Sabtu, 18 April 2026

Belatung di MBG

Heboh Ada Belatung di MBG, Ini Penjelasan Kepala Desa di Bone Bolango Gorontalo

Heboh ada belatung di makan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Heboh Ada Belatung di MBG, Ini Penjelasan Kepala Desa di Bone Bolango Gorontalo
TIDAK ADA
KOORDINASI -  Kepala Desa Lembah Hijau, Nurhayati Muhammad berkoordinasi dengan pihak SPPG dan orangtua siswa terkait belatung di makan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo 

Ringkasan Berita:
  • Heboh ada belatung di makan bergizi gratis di Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
  • Kepala Desa Lembah Hijau mengakui adanya laporan orangtua siswa terkait temuan belatung dalam makanan yang diterima siswa.

TRIBUNGORONTALO.COM - Heboh ada belatung di makan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo

Belatung tersebut ditemukan dalam makanan olahan ayam yang dibagikan ke siswa.

Kepala Desa Lembah Hijau, Nurhayati Muhammad mengakui adanya laporan orangtua siswa terkait temuan belatung dalam makanan yang diterima siswa.

Nurhayati menjelaskan, kejadian tersebut terjadi di PAUD Harapan Bunda Desa Lembah Hijau.

Ia mengaku langsung memanggil pihak orangtua dan perwakilan penyedia makanan untuk mengklarifikasi kejadian tersebut.

“Memang benar, ada belatung di daging ayam. Itu sesuai dengan yang disampaikan orangtua,” kata Nurhayati saat diwawancarai wartawan TribunGorontalo.com, Jumat (17/4/2026)..

Hasilnya, makanan yang diterima siswa pagi hari baru dimakan pada malam hari. Katanya, menu makanan yang diberikan berupa makanan basah, yang memang memiliki daya tahan terbatas.

“Masakan itu diterima pagi hari dalam keadaan baik. Tapi dibawa pulang, nanti sekitar jam tujuh malam baru diberikan ke anak, ternyata sudah ada belatung,” jelasnya.

Nurhayati menilai, persoalan ini juga berkaitan dengan ketahanan makanan yang tidak diperhitungkan secara matang, terutama untuk jenis menu basah.

Ia bahkan mengaku sebelumnya telah mengingatkan orangtua siswa agar tidak menerima makanan jika kondisinya sudah tidak layak konsumsi.

“Saya sudah sampaikan ke orangtua, kalau makanan tidak layak, jangan diterima. Kita kembalikan saja. Tapi memang ini karena tidak ada koordinasi dari awal,” tegasnya.

Ia juga membantah tudingan bahwa pemerintah desa melakukan intimidasi terhadap orangtua siswa terkait viralnya kasus tersebut.

“Saya tidak pernah mengintimidasi. Justru saya undang orangtua untuk klarifikasi bersama,” katanya.

Nurhayati menyayangkan penyelenggara baru muncul memberikan penjelasan setelah persoalan ini viral di masyarakat.

“Begitu ada masalah, baru mereka datang. Padahal dari awal tidak ada komunikasi,” tambahnya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved