Senin, 20 April 2026

Berita Internasional

Perang Tanpa Peluru, AS dan Iran Saling Cekik Ekonomi di Selat Hormuz

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki fase baru, dari serangan militer langsung menjadi perang tekanan ekonomi

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Perang Tanpa Peluru, AS dan Iran Saling Cekik Ekonomi di Selat Hormuz
TRIBUNFLORES.COM
SELAT -- Potret Selat Hormuz dan kapal tengker yang ditahan tak bisa lewat. 

Ringkasan Berita:
  • Konflik AS dan Iran kini bergeser menjadi perang blokade yang menargetkan jalur ekonomi dan perdagangan. 
  • AS berupaya menekan Iran dengan memutus ekspor minyak, sementara Iran memiliki pengaruh strategis di Selat Hormuz
  • Para analis berbeda pendapat soal siapa yang akan lebih dulu menyerah, di tengah risiko dampak besar terhadap ekonomi global.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki fase baru, dari serangan militer langsung menjadi perang tekanan ekonomi melalui blokade.

Kedua negara saling mengunci jalur perdagangan vital, memunculkan pertarungan siapa yang lebih kuat menahan dampak ekonomi.

Presiden AS Donald Trump menerapkan larangan bagi kapal dagang untuk mengakses pelabuhan Iran.

Strategi ini bertujuan memutus ekspor minyak, yang menjadi tulang punggung pendapatan negara tersebut, sehingga diharapkan dapat memaksa Teheran menerima syarat penghentian konflik dari Washington.

Trump mengklaim kebijakan tersebut berjalan efektif, dengan menyebut tidak ada kapal yang berani mendekati wilayah yang dijaga armada laut AS.

Baca juga: Kesbangpol Boalemo Gorontalo Gelar Seleksi TWK dan TIU bagi 160 Calon Paskibraka 2026

Namun, efektivitas blokade di kawasan Teluk Oman masih menjadi perdebatan, terutama karena Iran memiliki pengaruh besar di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi energi global.

Konflik ini berlangsung di tengah masa gencatan senjata dua minggu dalam perang yang turut melibatkan Israel.

Secara keseluruhan, ribuan korban jiwa telah jatuh, termasuk di Iran, negara-negara Teluk, serta militer Amerika Serikat.

Di sisi lain, konflik paralel antara Israel dan kelompok Hezbollah juga menambah jumlah korban sebelum akhirnya dicapai kesepakatan penghentian sementara.

Sejumlah analis menilai blokade AS berpotensi melumpuhkan ekonomi Iran dalam waktu singkat.

Dengan terhentinya ekspor minyak, petrokimia, dan mineral, serta terganggunya impor kebutuhan pokok dan industri, tekanan ekonomi diperkirakan meningkat drastis.

Bahkan, dalam skenario terburuk, Iran bisa terpaksa menghentikan produksi minyak akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan.

Namun, pandangan berbeda menyebut Iran memiliki daya tahan lebih kuat terhadap tekanan tersebut.

Baca juga: Temuan Menkes! 10 Persen Orang Kaya Ternyata Terima Bantuan BPJS

Negara itu telah lama menghadapi sanksi internasional, sehingga dianggap lebih siap menghadapi krisis berkepanjangan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved