Gorontalo Hari Ini
23 Tahun Jadi Guru, Kepala SDN 89 Gorontalo Zenab Moka Soroti Perubahan Perilaku Siswa
Zenab lantas menceritakan perubahan pola belajar, relasi, dan perilaku siswa yang ia saksikan selama 23 tahun mengajar.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sosok-Zenab-Moka.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Zenab Moka, seorang pendidik yang memulai kariernya pada tahun 2002.
Ia kini menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 89 Sipatana, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo, berbagi kisah perjalanan panjangnya di dunia pendidikan.
Zenab lantas menceritakan perubahan pola belajar, relasi, dan perilaku siswa yang ia saksikan selama 23 tahun mengajar.
Lantas, siapa Zenab Moka?
Zenab lahir di Gorontalo pada 11 Januari 1969 dan saat ini menetap di Kelurahan Wumialo, Kecamatan Kota Tengah, bersama suaminya, Djaini Mosi.
Ia memiliki seorang putri yang telah menamatkan pendidikan di Jurusan Keperawatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Perjalanan Karier Zenab
Kariernya dimulai pada 2002 sebagai guru IPA di SDN 4 Kota Timur. Setelah itu, ia mengajar di berbagai jenjang kelas, mulai dari kelas enam, kelas satu, hingga kelas empat.
“Waktu baru mulai mengajar, saya masih banyak menyesuaikan diri. Tetapi semakin dijalani, saya makin yakin bahwa memang ini profesi yang cocok untuk saya,” ungkapnya.
Zenab menempuh jalur pendidikan yang berjenjang, mulai dari lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG), melanjutkan ke D2 PGSD, dan akhirnya menyelesaikan S1 Bimbingan dan Konseling.
Tahun 2020 menjadi titik balik dalam kariernya ketika ia menerima Surat Keputusan (SK) sebagai Kepala Sekolah. Ia pertama kali ditugaskan di SDN 99 Kota Utara, sebelum dipindahkan ke SDN 89 Sipatana pada tahun 2023.
“Sekarang sudah tiga tahun saya memimpin sekolah ini,” katanya.
Saat ini, SDN 89 Sipatana didukung oleh lima Aparatur Sipil Negara (ASN), empat Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), dan satu PPPK paruh waktu.
Dalam rangka Hari Guru Nasional, Zenab sering memberikan motivasi dan penghargaan kepada rekan-rekan guru.
“Di Hari Guru Nasional ini kami banyak kegiatan, mulai dari ziarah ke makam guru yang pernah mengajar di sini, kemudian upacara yang dilaksanakan oleh guru-guru, dan pembagian hadiah kepada guru idola,” jelasnya.
Baca juga: Belum Dapat BLTS Kesra Rp900 Ribu? Ikuti Langkah Ini untuk Memastikan Status Penerima!
Alasan Memilih Profesi Guru
Ketika ditanya alasan memilih profesi guru, Zenab mengaku hal itu bukan keputusan instan. Meskipun mulanya terdorong oleh prospek kerja cepat bagi lulusan SPG, ia mengakui bahwa kecintaannya pada anak-anak telah lama menjadi cita-citanya.
“Dulu saya suka dengan anak-anak, jadi dari situ cita-cita saya ingin jadi guru,” jelasnya. Ia menambahkan, dorongan orang tua adalah faktor utama yang membuatnya bisa bertahan di jalur pendidikan.
Zenab masih mengingat betul suasana awal kariernya. Ia menilai perubahan perilaku siswa serta pola relasi antara guru dan orang tua sangat terasa dibandingkan tahun-tahun awal ia mengajar.
“Dulu itu siswa sangat menghargai guru. Kalau bertemu di jalan, mereka cepat memberi salam. Itu bukan karena takut dimarahi, tetapi karena guru dihormati,” katanya.
Ia membandingkan dengan kondisi saat ini yang dinilainya lebih santai.
“Sekarang anak-anak lebih santai menyapa. Ada yang bilang ‘Halo Bu’ seperti teman sebaya. Kadang lucu, tapi itu menunjukkan pergeseran budaya. Selain itu, hubungan guru dan orang tua pun berubah. Kalau dulu orang tua selalu mendukung guru saat menegur anak, sekarang justru guru harus sangat hati-hati berbicara,” jelasnya.
Meski menghadapi tantangan baru, Zenab menegaskan tidak pernah berniat meninggalkan profesinya.
“Selama saya mengajar, saya tidak pernah merasa ingin berhenti. Tantangan itu ada, tapi justru itu yang membuat saya merasa punya tanggung jawab mendampingi anak-anak ini,” ujarnya.
Baginya, pendidikan jauh melampaui mata pelajaran, melainkan tentang nilai dan karakter.
“Kalau anak-anak bisa menghormati guru, menghargai orang lain, tahu tata krama, itu sudah pencapaian besar. Sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung, tapi tempat membentuk sikap,” tutupnya.
(TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.