Kebakaran di Gorontalo
Hidup Sebatang Kara, Dona Karim Warga Moodu Gorontalo Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran
Subuh yang seharusnya tenang justru menjadi duka paling kelam bagi Dona Karim (50).
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dona-Karim-50-menatap-puing-puing-rumah-kayu-miliknya-yang-ludes-terbakar.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kebakaran hebat terjadi pada Selasa (27/1/2026) sekitar pukul 05.00 Wita di Kelurahan Moodu, Kota Timur
- Dona Karim (50), pemilik rumah kayu yang terbakar, kehilangan seluruh harta bendanya dan hanya menyisakan pakaian di badan
- Dona yang hidup sebatang kara dan bekerja serabutan sebagai buruh cuci kini terpaksa mengungsi di rumah tetangga
TRIBUNGORONTALO.COM – Subuh yang seharusnya tenang justru menjadi duka paling kelam bagi Dona Karim (50).
Api berkobar hebat dan menghanguskan rumah kayu tempat ia bertahan hidup seorang diri, Selasa (27/1/2026) dini hari.
Rumah tersebut berada di Kelurahan Moodu, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 05.00 Wita. Dua rumah terdampak, salah satunya milik Dona yang ludes rata dengan tanah.
Sementara rumah lainnya terbakar di bagian belakang hingga lantai dua. Rumah itu dihuni oleh tiga kepala keluarga (KK) dengan total sembilan jiwa.
Tak butuh waktu lama, tempat tinggal sederhana Dona berubah menjadi puing hitam tak bersisa. Tak ada satu pun barang yang berhasil ia selamatkan.
“Ini hanya baju di badan yang saya pakai,” ucap Dona lirih saat diwawancarai TribunGorontalo.com..
Dona menuturkan, sebelum api membesar ia sempat merasakan hawa panas di dalam rumah. Ia mengira itu hanya panas biasa.
“Tadi malam saya rasa panas, terus saya putar kipas angin,” ungkapnya.
Namun dugaan itu keliru. Panas semakin menyengat, api mulai terlihat dan cepat membesar.
“Saya lihat api mulai membesar di bagian dapur,” ujarnya mengenang kejadian tersebut.
Bangunan rumah yang seluruhnya terbuat dari kayu membuat api merambat begitu cepat. Dona panik, keluar rumah sambil menangis dan berteriak meminta pertolongan warga sekitar.
“Saya sudah menangis, teriak-teriak lewat sini,” katanya sambil menunjuk jalan di depan rumahnya.
Baca juga: Oknum TNI Ngamuk di Rutan Polda Gorontalo, Ternyata Sepupu Tahanan Moh Amin Ramadan
Terkait dugaan penyebab kebakaran, Dona menepis isu ledakan gas sebagai pemicu awal. Ia menyebut ledakan terjadi setelah api lebih dulu muncul. Gas meledak ketika api sudah menyala dan membesar.
Beruntung, laporan ke pemadam kebakaran dilakukan dengan cepat sehingga api berhasil dikendalikan dan tidak merembet lebih jauh ke rumah-rumah lain di kawasan padat tersebut.
Dona tinggal seorang diri di rumah itu. Suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu dan dimakamkan tepat di samping rumah yang kini tinggal puing-puing.
Momen paling menyayat hati terjadi saat Dona menatap makam mendiang suaminya. Tatapannya kosong, matanya berkaca-kaca, seolah ingin menyampaikan keluh kesah atas musibah yang menimpanya, bahwa rumah yang berdiri di sisi makam itu kini sudah tak ada.
Sekitar dua tahun lalu, Dona kehilangan suami. Kini, ia kembali kehilangan tempat berpijak.
Untuk bertahan hidup, Dona mengandalkan pekerjaan serabutan sebagai tukang cuci pakaian dengan penghasilan yang tidak menentu.
“Kadang ada orang panggil saya cuci baju, setiap kali cuci alhamdulillah bisa Rp 50 ribu yang saya dapat,” tuturnya.
Namun pekerjaan itu tidak datang setiap hari. Ia hanya bisa berharap ada panggilan dari warga.
Pasca kebakaran, Dona terpaksa tinggal di rumah tetangganya. Ia tak tahu lagi harus ke mana.
“Tinggal di rumah sini, karena sudah tidak tahu lagi mau tinggal di mana,” katanya.
Kini, yang tersisa dari rumahnya hanyalah puing-puing bangunan yang telah dipasangi garis polisi. Tak ada perabot, tak ada pakaian, tak ada kenangan yang bisa diselamatkan.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.