Polemik RS Multazam
Kronologi Ibu Hamil Protes ke RS Multazam! Bayar Rp 2 Juta untuk ERACS tapi Malah Dioperasi Cesar
Seorang ibu rumah tangga berinisial SRO menyampaikan pengalamannya terkait proses persalinan yang dijalaninya di RS Multazam Gorontalo.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/POLEMIK-Tampak-depan-RS-Multazam-yang-dituding-Wali-Kota-Gorontalo-to.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Seorang ibu rumah tangga berinisial SRO menyampaikan pengalamannya terkait proses persalinan yang dijalaninya di RS Multazam Gorontalo.
Ia mengaku mengalami perbedaan antara layanan persalinan yang ia pahami sebelumnya dengan tindakan medis yang akhirnya dilakukan.
Kepada TribunGorontalo.com, SRO menuturkan bahwa sejak awal kehamilan ia berencana melahirkan dengan metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS).
Pilihan tersebut diambil karena pengalaman persalinan sebelumnya yang menurutnya cukup traumatis.
Baca juga: 99 Ribu Pegawai SPPG MBG Akan Diangkat PPPK BGN 2026, Ini Jadwal dan Kriterianya
Menurut penuturannya, ia kemudian berkonsultasi dengan seorang dokter berinisial AW yang disebut-sebut menangani persalinan dengan metode ERACS.
Ia menyatakan telah menyampaikan secara jelas keinginannya untuk menjalani persalinan menggunakan metode tersebut.
SRO menjelaskan bahwa ia diarahkan untuk menjalani pemeriksaan antenatal care (ANC) sebagai bagian dari prosedur BPJS.
Sementara itu, biaya ERACS sebesar Rp2,2 juta disebut harus dibayarkan secara mandiri.
Ia mengaku tetap mengikuti seluruh tahapan yang diminta meski menghadapi sejumlah kendala selama proses ANC.
Pada 7 Desember 2025, SRO masuk ke RS Multazam Gorontalo sebagai pasien BPJS kelas 1.
Ia menyebut telah menandatangani persetujuan tindakan medis (informed consent) untuk persalinan dengan metode ERACS.
Menurut pengakuannya, pada awal perawatan ia sempat ditempatkan di ruang perawatan kelas 3 sebelum akhirnya mendapatkan kamar sesuai kelas BPJS.
Malam sebelum operasi, biaya ERACS disebut telah dibayarkan dan ia menjalani prosedur puasa sesuai penjelasan yang diterimanya.
Keesokan harinya, 8 Desember 2025, tindakan operasi dilakukan. Namun, setelah sadar pascaoperasi, SRO mengaku merasakan nyeri yang berat dan berbeda dari pemahamannya mengenai pemulihan cepat pada metode ERACS.
Ia menuturkan bahwa pada malam hari setelah operasi, seorang petugas medis menyampaikan bahwa tindakan yang dilakukan adalah sectio caesarea (SC) konvensional, bukan ERACS, dan biaya ERACS kemudian dikembalikan.