Festival Walima Gorontalo
Filosofi Kue Kolombeng, Kudapan Pelengkap Perayaan Maulid Nabi di Gorontalo
Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gorontalo, masyarakat selalu merayakannya dengan tradisi unik bernama Walima atau Tolangga.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kue-kolombeng-di-Masjid-At-Taqwa-Desa-Bongo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gorontalo, masyarakat selalu merayakannya dengan tradisi unik bernama Walima atau Tolangga.
Tradisi turun-temurun ini diwujudkan dengan arak-arakan wadah besar berisi aneka kue dan makanan, lalu dibawa menuju masjid untuk kemudian dibagikan kepada para pedzikir.
Tolangga sendiri dibuat dengan bentuk beragam, mulai dari replika perahu, masjid, hingga kerucut.
Seluruh wadah itu menghiasi makanan khas Gorontalo, seperti nasi kuning, cucur, pisang, ayam goreng, hingga kue tradisional yang jumlahnya sangat banyak.
Namun, ada satu kue yang paling menonjol di Tolangga, yakni Kue Kolombengi.
Hampir setiap Tolangga selalu dipenuhi kue ini, meski disandingkan dengan berbagai jenis kue lokal lainnya.
Tokoh masyarakat sekaligus pengurus masjid, Yohan Arbie, menjelaskan bahwa kue Kolombengi memiliki makna filosofis tersendiri bagi masyarakat Gorontalo.
“Kolombengi itu dia dari berbagai macam adonan, artinya berbagai macam pikiran menyatu dalam pelaksanaan Maulid Nabi,” jelas Yohan kepada TribunGorontalo.com, Minggu (7/9/2025).
Selain itu, bentuk Tolangga yang sering dibuat mengerucut pun sarat akan makna religius.
Menurut Yohan, kerucut tersebut melambangkan tujuan hidup yang hanya satu, yakni meraih keridhaan Allah SWT.
“Bentuk Tolangga yang mengerucut itu memiliki arti bahwa tujuan hidup hanya satu, yakni mencari keridhaan Allah SWT,” ungkapnya.
Tahun ini, Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, menjadi pusat pelaksanaan Walima dengan menghadirkan 115 Tolangga.
Seluruhnya kemudian dibagikan kepada 117 pedzikir yang melantunkan zikir di Masjid At-Taqwa.
Yohan menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya bernilai adat, tetapi juga sarat dengan makna keagamaan.
“Ini bukan kemeriahan dan kemewahannya, tapi kami cinta Rasul, sehingga kami melakukan yang terbaik di hari kelahiran Nabi,” tegasnya.
Baca juga: Kapan Puncak Gerhana Bulan Total di Gorontalo? Ini Penjelasan BMKG