Wisata Gorontalo
Mau Lihat Hiu Paus di Gorontalo? Catat Bulan Kemunculan Terbanyak
Jika Anda berencana mengunjungi Wisata Hiu Paus Botubarani, mengetahui pola kemunculan satwa laut raksasa ini bisa membantu And
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-Ria-Ricis-dan-Ustaz-Abdul-Somad-saat-berkunjung-ke-wisata-hiu-paus.jpg)
Oktober: 114
November: 146
Desember: 131
Data tersebut berdasarkan update catatan harian yang dihimpun TribunGorontalo.com sampai hari ini, Minggu (28/12/2025).
"Setiap hari rutin di catat berapa kemunculannya," kata Arpan Napu, pengelola wisata Hiu Paus Botubarani saat sebelumnya dikonfirmasi TribunGorontalo.com, Jumat (26/12/2025).
Arpan menyebut ada hari dimana tidak ada sama sekali kemunculan diakibatkan dua faktor.
"Pernah tidak muncul karena air keruh. Tahun lalu pernah lama hilang karena munculnya paus Orca," ungkapnya.
Puncak aktivitas terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun, menjadikan bulan-bulan seperti Juni hingga November sebagai waktu yang ideal untuk berkunjung.
Fakta menarik lainnya, pengelola mencatat satu hari tanpa kemunculan hiu paus sama sekali, yakni pada Selasa, 18 Maret 2025.
Sebaliknya, rekor kemunculan terbanyak dalam satu hari terjadi pada Rabu, 1 Oktober 2025, dengan delapan ekor hiu paus muncul di permukaan.
Perlu dicatat, angka 1.404 tersebut bukanlah jumlah individu hiu paus, melainkan total frekuensi kemunculan harian. Artinya, sangat mungkin individu yang sama muncul berulang kali pada hari atau bulan yang berbeda.
Wisata Hiu Paus Botubarani sendiri merupakan salah satu destinasi bahari unggulan di Indonesia. Lokasinya sangat strategis, hanya sekitar 9,6 kilometer dari pusat Kota Gorontalo atau sekitar 20 menit perjalanan dengan sepeda motor.
Dari Bandara Djalaluddin Gorontalo, wisatawan dapat menempuh perjalanan darat sejauh 40 kilometer dalam waktu sekitar satu jam.
Hiu paus (Rhincodon typus) merupakan salah satu spesies ikan terbesar di dunia dan telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi.
Kehadirannya di perairan Botubarani diyakini berkaitan erat dengan ketersediaan pakan alami, serta kebiasaan nelayan setempat di masa lalu yang membuang sisa tangkapan ikan di sekitar perairan tersebut.