Profil Pejabat Gorontalo
Kisah Ipda Abdul Wahid Harmain, Kasubsiluhkum Polres Gorontalo: Pelayanan Masyarakat adalah Ibadah
Abdul Wahid Harmain kini mengemban amanah sebagai Kepala Sub Seksi Penyuluhan Hukum (Kasubsiluhkum) di Polres Gorontalo.
Penulis: Fajri A Kidjab | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ipda-Abdul-Wahid-Harmain.jpg)
Ringkasan Berita:
- Abdul Wahid memulai sebagai Bintara tahun 1999/2000, bertugas di berbagai satuan dan polsek selama 25 tahun sebelum lulus pendidikan alih golongan menjadi perwira pada 2024
- Kini ia menjabat Kepala Sub Seksi Penyuluhan Hukum (Kasubsiluhkum) di Polres Gorontalo, berada di bawah Fungsi Hukum (Sikum)
- Ia mengingatkan warga agar lebih waspada terhadap potensi pencurian saat rumah ditinggalkan untuk ibadah, dengan memastikan pintu dan jendela terkunci rapat
TRIBUNGORONTALO.COM – Ipda Abdul Wahid Harmain kini mengemban amanah sebagai Kepala Sub Seksi Penyuluhan Hukum (Kasubsiluhkum) di Polres Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Ipda adalah singkatan dari Inspektur Polisi Dua, yaitu salah satu pangkat perwira pertama di Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Pangkat ini berada setingkat di atas Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) dan di bawah Inspektur Polisi Satu (Iptu).
Adapun jabatan Kasubsiluhkum merupakan singkatan dari Kepala Sub Seksi Penyuluhan Hukum. Jabatan yang diemban Ipda Abdul berada di bawah satuan Fungsi Hukum (Sikum) di tingkat Kepolisian Resor (Polres).
Ipda Abdul memulai segalanya dari bawah, sebagai seorang Bintara lulusan tahun 1999/2000. 25 tahun sudah ia habiskan mengenakan seragam cokelat dengan berbagai dinamika penugasan.
Awal kariernya ditempa di satuan Sabhara Polres Gorontalo selama kurang lebih dua setengah tahun.
Setelah itu, Ipda Abdul merasakan rotasi ke wilayah yang kini telah berkembang, yakni Polsek Marisa.
Penugasan di Marisa terjadi sebelum adanya pemekaran wilayah Kabupaten Boalemo dan Pohuwato.
Wahid kemudian ditarik kembali ke markas induk di Polres Gorontalo, tetap di fungsi Sabhara.
Dinamika mutasi membawanya ke Polsek Telaga Biru, tempat ia mengabdi cukup lama, yakni tujuh tahun.
Pengalaman di lapangan semakin kaya saat ia dipercaya menjadi Kanit Penyidik di Polsek Batudaa Pantai.
Dua setengah tahun ia habiskan di pesisir tersebut sebelum pindah ke Polsek Batudaa sebagai Kanit Reskrim. Kemampuan reserse dan penyidikan menjadi bagian penting dalam rekam jejak profesionalnya selama di sana.
Setelah dua setengah tahun di Batudaa, ia bergeser ke Polsek Limboto untuk bertugas di bagian SPKT. Tujuh tahun lamanya ia menjadi garda depan pelayanan laporan masyarakat di wilayah pusat pemerintahan tersebut.
Tahun 2024 menjadi tonggak baru baginya setelah dinyatakan lulus dalam pendidikan alih golongan ke perwira.
Kini, dengan pangkat perwira, ia kembali ke Polres Gorontalo untuk fokus pada bidang hukum.
Baca juga: Sosok Angeline Alkatiri Halilović, Wakil Gorontalo di Ajang Puteri Indonesia 2026
Pendidikan dan Keluarga
Ipda Abdul lahir di Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, namun telah menetap di Limboto bersama keluarganya.
Ia menikah dengan Sulastri Taha pada tahun 2013 dan telah dikaruniai tiga orang anak.
Anak sulungnya kini duduk di kelas 6 SD, yang kedua kelas 1 SD, dan yang bungsu baru berusia satu tahun.
Kesibukan sebagai personel Polri diakuinya sering kali menyita waktu kebersamaan dengan keluarga.
"Ya, kurang pintar-pintar membagi waktu dengan keluarga," ujar Ipda Abdul saat ditemui TribunGorontalo.com di sela-sela mengawasi pembangunan pos pengamanan Hari Raya Idulfitri di bawah Menara Keagungan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Rabu (11/3/2026).
Di bulan Ramadan, rutinitasnya sedikit bergeser dengan jadwal apel pagi pada pukul 08.00 Wita.
Meski dalam keadaan berpuasa, ia memandang tugas melayani masyarakat sebagai bentuk ibadah tambahan.
"Pelayanan masyarakat itu adalah ibadah juga," bebernya.
Baginya, panas terik saat mengatur lalu lintas atau berjaga adalah bagian dari penguatan kesabaran. Ada kalanya ia harus berjaga sendirian di pos pengamanan atau perempatan jalan.
Dalam kesendirian itu, ia sering merenungkan tanggung jawab besar yang diemban seorang polisi. Ia lebih menyukai bekerja dalam tim atau buddy system agar ada rekan untuk bertukar pikiran.
Dari sekian banyak tugas, ada satu memori yang sulit ia lupakan, yakni penanganan kasus bunuh diri tahun lalu.
Kala itu, ia harus menempuh perjalanan mendaki pegunungan sejauh lima kilometer.
Medan yang berat membuatnya harus berjalan kaki hingga mengalami sesak napas atau "ngos-ngosan". Namun, bagi Wahid, itulah risiko pekerjaan yang harus dituntaskan demi melayani laporan warga.
Pesan bagi Masyarakat di Bulan Ramadan
Baca juga: Sosok Vecky van Gobel, Eks Juru Sita Pengadilan Gorontalo Kini Jadi Sopir Bentor
Sebagai perwira di bidang hukum, Ipda Abdul kini lebih jeli melihat potensi kerawanan kriminalitas di lingkungannya.
Terutama di bulan suci ini, ia menaruh perhatian besar pada pola kejahatan yang sering memanfaatkan kelengahan warga.
Ia mencermati bahwa momen ibadah sering kali menjadi celah bagi pelaku tindak kriminal untuk beraksi.
"Bila masyarakat ingin beribadah, apalagi di bulan puasa begini, tolong diperiksa lagi keamanan rumah," pesannya.
Salah satu kerawanan utama yang ia soroti adalah saat warga berbondong-bondong melaksanakan salat Tarawih di masjid.
Kondisi rumah yang ditinggalkan dalam keadaan kosong tanpa penghuni adalah sasaran empuk bagi pelaku pencurian.
Wahid mengingatkan bahwa pelaku kejahatan sering memantau situasi lingkungan yang sepi saat jam ibadah berlangsung. Kasus-kasus pembongkaran rumah sering kali berawal dari kelalaian hal-hal kecil seperti jendela yang lupa diselot.
Oleh karena itu, ia meminta masyarakat untuk memastikan seluruh akses masuk benar-benar terkunci rapat.
"Harapan kami kepada masyarakat, tolong diperhatikan baik itu dari pintu maupun jendela, tetap dikunci," tegas Wahid.
Pengecekan ulang secara berlapis sebelum meninggalkan rumah dianggapnya sebagai langkah pencegahan paling efektif. Ia juga menyarankan agar warga tidak meninggalkan barang berharga di tempat yang mudah terlihat dari luar rumah.
Kewaspadaan ini bukan bermaksud menakut-nakuti, melainkan untuk memberikan rasa tenang saat menjalankan ibadah. Sebab, menurutnya, keamanan adalah tanggung jawab bersama antara kepolisian dan kesadaran masyarakat itu sendiri.
Bagi Wahid, menjaga marwah polisi bukan sekadar soal penegakan hukum, tapi juga memberikan edukasi preventif seperti ini.
Sebagai senior, ia juga selalu mengingatkan polisi muda untuk tetap disiplin dan menjauhi pelanggaran moral maupun narkoba. Ia berharap melalui pesan-pesan kecil ini, masyarakat Kabupaten Gorontalo bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk.
Wahid menutup pesannya dengan harapan agar situasi di wilayah hukum Polres Gorontalo tetap kondusif hingga Idulfitri tiba. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.