Gorontalo Hari Ini
Camat Suwawa Selatan Gorontalo Angkat Bicara Soal Fenomena Ikan Mati di Sungai Bone
warga terkait matinya ikan di aliran Sungai Bone akhirnya mendapat penjelasan resmi dari pemerintah kecamatan.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Camat-Suwawa-Selatan-Ricky-Roman-Wartabone.jpg)
Ringkasan Berita:
- Fenomena matinya ikan di Sungai Bone bukan disebabkan oleh limbah tambang atau racun kimia, melainkan akibat uji coba buka-tutup aliran air oleh perusahaan PLTMH di Poduwoma, Suwawa Timur
- Uji coba tersebut menyebabkan debit air sungai menyusut drastis secara mendadak, sehingga banyak ikan terjebak dan mati di titik-titik aliran sungai yang surut
- Pemerintah Kecamatan Suwawa Selatan telah meninjau langsung ke lapangan dan memberikan edukasi kepada warga bantaran sungai
TRIBUNGORONTALO.COM – Keresahan warga terkait matinya ikan di aliran Sungai Bone akhirnya mendapat penjelasan resmi dari pemerintah kecamatan.
Fenomena tersebut sebelumnya ramai dibicarakan warga di wilayah Kecamatan Suwawa, Suwawa Timur, Suwawa Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Sungai Bone merupakan salah satu sungai terbesar di Gorontalo yang membentang dari wilayah pegunungan Bone Bolango hingga melintasi Kota Gorontalo.
Sungai ini menjadi sumber air utama dan pusat aktivitas masyarakat di sejumlah desa serta kecamatan di sepanjang aliran sungai.
Sementara itu, Suwawa merupakan kawasan di Kabupaten Bone Bolango yang terdiri dari beberapa kecamatan, di antaranya Suwawa Induk, Suwawa Selatan, dan Suwawa Timur.
Wilayah-wilayah tersebut berada di area hulu hingga bantaran Sungai Bone yang selama ini dikenal memiliki aktivitas pertambangan rakyat serta proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).
Oleh karena itu, saat ditemukan banyak ikan mati di sungai, warga langsung mengaitkannya dengan dugaan pencemaran lingkungan akibat limbah tambang.
Klarifikasi Camat Suwawa
Camat Suwawa Selatan, Ricky Roman Wartabone, memastikan fenomena tersebut bukan disebabkan oleh limbah tambang maupun pencemaran bahan kimia.
Menurutnya, kondisi itu terjadi akibat uji coba buka-tutup air yang dilakukan perusahaan PLTMH di wilayah Poduwoma, Suwawa Timur.
Ricky menjelaskan bahwa pihaknya telah turun langsung ke lapangan untuk memastikan penyebab matinya ikan di sejumlah titik aliran sungai.
"Alhamdulillah, hari ini fakta yang saya dapat di lapangan, isu soal ikan mati karena racun kimia tambang itu tidak benar," ujarnya saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com, Senin (18/5/2026).
Lebih lanjut ia mengatakan, saat uji coba oleh pihak PLTMH dilakukan, debit air sungai mengalami penurunan cukup drastis karena adanya proses buka-tutup aliran air. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian ikan terjebak di titik-titik tertentu saat air surut.
"Jadi persoalannya karena adanya perusahaan PLTMH di Poduwoma Suwawa Timur yang melakukan eksperimen atau uji coba buka tutup air. Air sempat surut dan ada ikan yang tertinggal," katanya.
Ricky menegaskan, dari hasil pemantauan di lapangan, tidak ditemukan indikasi pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan. Ia bahkan menjamin isu yang berkembang soal limbah tambang sebagai penyebab kematian ikan adalah tidak benar.