Senin, 1 Juni 2026

Warga Boalemo Hanyut

7 Hari Tak Ada Hasil, Tim SAR Gorontalo Tutup Operasi Pencarian Hamid Lahabi 

Operasi pencarian terhadap korban yang diduga warga Desa Lahumbo, Kecamatan Tilamuta ditutup

Tayang:
Penulis: Rahmat Hambali | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto 7 Hari Tak Ada Hasil, Tim SAR Gorontalo Tutup Operasi Pencarian Hamid Lahabi 
TribunGorontalo.com/Rahmat Hambali
PENUTUPAN PENCARIAN — Basarnas bersama Tim gabungan mengunjungi sekaligus berpamitan di rumah korban Hamid Lahabi yang berada di Desa Lahumbo Kecamatan Tilamuta Boalemo, Minggu (31/05/2026). (Sumber : TribunGorontalo/Rahmat Hambali) 
Ringkasan Berita:
  • Dua warga Desa Lahumbo (Boalemo), Hamid Lahabi (ayah) dan Lisman Lahabi (anak), hanyut terseret arus sungai saat melakukan kebiasaan rutin menombak kelapa 
  • Sang anak, Lisman Lahabi, ditemukan meninggal dunia pada hari pertama kejadian di Sungai Manggulipa
  • Penutupan Operasi SAR: Setelah 7 hari penyisiran maksimal menggunakan perahu karet

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Operasi pencarian terhadap korban yang diduga warga Desa Lahumbo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, resmi ditutup oleh tim SAR gabungan, Minggu (31/5/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun TribunGorontalo.com, korban yang diduga hanyut terbawa arus sungai di Bendungan Desa Lahumbo berjumlah dua orang.

Dua korban tersebut bernama Lisman Lahabi (31) dan Hamid Lahabi (61) yang merupakan warga Dusun 4, Desa Lahumbo.

Korban Lisman Lahabi ditemukan di Sungai Manggulipa, Desa Lahumbo sekitar pukul 13.00 Wita dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Sedangkan korban Hamid Lahabi yang diduga hanyut terbawa arus sungai, sampai dengan saat ini belum juga ditemukan.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Operasi dan Siaga Kantor SAR Gorontalo, Halidin Labidu, menyampaikan informasi terkait operasi pencarian yang dilakukan oleh tim SAR gabungan.

"Sejak tanggal 25 Mei 2026 tim SAR menerima informasi bahwa ada 2 orang korban yang diduga terbawa arus sungai di Desa Lahumbo, kemudian tim Sar langsung segera menuju ke lokasi kejadian", ungkapnya saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Minggu.

Menurutnya, pencarian oleh tim SAR gabungan terhadap korban sudah dilaksanakan secara maksimal.

"Pola pencarian yang dilakukan selama operasi Sar gabungan yaitu SRU (Search and Rescue Unit) 1 dengan melakukan penyisiran di sekitaran lokasi kejadian pertama hingga sungai yang berada dijembatan Soeharto kurang lebih 7KM, Sedangkan SRU (Search and Rescue Unit) lainnya menggunakan LCR (Landing Craft Rubber) dari muara sungai hingga ke laut", jelas Halidin.

Selain itu, Halidin menambahkan bahwa pencarian korban Hamid Lahabi juga dibantu menggunakan drone untuk melakukan pemantauan dari udara. Namun, usaha yang dilakukan tim pencarian masih belum membuahkan hasil.

Ia mengungkapkan, dalam pencarian korban tersebut, kendala yang dihadapi tidak terlalu signifikan, hanya berupa bebatuan yang besar, sungai yang dangkal, serta air yang keruh.

Menurutnya, pencarian yang dilakukan oleh tim SAR gabungan dari hari pertama hingga hari ketujuh ini belum membuahkan hasil, artinya korban belum ditemukan.

"Sesuai SOP Basarnas untuk pencarian karena sudah hari ke-7 sehingga di berhentikan, dan operasi tersebut dengan hasil dinyatakan 1 orang hilang atas nama Hamid Lahabi (56) warga Desa Lahumbo", tegasnya.

Halidin menambahkan, operasi pencarian memang sudah ditutup, namun pihak SAR masih melakukan pemantauan. 

Apabila beberapa hari kemudian ada tanda-tanda yang pasti tentang keberadaan korban, maka operasi SAR akan dibuka kembali untuk melakukan pencarian dan evakuasi.

Ia berharap masyarakat selalu memperhatikan cuaca saat melakukan aktivitas, karena kondisi cuaca sering berubah-ubah.

Halidin berpesan agar masyarakat yang bekerja di kebun maupun di laut untuk selalu waspada, serta selalu memperhatikan kondisi cuaca, keselamatan, dan hal-hal yang dapat mengancam jiwa.

Berdasarkan pantauan TribunGorontalo.com usai melaksanakan evaluasi dan apel penutupan, tim SAR gabungan melakukan kunjungan ke rumah duka, sekaligus berpamitan kepada keluarga korban. 

Sosok Hamid Lahabi

Hamid Lahabi, warga Dusun IV Desa Lahumbo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, hingga Senin (25/05/2026) sore masih dalam proses pencarian intensif. 

Petugas menyisir seluruh aliran sungai yang terhubung ke lokasi yang diduga sebagai tempat kejadian perkara (TKP) awal.

Pencarian korban berlangsung sejak siang hingga malam hari, namun belum membuahkan hasil. Operasi SAR ini melibatkan tim gabungan dari Basarnas Provinsi Gorontalo, Polairud Polda Gorontalo, Polres Boalemo, Pemadam Kebakaran, TNI, serta dibantu oleh masyarakat setempat yang menyisir area mulai dari bendungan hingga ke muara sungai.

Selain penyisiran manual, satu unit ekskavator (excavator) juga dikerahkan ke lokasi untuk membantu mempermudah proses pencarian korban.

Hamid Lahabi diduga menjadi korban kedua yang terseret arus sungai. 

Sebelum dinyatakan hilang, ia bersama anaknya diketahui sedang mengumpulkan buah kelapa yang hanyut menggunakan tombak di sekitar bendungan belakang Kodim Boalemo.

Aktivitas menombak kelapa yang terbawa arus sungai ini memang sudah menjadi kebiasaan rutin bagi Hamid dan anaknya setiap kali wilayah tersebut diguyur hujan deras.

Di mata warga sekitar, Hamid Lahabi dikenal sebagai sosok yang pendiam namun sangat rajin bekerja. 

Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh kasar dengan penghasilan yang tidak menentu. Untuk menyambung hidup, ia mengumpulkan pasir dari sungai, lalu menampungnya di sekitar rumah sebelum dijual kepada pembeli.

Hamid diketahui memiliki seorang istri bernama Rusni Humalidu (59) yang tinggal di Dusun IV Desa Lahumbo, Kecamatan Tilamuta, Boalemo.

Pasangan suami istri ini dikaruniai 5 orang anak, termasuk almarhum Lisman Lahabi yang juga menjadi korban.

Kronologi Kejadian

Peristiwa ini bermula saat hujan lebat mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 09.45 hingga sekitar pukul 12.00 WITA.

Tim gabungan dan warga menemukan puluhan butir kelapa yang tergeletak di samping bendungan. 

Petugas juga mendapatkan satu buah tombak kelapa sepanjang kurang lebih 5 meter dengan ujung besi berukuran 700 cm.

Yiski Maasia, keponakan korban, membenarkan bahwa paman dan sepupunya itu memang sudah terbiasa mencari kelapa hanyut di bendungan tersebut.

"Korban dan Lisman setiap hujan, memang selalu menombak kelapa di bendungan," ujarnya.

Menurut Yiski, mereka biasanya berhasil mengumpulkan lebih dari 100 butir kelapa setiap kali hujan deras turun. Bahkan, mereka pernah mendapat hingga 1.000 butir lebih kelapa yang terbawa aliran air sungai melewati bendungan tersebut.

Salah satu teman kerja korban, Toni Musa menceritakan korban tersebut pada pagi hari masih bersama dengan dirinya.

"Pada pagi hari sebelum kejadian, korban bersama saya bekerja kelapa (sumbi kelapa)", Ungkap Toni kepada TribunGorontalo.com.

Menurutnya, sekitar pukul 08.00-09.00 Wita saya pulang kemudian dia menumpang untuk membeli bensin, pada saat itu langit sudah mulai mendung, akhirnya kami berboncengan untuk membeli bensin, dan korban di antar di rumah ibunya.

Baca juga: Sosok Lisman Lahabi, Korban Hanyut di Sungai Manggulipa Dikenal Pekerja Keras

PENCARIAN KORBAN -- Tim SAR Boalemo bersama warga sedang mencari Hamid Lahabi di sungai Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, Selasa 26 Mei 2026. (Sumber : TribunGorontalo/Rahmat Hambali)
PENCARIAN KORBAN -- Tim SAR Boalemo bersama warga sedang mencari Hamid Lahabi di sungai Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, Selasa 26 Mei 2026. (Sumber : TribunGorontalo/Rahmat Hambali)

Sedangkan untuk hujan turun mulai sekitar pukul 09.45 hingga pukul kurang lebih 12.00 Wita, dan korban tersebut ditemukan 13.00 Wita dengan keadaan sudah tidak bernyawa lagi.

Setiap kali hujan turun, Lisman memang kerap melakukan kebiasaannya menombak kelapa yang hanyut di sungai tersebut.

Berdasarkan informasi yang ditemui di lapangan, ditemukan puluhan biji kelapa yang tergeletak di samping bendungan, serta terdapat satu buah tombak dengan ukuran kurang lebih 5 meter, dan besinya berukuran 700 cm.

Menurut informasi, korban ditemukan pada saat air surut. Selain itu, terdapat darah di sekitar bendungan, yang diduga akibat terbenturnya kepala korban.

Sementara itu, Yiski Maasia yang merupakan sepupu dari korban menyampaikan bahwa korban sebelum pergi ke tempat kejadian perkara sempat minum kopi, namun hanya 2 kali cegukkan, korban juga masih sempat bercanda dengan teman saya.

Selain itu, sebelum pergi ke lokasi kejadian, korban masih sempat makan di rumah ibunya, korban kemudian sempat mengeluarkan beberapa kalimat yang diduga menjadi tandanya sebelum meninggal.

"Ini terakhir kali dia makan di sini," ujar Yiski kepada TribunGorontalo.

Yiski juga menambahkan bahwa korban tersebut sempat di tegur oleh pamannya, untuk tidak melakukan rutinitas seperti itu lagi. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved