Rabu, 11 Maret 2026

Warga Gorontalo Hanyut

Sosok Sumitra Isini Korban Hanyut di Gorontalo, Dikenal Baik dan Pendiam

Di tengah upaya pencarian yang masih berlangsung, sosok Sumitra Isini (26) tergambar melalui kesaksian orang-orang terdekatnya.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Sosok Sumitra Isini Korban Hanyut di Gorontalo, Dikenal Baik dan Pendiam
Facebok
KORBAN HANYUT -- Kolase foto Sumitra Isini, korban hanyut bersama anaknya di Sungai Paguyaman, Kabupaten Gorontalo. Sumitra dikenal pendiam. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Di tengah upaya pencarian yang masih berlangsung, sosok Sumitra Isini (26) tergambar melalui kesaksian orang-orang terdekatnya.

Ibu rumah tangga yang hanyut bersama anaknya, Akbar Diangi (9), di Sungai Motoduto, dikenang sebagai pribadi baik, pendiam, dan penuh kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Kepala Desa Motoduto, Djafar Ujaili, menyebut Sumitra dan anaknya merupakan warga Desa Ambara, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo.

Namun, mereka telah lama menetap di Desa Motoduto dan memiliki lahan jagung di sana.

“Korban tragedi hanyut itu adalah masyarakat Desa Ambara, tapi mereka sudah tinggal di Desa Motoduto karena ada keluarganya di sini,” ujar Djafar, Selasa (6/1/2025).

Meski berstatus pendatang, Sumitra dikenal dekat dengan warga sekitar. Djafar bahkan mengaku sangat mengenal korban secara pribadi karena lokasi rumah mereka berdekatan.

“Mereka tinggal di belakang rumah saya,” ungkapnya.

Di mata Djafar, Sumitra bukan sekadar warga biasa. Ia menilai korban sebagai sosok yang tulus membantu tanpa diminta.

“Korban ini orang baik,” katanya singkat.

Kebaikan Sumitra kerap terlihat dalam aktivitas sehari-hari. Djafar menuturkan, korban sering memanen pisang miliknya dan langsung menyerahkan hasilnya.

“Pisang saya di kebun dekat rumahnya kalau sudah bisa panen, akan dibawa oleh korban ke rumah saya, tanpa saya perintah. Orangnya baik,” kenang Djafar.

Tak hanya itu, Sumitra juga dikenal aktif membantu dalam kegiatan sosial warga.

“Kalau ada pesta, korban sering bantu di dapur. Nanti selesai pesta baru pulang ke rumahnya,” lanjutnya.

Djafar menjelaskan, insiden hanyut yang menimpa Sumitra dan anaknya terjadi saat mereka sedang memanen jagung. Kedua korban terseret arus Sungai Motoduto hingga masuk ke Sungai Paguyaman yang merupakan aliran utama.

Ia mengaku belum bisa memastikan apakah kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut.

“Saya juga belum lama di Motoduto. Entah ini kejadian pertama atau sudah pernah terjadi sebelumnya, saya belum bisa pastikan,” katanya.

Meski demikian, Djafar terus mengingatkan warganya untuk waspada, terutama saat beraktivitas di sekitar sungai.

Baca juga: Hari ke-4 Pencarian Korban Hanyut di Sungai Paguyaman, Basarnas Gorontalo Ungkap Kondisi Lokasi

Kenangan dari Keluarga

Dari pihak keluarga, tante korban, Asna Diangi (43), mengenang Sumitra sebagai sosok pendiam dan tidak banyak bicara.

“Orangnya baik dan pendiam. Kalau diajak cerita baru mau bicara,” ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Minggu (4/1/2026).
Asna mengungkapkan, sebelum kejadian, Sumitra sempat melakukan video call dengan keluarga di Desa Ambara. Dalam panggilan itu, korban memperlihatkan kondisi neneknya dan menyampaikan rencana setelah panen jagung.

“Masih sempat VC lihat kondisi Oma (nenek) yang di sini,” kata Asna. “Kami belum sempat ke Ambara. Insya Allah besok kami panen jagung,” lanjutnya menirukan ucapan korban.
Video call tersebut menjadi komunikasi terakhir keluarga dengan Sumitra sebelum ia dinyatakan hanyut.

Hingga memasuki hari keempat, Sumitra dan Akbar masih dalam pencarian tim SAR gabungan. Keluarga hanya bisa berharap proses pencarian segera membuahkan hasil.

“Semoga pencarian korban dan anaknya segera mendapat titik terang,” harap Asna.

Kronologi

Menurut Kasi Humas Polres Gorontalo, AKP Wawan Suryawan, kejadian bermula pada Sabtu (3/1/2026) sekitar pukul 15.00 Wita.

Polsek Boliyohuto menerima laporan dari masyarakat terkait adanya orang terbawa arus sungai di Desa Motoduto.

Dalam peristiwa ini, terdapat tiga korban. Satu orang berhasil selamat, sementara dua lainnya masih dalam pencarian.

Korban selamat adalah Yasin Isini (50), seorang petani asal Desa Ambara, Kecamatan Bongomeme, Kabupaten Gorontalo.

Sedangkan dua korban yang hingga kini belum ditemukan masing-masing adalah Sumitra Isini (26) dan anaknya, Akbar Diangi (9), yang juga berasal dari Desa Ambara.

Berdasarkan keterangan saksi, Putri Yunus Abusali (28), peristiwa bermula sekitar pukul 14.30 Wita. 

Saat itu ia bertemu dengan Yasin, Sumitra, dan Akbar di Sungai Motoduto.

“Ketiganya baru saja pulang dari kebun jagung dan hendak kembali ke rumah mereka di Desa Motoduto,” ujar Wawan.

Melihat kondisi air sungai yang terus meninggi dan arus semakin deras, saksi sempat menyarankan agar mereka segera menyeberang lebih awal.

Namun, meski arus terlihat kuat, ketiganya tetap memutuskan untuk menyeberang.

Dalam upaya menyeberang, posisi mereka diatur berurutan. Yasin berada di depan, diikuti Sumitra, sementara Akbar berada di belakang.

Ketiganya menyeberang sambil saling berpegangan tangan. Masalah muncul ketika mereka sudah berada di tengah sungai. Akbar tiba-tiba berteriak memanggil ibunya karena tidak mampu menahan derasnya arus.

Mendengar teriakan itu, Sumitra melepaskan pegangan tangannya dari Yasin untuk menolong anaknya.

Namun, arus sungai yang deras tidak mampu dibendung. Akibatnya, ketiganya terpisah dan terseret arus Sungai Motoduto. Dalam kondisi kritis, Yasin masih sempat menyelamatkan diri dengan memegang batang kayu di pinggiran sungai.

“Yasin berhasil selamat karena sempat berpegangan pada batang kayu di tepi sungai,” terang Wawan.

Yasin kemudian naik ke daratan, sementara Sumitra dan Akbar sudah tidak terlihat lagi terbawa arus.

Keterangan Yasin menguatkan bahwa saat di tengah sungai, pegangan mereka terlepas dan arus deras langsung menyeret Sumitra serta Akbar menjauh.

Usai kejadian, personel Polsek Boliyohuto bersama Koramil dan Pemerintah Kecamatan Boliyohuto, dibantu masyarakat setempat, langsung melakukan pencarian.

Tim Basarnas tiba di lokasi sekitar pukul 19.30 Wita dan segera bergabung dalam operasi SAR.

Pencarian difokuskan di titik terakhir korban terlihat, dengan menyusuri aliran Sungai Motoduto hingga Sungai Besar Paguyaman.

Dalam penelusuran, tim menemukan dua potong pakaian yang diduga milik korban. Celana jin berwarna biru diketahui milik Akbar, sedangkan kemeja cokelat milik Sumitra.

Namun hingga pukul 21.30 Wita, kedua korban belum berhasil ditemukan.

Operasi pencarian terpaksa dihentikan sementara karena kondisi lapangan tidak memungkinkan serta minimnya pencahayaan.

Pencarian dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Minggu pagi pukul 06.30 Wita dengan melibatkan seluruh unsur tim SAR gabungan dari Polres Gorontalo, Polsek Boliyohuto, Basarnas, dan Koramil Boliyohuto.

Pihak keluarga korban juga turut membantu proses pencarian, termasuk suami Sumitra, Rinto Dayangi.

Kepala Desa Motoduto, Djafar Ujaili, membenarkan bahwa korban bersama suaminya memang berdomisili di Desa Motoduto.

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Rabu, 11 Maret 2026 (21 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:30
Subuh 04:40
Zhuhr 12:01
‘Ashr 15:08
Maghrib 18:04
‘Isya’ 19:12

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved