Kebakaran di Gorontalo
Kesaksian Irfan Botutihe Korban Kebakaran di Dulalowo Gorontalo, Rumah Nyaris Jadi Abu
Irfan Botutihe menceritakan pengalamannya saat kebakaran di Jalan Madura, Kelurahan Dulalowo, Kecamatan Kota Tengah
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Irfan-Botutihe-warga-Kelurahan-Dulalowo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Irfan Botutihe menceritakan pengalamannya saat kebakaran di Jalan Madura, Kelurahan Dulalowo, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo.
Irfan mengaku saat peristiwa terjadi dirinya tidak berada di rumah. Ia sedang berada di Kecamatan Sipatana ketika sebuah panggilan telepon dari keluarga membuatnya terkejut.
Kabar yang diterima singkat: rumahnya terbakar.
“Akhirnya saya dari sana (Sipatana) langsung ke sini, dan melihat api di sebelah sini mulai membesar,” ujarnya saat diwawancarai eksklusif TribunGorontalo.com, Rabu (17/12/2025).
Sesampainya di lokasi, kepanikan langsung menyelimuti dirinya. Api tampak berkobar di rumah sebelah yang berbatasan langsung dengan kediamannya.
Dalam kondisi cemas, Irfan berupaya masuk ke rumah untuk menyelamatkan barang-barang berharga yang masih bisa diamankan. Namun niat tersebut tak berjalan mulus. Petugas TNI yang berada di lokasi melarangnya masuk demi keselamatan.
“Katanya jangan masuk, biar mereka saja yang menyelamatkan barang-barang tersebut,” ungkapnya.
Di tengah situasi kacau, Irfan juga diliputi kecemasan lain. Ia mengaku tidak mengetahui keberadaan istri dan dua anaknya. Padatnya warga di sekitar lokasi membuat komunikasi terputus.
“Pikiran sudah kacau, istri dan anak-anak juga tidak tahu ada di mana,” tuturnya.
Rumah yang hampir dilalap api itu selama ini juga difungsikan Irfan sebagai bengkel mobil. Ia bersyukur, saat kejadian tidak ada kendaraan pelanggan yang terparkir di depan rumah.
Beruntung, sebagian besar barang di lantai satu masih bisa diselamatkan. Namun kondisi berbeda terjadi di lantai dua.
“Lantai dua habis. Kalau di atas ada ijazah dari SD sampai SK kerja anak saya dan seluruh perlengkapan,” katanya lirih.
Ia menjelaskan, di lantai dua terdapat dua kamar yang seluruh isinya tak terselamatkan. Dokumen penting dan barang pribadi keluarga menjadi korban amukan si jago merah.
Pasca kejadian, Irfan memilih bermalam di rumah kerabat karena kondisi rumah belum memungkinkan untuk ditempati. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena rumahnya tidak rusak total.
“Bersyukur rumah tidak ludes, hanya lantai dua dan sisi rumah sebelah timur yang rusak karena berbatasan langsung dengan rumah yang ludes,” ujarnya.