Kamis, 26 Maret 2026

Siswi Gorontalo Dikeroyok

Kronologi Siswi SMA Gorontalo Dikeroyok Teman Sekolahnya, Ortu Sebut Pelaku Anak Guru

Seorang siswi kelas XI SMA Negeri harus menelan pil pahit setelah diduga menjadi korban pengeroyokan brutal oleh tiga remaja perempuan.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Kronologi Siswi SMA Gorontalo Dikeroyok Teman Sekolahnya, Ortu Sebut Pelaku Anak Guru
TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga
SISWA DIKEROYOK -- R, orang tua siswa SMA di Kota Gorontalo saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Sabtu (24/1/2026). R bercerita tentang anaknya yang diduga dikeroyok oleh tiga remaja perempuan. (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga) 
Ringkasan Berita:
  • Seorang siswi kelas XI SMA Negeri di Kota Gorontalo diduga menjadi korban pengeroyokan brutal oleh tiga remaja perempuan di lapangan eks Agussalim
  • Korban mengalami luka fisik dan trauma psikis berat, hingga menarik diri dari lingkungan sosial dan tidak sanggup memberikan keterangan
  • Orang tua korban menolak jalur damai karena menilai tidak ada itikad baik dari pihak pelaku

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Tragedi kekerasan di lingkungan remaja kembali mencoreng dunia pendidikan di Kota Gorontalo.

Seorang siswi kelas XI SMA Negeri harus menelan pil pahit setelah diduga menjadi korban pengeroyokan brutal oleh tiga remaja perempuan.

Kasus ini menjadi sorotan tajam setelah orang tua korban mengungkap fakta mengejutkan mengenai latar belakang pelaku.

Di balik aksi kekerasan yang terencana tersebut, salah satu terduga pelaku disinyalir merupakan anak dari seorang tenaga pendidik atau guru.

Kejadian yang berlangsung di tengah kegelapan malam itu menyisakan trauma mendalam bagi korban. Luka fisik mungkin perlahan memudar, namun guncangan psikis yang dialami remaja ini dilaporkan masuk dalam kategori trauma berat yang sangat mengkhawatirkan.

Kronologi peristiwa kelam ini bermula pada Senin malam (19/1/2026). Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul 18.30 WITA, waktu di mana aktivitas masyarakat mulai melambat dan malam mulai turun menyelimuti kota.

Korban yang dikenal sebagai sosok remaja pendiam dan tertutup, berpamitan kepada ibunya, R. Ia menyampaikan niat untuk berkumpul di rumah seorang temannya guna urusan pertemanan biasa.

Tanpa sedikit pun firasat buruk, R mengizinkan putrinya pergi. Baginya, sang anak hanya ingin menghabiskan waktu sejenak untuk bersosialisasi dengan rekan sebayanya.

Namun, yang tidak diketahui oleh korban maupun keluarganya, sebuah skenario kekerasan telah disiapkan di lokasi tujuan. Di rumah rekan yang dijanjikan, tiga orang remaja perempuan sudah menunggu dengan suasana penuh ketegangan.

Salah satu dari ketiga remaja tersebut ternyata bukan orang asing bagi korban. Ironisnya, ia adalah teman sekelas korban sendiri yang seharusnya menjadi mitra dalam menuntut ilmu di sekolah.

Negosiasi yang Gagal dan Tekanan Pelaku

Menyadari adanya gelagat tidak baik dari rombongan tersebut, korban sempat berupaya melakukan negosiasi. Ia meminta agar masalah yang mereka hadapi dibicarakan baik-baik di dalam rumah saja.

Upaya perlindungan sebenarnya sempat datang dari pemilik rumah lokasi pertemuan. Pemilik rumah tersebut melarang rombongan remaja itu untuk keluar karena kondisi di luar sudah mulai gelap dan dianggap tidak aman.

Akan tetapi, tekanan dan intimidasi dari ketiga pelaku jauh lebih kuat. Mereka memaksa korban untuk ikut dengan alasan ingin menyelesaikan urusan di tempat lain yang lebih tertutup.

Korban yang merasa terdesak dan berada dalam posisi tidak berdaya akhirnya terpaksa mengikuti kemauan para pelaku. Mereka beranjak menuju sebuah lokasi yang kelak menjadi saksi bisu aksi kekerasan tersebut.

Tujuannya adalah sebuah lapangan di jalan eks Agussalim. Tempat ini dipilih para pelaku karena lokasinya yang sepi dan minim penerangan, menjadikannya tempat ideal untuk melakukan aksi tanpa terlihat orang lain.

Setibanya di lokasi, intimidasi fisik langsung dimulai. Langkah pertama yang dilakukan para pelaku adalah menyita ponsel milik korban secara paksa.

Tindakan penyitaan ponsel ini diduga dilakukan agar korban tidak memiliki akses untuk menghubungi siapa pun atau meminta pertolongan darurat. Korban benar-benar terisolasi di bawah ancaman ketiga pelaku.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, pemicu awal dari pengeroyokan ini adalah masalah asmara. Adu mulut sempat terjadi sesaat sebelum kekerasan fisik benar-benar pecah.

Situasi dengan cepat memanas dan berubah menjadi aksi pengeroyokan yang brutal. Tanpa rasa iba, ketiga pelaku mulai melancarkan serangan fisik secara bergantian kepada korban yang tak melawan.

Rambut korban ditarik dengan kasar hingga ia kehilangan keseimbangan. Tidak berhenti di situ, pukulan demi pukulan mendarat di tubuh remaja malang tersebut.

Salah satu bagian paling menyedihkan dari kronologi ini adalah saat para pelaku menendang bagian perut korban. Korban yang sudah tersungkur di tanah tidak diberikan kesempatan untuk membela diri.

Bahkan, tubuh korban sempat dibanting ke tanah dengan keras. Benturan tersebut menyebabkan kepala korban mengalami pening luar biasa dan rasa nyeri yang hebat.

Saat korban berusaha untuk bangkit kembali, salah seorang pelaku justru menyorotkan cahaya senter tepat ke wajahnya. Dalam kondisi silau dan bingung itulah, pukulan kembali mendarat di wajah korban.

"Saat dia berusaha bangun, wajahnya disenter lalu dipukul lagi," ungkap R dengan nada suara yang penuh kesedihan saat menceritakan kembali penderitaan anaknya.

Setelah merasa puas melampiaskan amarah, para pelaku meninggalkan korban begitu saja dalam keadaan syok berat. Korban yang ketakutan memilih bersembunyi di rumah temannya terlebih dahulu sebelum berani pulang ke rumah.

Baca juga: Siswa SMA Gorontalo Korban Penganiayaan Alami Trauma Berat, Takut Keluar Rumah dan Sering Menangis

Ortu Korban Tolak Berdamai

SISWA DIKEROYOK -- R, orang tua siswa SMA di Kota Gorontalo saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Sabtu (24/1/2026). R bercerita tentang anaknya yang diduga dikeroyok oleh tiga remaja perempuan. (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga)
SISWA DIKEROYOK -- R, orang tua siswa SMA di Kota Gorontalo saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Sabtu (24/1/2026). R bercerita tentang anaknya yang diduga dikeroyok oleh tiga remaja perempuan. (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga) (TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Setelah kejadian terungkap, pihak keluarga segera melakukan tindakan medis dan visum. Hasilnya mengonfirmasi adanya luka lebam di sekujur tubuh serta guncangan jiwa yang masuk kategori trauma berat.

Pihak sekolah sebenarnya tidak tinggal diam dan mencoba memediasi pertemuan antar orang tua siswa. Namun, di sinilah kekecewaan keluarga korban semakin memuncak.

Ibu korban, R, mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut, ia tidak melihat adanya itikad baik atau permintaan maaf yang tulus dari pihak pelaku.

Lebih mengecewakan lagi, R menyebutkan bahwa salah satu orang tua pelaku berprofesi sebagai guru. Namun, oknum pendidik tersebut justru disinyalir melakukan pembelaan berlebihan terhadap tindakan anaknya.

Hal inilah yang membuat R merasa jalur kekeluargaan atau perdamaian tidak akan pernah memberikan keadilan yang setimpal bagi penderitaan anaknya.

"Saya tidak ingin ada damai karena harus ada efek jera agar kejadian serupa tidak terulang," tegas R dengan penuh kemantapan hati.

Kini, kondisi korban sangat memprihatinkan. Remaja kelas XI itu dilaporkan menarik diri sepenuhnya dari lingkungan sosial dan sering menangis secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.

Bahkan saat dibawa ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), sesi asesmen harus dihentikan. Korban histeris dan tidak sanggup memberikan keterangan kepada psikiater karena rasa takut yang masih menghantui.

 

(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved