Berita Viral
Viral, Bocah 4 Tahun di Sukabumi Meninggal Usai Tubuhnya Dipenuhi Ribuan Cacing, Ini Faktanya
Tragis, bocah 4 tahun di Sukabumi meninggal dunia setelah tubuhnya dipenuhi ribuan cacing hingga tak tertolong.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Raya-Sukabumi.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Peristiwa tragis menimpa seorang bocah berusia 4 tahun di Sukabumi, Jawa Barat.
Anak perempuan yang bernama Raya itu meninggal dunia usai tubuhnya dipenuhi ribuan cacing hidup dan telurnya.
Kisah itu bermula ketika orang tua melihat Raya dalam kondisi yang tak biasa.
Tubuih mungilnya itu seketika melemah dan mengeluh sakit perut yang hebat.
Keluarganya pun langsung membawanya ke pusat perawatan intensif untuk mengetahui apa yang dideritanya.
Saat diperiksa lebih lanjut, keluarga kaget karena menemukan banyak cacing yang keluar dari tubuh Raya yang tak sedikit.
Hal itu diketahui keluarganya akibat kondisi kehidupan Raya.
Di mana dirinya tinggal bersama sang ibu yang menderita gangguan mental.
Serta rumahnya yang tepat berada di atas kandang ayam membuat Raya sering terkontaminasi dengan kualitas udara bersih yang rendah.
Raya sempat mendapatkan perawatan medis, namun nyawanya tak tertolong.
Ia menghembuskan nafas terakhirnya ditengah upaya keras keluarga dan tenaga medis menyelamatkan hidupnya.
Kasus Raya ini pun menjadi sorotan publik sebab menggambarkan pentingnya menjaga kebersihan, pola hidup sehar serta perhatian ekstra terhadap kesehatan anak-anak sejak dini.
Dilansir dari SerambiNews.com, inilah fakta-fakta tentang kisah Raya
1. Meninggal akibat infeksi cacing parah
Raya meninggal dunia pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB, setelah berjuang melawan infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang menyebabkan komplikasi fatal.
Menurut Ketua Tim Penanganan RSUD R. Syamsudin, Dokter Irfan Nugraha, infeksi cacing pada anak-anak sebenarnya sering terjadi, namun kasus Raya berbeda.
Kondisinya sangat parah karena terlambatnya penanganan, membuat cacing tidak hanya bersarang di saluran pencernaan tetapi sudah menyebar ke organ vital lain.
"Infeksi sudah menyebar ke paru-paru dan otak. Cacing ditemukan keluar dari hidung, artinya dia sudah mencapai saluran napas atau pencernaan bagian atas." jelas dr Irfan, Rabu (20/8/2025), dilansir dari Tribun Jabar.
2. Diungkap oleh tim relawan
Kisah tragis Raya pertama kali diunggah oleh yayasan Rumah Teduh Sahabat Iin pada 16 Agustus 2025.
Video yang mereka bagikan menunjukkan perjuangan Raya melawan penyakitnya.
Termasuk momen-momen mengerikan saat cacing-cacing keluar dari hidung dan anusnya.
Tim relawan juga mengungkapkan latar belakang Raya yang diduga menjadi penyebab bocah malang tersebut bisa terkena infeksi cacing hingga parah.
Raya diketahui berasal dari keluarga dhuafa di sebuah desa terpencil.
Ibunya menderita gangguan jiwa.
Sementara sang ayah disebut menderita TBC.
Raya dibesarkan di lingkungan yang sangat tidak layak.
Disebutkan, bahwa Raya kerap bermain di bawah rumah panggungnya yang langsung beralaskan tanah.
Kondisi ini yang diduga menjadi penyebab bocah malang tersebut bisa menderita infeksi cacing.
Unggahan kasus Raya dan fakta-fakta dibaliknya yang diungkap oleh Yayasan Rumah Teduh Sahabat Iin ini sontak menarik perhatian jutaan warganet hingga viral di media sosial.
3. Sempat koma dan dilarikan ke rumah sakit
Raya dievakuasi oleh tim relawan pada 13 Juli 2025 dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri.
Ia segera dilarikan ke RSUD R. Syamsudin di Kota Sukabumi.
Awalnya, tim medis menduga ketidaksadarannya disebabkan oleh komplikasi infeksi TBC, karena ada riwayat TBC pada salah satu orang tuanya.
Namun, setelah observasi, dugaan tersebut berubah ketika cacing mulai keluar dari hidungnya, menandakan bahwa infeksi cacing sudah sangat parah.
"Tapi diobservasi sekian lama di IGD itu keluar cacing dari hidungnya. Di sini kita menduga berarti kemungkinan tidak sadarnya ada dua antara ada faktor resiko tertular dari TBC nya, ada faktor juga karena infeksi cacingnya," jelas Ketua Tim Penanganan RSUD R. Syamsudin, Dokter Irfan Nugraha, dilansir dari Tribun Jabar.
4. Kondisi Raya selama dirawat di RS
Dokter Irfan Nugraha juga menjelaskan terakit kondisi bocah 4 tahun tersebut saat pertama sekali tiba di rumah sakit.
Menurut Irfan, saat Raya tiba di rumah sakit, kondisi vitalnya sudah tidak stabil.
Pihak rumah sakit segera melakukan penanganan awal.
Tanda vitalnya sempat membaik, namun kesadarannya tidak kunjung pulih.
"Kondisinya lebih stabil secara tensi tapi kesadarannya masih (belum). Setelah itu Raya dirawat di Picu setelah dikonsultasikan ke spesialis anak," ujar Irfan.
Selama sembilan hari dirawat di ruang PICU, cacing-cacing terus keluar dari tubuhnya, menunjukkan betapa masifnya infeksi tersebut.
"Jumlah cacing dalam saluran pencernaannya sangat banyak," ungkap Irfan.
5. Berjuang tanpa BPJS
Dalam unggahan mereka, tim relawan mengungkapkan beberapa fakta saat mereka mendampingi Raya untuk mendapatkan perawatan medis.
Di tengah kondisi kritis Raya, relawan harus menghadapi birokrasi yang cukup rumit.
Hal itu dikarenakan Raya tidak memiliki kartu identitas maupun BPJS.
Mereka hanya diberi waktu 3x24 jam untuk mengurus administrasi.
Perjuangan mengurus berkas ini membuat relawan harus berpindah-pindah dari dinas sosial, dinas kesehatan kota, hingga kabupaten.
Bahkan mereka sempat disarankan untuk memindahkan Raya ke rumah sakit dengan fasilitas lebih kecil.
Perjuangan tim relawan mendapatkan fasilitas kesehatan BPJS untuk Raya sia-sia, karena mereka tidak mampu mengejar target waktu yang diberikan.
Pihak rumah sakit akhirnya menetapkan Raya sebagai pasien dengan pembayaran tunai.
Tim relawan pun akhirnya menggunakan dana terbatas mereka untuk membiayai seluruh perawatan Raya.
“Tagihan rumah sakit di hari ketiga sudah mencapai belasan juta rupiah. Saat Raya meninggal, jumlahnya hampir Rp23 juta,” ungkap relawan dalam video yang viral itu.
Dalam unggahannya, tim relawan sempat menyatakan kekecewaan mereka terhadap sistem birokrasi layanan kesehatan.
6. Penjelasan Kepala Desa
Setelah kisahnya viral, belakangan diketahui bahwa Raya tinggal di Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.
Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi juga telah angkat suara perihal kasus yang dialami oleh warganya tersebut.
Menurut penjelasan Wardi, kedua orangtua Raya diduga mengalami keterbelakangan mental, sehingga hanya mampu merawat anaknya sebisanya.
“Kedua orangtuanya memiliki keterbelakangan mental, sehingga daya asuh terhadap anaknya kurang, tidak tahu persis bagaimana kondisi anaknya,” kata Wardi kepada awak media di RSUD Sekarwangi Cibadak, Selasa (19/8/2025), dikutip dari Kompas.com.
Sebelum kondisinya memburuk, Raya sering hidup dalam keadaan tidak sehat, seperti bermain di bawah kolong rumah bersama ayam.
Wardi menyebut, Raya juga menderita demam dan penyakit paru-paru, namun terkendala administrasi karena keluarga tidak memiliki Kartu Keluarga (KK) dan BPJS.
“Cuma setelah penyakitnya makin parah, kemudian ada salah satu keluarga yang kenal dengan rumah teduh (filantropi) laporan, langsung dijemput pakai ambulans. Pemerintah desa sudah tahunya sampai situ. Tapi sebelum dibawa (rumah teduh), Raya ini sering keluar masuk klinik dan puskesmas,” tutur Wardi.
Raya kemudian dirawat selama sembilan hari dengan bantuan filantropi, tapi meninggal dunia pada 22 Juli 2025.
“Iya sering kita kontrol, kalau ada rezeki juga sedikit kita suka kasih, kan orangtuanya gak bisa kerja juga. Tapi yang namanya penyakit juga kan kita enggak tahu. Raya dan kakaknya ini tidak seperti ortunya (mengalami keterbelakangan mental),” ujar Wardi.
7. Respon Gubernur Jawa Barat
Kasus yang dialami Raya juga sudah sampai ke telinga Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Ia menyebut telah mengirimkan tim untuk memberikan perawatan bagi keluarga Raya.
Selain itu, ia juga akan menjatuhkan sanksi tegas kepada Desa Cianaga berupa penundaan pencairan dana desa.
“Saya memutuskan terhadap desa itu memberikan hukuman. Saya tunda bantuan desanya karena desanya tak mampu urus warganya,” ujar Dedi saat pidato di Rapat Paripurna DPRD Jabar, Selasa (19/8/2025), dikutip dari Kompas TV.
Dedi menilai, perangkat desa hingga RT lalai dan gagal mengurus warganya.
“Hari ini kita punya derita seorang anak berumur tiga tahun dari Kabupaten Sukabumi pada sebuah kampung terpencil, ibunya ODGJ, bapaknya mengalami TBC. Anak itu tiap hari di kolong. Dia meninggal di rumah sakit dalam keadaan seluruh cacing keluar dari hidungnya,” kata Dedi.
Ia menegaskan, kasus ini menunjukkan lemahnya empati birokrasi.
“Betapa kita gagap dan lalai. Perangkat birokrasi yang tersusun sampai tingkat RT ternyata tidak bisa membangun empati,” tegasnya. (*)
Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com
| Terseret 'Skandal' Video Desa hingga Dituntut Ganti Uang Negara, Ini Sosok Amsal Sitepu |
|
|---|
| Diduga Lecehkan Anak, Oknum Babinsa Diamankan dari Amuk Massa |
|
|---|
| Ledakan Mercon di Pekalongan Tewaskan Remaja 14 Tahun, Dua Korban Putus Lengan |
|
|---|
| Viral Mudik Naik Jet Pribadi, Ini Sosok La Ode Safiul Akbar Gani yang Pulang Kampung ke Muna |
|
|---|
| Viral! Dua Gadis Tunarungu Lolos Kerja di Matahari, Ternyata Saudari Kembar, Banjir Dukungan |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.