Demo Mahasiswa Gorontalo
Warganet Soroti Kericuhan Demo di Perlimaan Gorontalo 'So Bukan Mahasiswa Lagi'
Kericuhan demo di Perlimaan Telaga, Kabupaten Gorontalo, pada Senin (1/9/2025) menuai sorotan tajam dari warganet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Massa-aksi-terlibat-bentrok-dengan-polisi-yang-mengamankan-demonstrasi.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Kericuhan demo di Perlimaan Telaga, Kabupaten Gorontalo, pada Senin (1/9/2025) menuai sorotan tajam dari warganet.
Melalui siaran langsung Facebook TribunGorontalo.com, ratusan komentar menyayangkan bentrokan yang terjadi pada pukul 18.00 Wita.
Banyak warganet yang menunjukkan empati terhadap aparat.
"Kasihan juga ini aparat kepolisian, mereka juga punya anak istri," tulis salah satu akun.
Komentar lain menyoroti provokator kericuhan, "So bukan mahasiswa lagi itu, so orang luar."
Ada juga yang meminta para pendemo untuk tidak memicu perselisihan.
"Demo seperti ini tidak perlu. Lebih baik pulang saja dan amankan diri, karena Gorontalo sudah damai dan tidak ada yang perlu diributkan," pinta warganet.
Awalnya, unjuk rasa yang digelar oleh ratusan mahasiswa dari Aliansi Cipayung Plus Gorontalo di Perlimaan Telaga berlangsung damai.
Baca juga: Demo Ricuh, Belasan Mahasiswa Gorontalo Diamankan Polisi
Namun, situasi berubah tegang saat hari mulai gelap. Massa aksi menolak membubarkan diri dan terlibat bentrok dengan aparat.
Kericuhan terjadi ketika sejumlah pengunjuk rasa mulai melempar batu ke arah barikade polisi.
Aparat pun merespons dengan mengerahkan kendaraan water canon untuk memukul mundur massa.
Aksi saling kejar pun tak terhindarkan, polisi sontak mengejar mahasiswa yang diduga menjadi biang kerok kericuhan.
Beberapa mahasiswa berhasil diamankan dan langsung dibawa ke kantor polisi.
Kontras dengan titik aksi lain
Berbeda dengan situasi di Telaga, unjuk rasa yang digelar Aliansi Merah Maron di Bundaran Saronde justru berakhir damai.
Gubernur Gusnar Ismail, Wakil Gubernur Idah Syaidah, Ketua DPRD Thomas Mopili, dan Kapolda Gorontalo Irjen Pol Widodo langsung menemui pengunjuk rasa.
Aksi yang didominasi mahasiswa UNG ini awalnya berlangsung tegang.
Setelah berorasi selama dua jam, massa memberikan ultimatum. "Kami tunggu 10 menit untuk berada di sini," kata Presiden BEM UNG, Surya Reska Umar, dari atas mobil komando.
Baca juga: Bentrok dengan Polisi, Mahasiswa Gorontalo Kabur ke Dalam Kampus
Setelah ultimatum diberikan, para pejabat hadir, namun sempat ada tarik-menarik.
Mereka awalnya hanya berdiri sekitar 10 meter dari kerumunan, sementara suasana aksi semakin panas dengan kepulan asap dari ban bekas yang dibakar.
Beberapa mahasiswa bahkan sempat berdebat dengan polisi, menolak pertemuan yang dianggap menjaga jarak.
Ketegangan akhirnya mereda setelah keempat pimpinan daerah tersebut memutuskan untuk duduk bersila di tengah jalan, mendengarkan tuntutan para pengunjuk rasa secara langsung.
Tindakan ini berhasil menunjukkan niat baik pemerintah dan mengakhiri aksi dengan damai.
(Tribungorontalo.com/ht/fk)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.