot, tak ada pakaian, tak ada kenangan yang bisa diselamatkan.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)