Jumat, 27 Maret 2026

Harga Emas Hari Ini

Harga Emas Dunia Anjlok Hari Ini Jumat 27 Maret 2026! Turun Rp 2 Juta, Dipicu Konflik AS-Iran

Harga emas dunia kembali tertekan tajam pada perdagangan Kamis, turun hampir 2,5 persen ke kisaran Rp71,4 juta per ons troi setelah

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Harga Emas Dunia Anjlok Hari Ini Jumat 27 Maret 2026! Turun Rp 2 Juta, Dipicu Konflik AS-Iran
TribunGorontalo.com
ILUSTRASI -- Dampak konflik di Iran yang disebabkan oleh Amerika membuat emas anjlok. 
Ringkasan Berita:
  • Harga emas dunia anjlok ke sekitar Rp71,4 juta per ons akibat kombinasi lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik AS-Iran. 
  • Penjualan besar-besaran emas oleh bank sentral Turki senilai Rp130 triliun turut menekan harga lebih dalam. 
  • Selain itu, ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi dari The Fed membuat emas kehilangan daya tarik sebagai aset aman.

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Harga emas dunia kembali tertekan tajam pada perdagangan Kamis, turun hampir 2,5 persen ke kisaran Rp71,4 juta per ons troi setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp73,8 juta.

Penurunan ini dipicu lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Di tengah tekanan global tersebut, harga emas domestik produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) justru terpantau stagnan. Pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, harga emas Antam bertahan di level Rp2.850.000 per gram, tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya.

Meski terlihat stabil dalam jangka pendek, tren sepekan menunjukkan koreksi yang cukup tajam.

Baca juga: Pemerintah Pastikan Stok BBM Aman, Prabowo Perintahkan Bahlil Cari Minyak ke Berbagai Negara

Harga emas Antam tercatat turun sebesar Rp200.608 atau sekitar 6,58 persen dalam tujuh hari terakhir, mencerminkan tingginya volatilitas pasar emas nasional yang mengikuti arah global.

Berdasarkan data resmi logammulia.com, harga buyback atau pembelian kembali berada di level Rp2.750.250 per gram, dengan selisih (spread) mencapai Rp99.750.

Spread yang cukup lebar ini menjadi catatan penting bagi investor jangka pendek, karena harga emas harus naik minimal sebesar selisih tersebut agar mencapai titik impas.

Jika dilihat dari struktur harga, pembelian dalam jumlah besar masih menawarkan efisiensi.

Misalnya, untuk pecahan 100 gram, harga per gram berada di kisaran Rp2.792.120, lebih murah sekitar Rp57.880 dibandingkan pembelian 1 gram.

Dalam sebulan terakhir, harga emas Antam sempat menyentuh level tertinggi Rp3.050.608 per gram, sebelum akhirnya turun hingga ke level terendah Rp2.843.000.

Fluktuasi ini menandakan tekanan kuat dari pasar global, terutama akibat konflik geopolitik dan perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Selain faktor konflik AS-Iran, tekanan juga datang dari aksi penjualan besar oleh bank sentral Turki yang melepas sekitar 60 ton emas senilai lebih dari Rp130 triliun. Langkah ini memperbesar suplai di pasar dan menekan harga lebih dalam.

Di sisi lain, ekspektasi kebijakan moneter AS yang semakin agresif turut mengurangi daya tarik emas.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil tetap.

Secara teknikal, tren emas global masih cenderung melemah. Jika tekanan berlanjut, harga emas berpotensi turun lebih jauh, yang bisa berdampak lanjutan pada harga emas domestik dalam beberapa hari ke depan.

Kondisi Geopolitik

Situasi geopolitik turut memperburuk sentimen pasar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan Iran agar segera serius dalam mencapai kesepakatan.

Ia menyebut negosiator Iran bersikap “aneh” karena secara tertutup menginginkan kesepakatan, namun di depan publik terlihat ragu.

Di sisi lain, Iran sedang meninjau proposal 15 poin dari Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik, namun memberi sinyal belum siap bernegosiasi.

Proposal tersebut mencakup tuntutan penghapusan cadangan uranium tingkat tinggi, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap sekutu regional.

Ketegangan semakin meningkat setelah Pentagon dilaporkan menyiapkan opsi pengerahan pasukan darat ke Iran.

Bahkan, laporan menyebut adanya rencana “serangan terakhir” sebagai langkah lanjutan jika situasi memburuk.

Tekanan terhadap harga emas juga datang dari aksi besar bank sentral Turki yang menjual dan menukar sekitar 60 ton emas senilai lebih dari Rp130 triliun dalam dua pekan sejak konflik dimulai.

Langkah ini memperbesar tekanan jual di pasar global.

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat turut memengaruhi harga emas. Pasar kini memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan mengambil sikap lebih agresif (hawkish) dalam menghadapi inflasi.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga yang sebelumnya muncul di awal tahun kini mulai memudar.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor lain yang melemahkan emas. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik ke 4,412 persen, membuat investasi di emas menjadi kurang menarik dibanding instrumen berbunga.

Dari sisi teknikal, tren penurunan emas diperkirakan masih berlanjut setelah gagal menembus level Rp73,9 juta.

Jika harga terus bertahan di bawah Rp71,5 juta, maka potensi penurunan lanjutan menuju kisaran Rp70 juta hingga Rp66 juta semakin terbuka.

 (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved