Senin, 30 Maret 2026

Berita Viral

Viral, Bocah 4 Tahun di Sukabumi Meninggal Usai Tubuhnya Dipenuhi Ribuan Cacing, Ini Faktanya

Tragis, bocah 4 tahun di Sukabumi meninggal dunia setelah tubuhnya dipenuhi ribuan cacing hingga tak tertolong.

Tayang:
Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Viral, Bocah 4 Tahun di Sukabumi Meninggal Usai Tubuhnya Dipenuhi Ribuan Cacing, Ini Faktanya
Instagram @rumah_teduh_sahabat_iin
CACINGAN AKUT - Tangkapan layar Raya (4) balita yang meninggal dunia karena cacingan akut di Sukabumi, Jawa Barat, Tampak foto rontgen tubuh Raya dipenuhi cancing. Hal inilah yang menjadi sebab Raya menghembuskan nafas terakhirnya. 

Dalam unggahan mereka, tim relawan mengungkapkan beberapa fakta saat mereka mendampingi Raya untuk mendapatkan perawatan medis.

Di tengah kondisi kritis Raya, relawan harus menghadapi birokrasi yang cukup rumit.

Hal itu dikarenakan Raya tidak memiliki kartu identitas maupun BPJS. 

Mereka hanya diberi waktu 3x24 jam untuk mengurus administrasi.

Perjuangan mengurus berkas ini membuat relawan harus berpindah-pindah dari dinas sosial, dinas kesehatan kota, hingga kabupaten.

Bahkan mereka sempat disarankan untuk memindahkan Raya ke rumah sakit dengan fasilitas lebih kecil.

Perjuangan tim relawan mendapatkan fasilitas kesehatan BPJS untuk Raya sia-sia, karena mereka tidak mampu mengejar target waktu yang diberikan.

Pihak rumah sakit akhirnya menetapkan Raya sebagai pasien dengan pembayaran tunai.

Tim relawan pun akhirnya menggunakan dana terbatas mereka untuk membiayai seluruh perawatan Raya.

“Tagihan rumah sakit di hari ketiga sudah mencapai belasan juta rupiah. Saat Raya meninggal, jumlahnya hampir Rp23 juta,” ungkap relawan dalam video yang viral itu.

Dalam unggahannya, tim relawan sempat menyatakan kekecewaan mereka terhadap sistem birokrasi layanan kesehatan.

6. Penjelasan Kepala Desa 

Setelah kisahnya viral, belakangan diketahui bahwa Raya tinggal di Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.

Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi juga telah angkat suara perihal kasus yang dialami oleh warganya tersebut.

Menurut penjelasan Wardi, kedua orangtua Raya diduga mengalami keterbelakangan mental, sehingga hanya mampu merawat anaknya sebisanya.

“Kedua orangtuanya memiliki keterbelakangan mental, sehingga daya asuh terhadap anaknya kurang, tidak tahu persis bagaimana kondisi anaknya,” kata Wardi kepada awak media di RSUD Sekarwangi Cibadak, Selasa (19/8/2025), dikutip dari Kompas.com.

Sebelum kondisinya memburuk, Raya sering hidup dalam keadaan tidak sehat, seperti bermain di bawah kolong rumah bersama ayam.

Wardi menyebut, Raya juga menderita demam dan penyakit paru-paru, namun terkendala administrasi karena keluarga tidak memiliki Kartu Keluarga (KK) dan BPJS.

“Cuma setelah penyakitnya makin parah, kemudian ada salah satu keluarga yang kenal dengan rumah teduh (filantropi) laporan, langsung dijemput pakai ambulans. Pemerintah desa sudah tahunya sampai situ. Tapi sebelum dibawa (rumah teduh), Raya ini sering keluar masuk klinik dan puskesmas,” tutur Wardi.

Raya kemudian dirawat selama sembilan hari dengan bantuan filantropi, tapi meninggal dunia pada 22 Juli 2025.

“Iya sering kita kontrol, kalau ada rezeki juga sedikit kita suka kasih, kan orangtuanya gak bisa kerja juga. Tapi yang namanya penyakit juga kan kita enggak tahu. Raya dan kakaknya ini tidak seperti ortunya (mengalami keterbelakangan mental),” ujar Wardi. 

7. Respon Gubernur Jawa Barat

Kasus yang dialami Raya juga sudah sampai ke telinga Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Ia menyebut telah mengirimkan tim untuk memberikan perawatan bagi keluarga Raya.

Selain itu, ia juga akan menjatuhkan sanksi tegas kepada Desa Cianaga berupa penundaan pencairan dana desa.

“Saya memutuskan terhadap desa itu memberikan hukuman. Saya tunda bantuan desanya karena desanya tak mampu urus warganya,” ujar Dedi saat pidato di Rapat Paripurna DPRD Jabar, Selasa (19/8/2025), dikutip dari Kompas TV.

Dedi menilai, perangkat desa hingga RT lalai dan gagal mengurus warganya.

“Hari ini kita punya derita seorang anak berumur tiga tahun dari Kabupaten Sukabumi pada sebuah kampung terpencil, ibunya ODGJ, bapaknya mengalami TBC. Anak itu tiap hari di kolong. Dia meninggal di rumah sakit dalam keadaan seluruh cacing keluar dari hidungnya,” kata Dedi.

Ia menegaskan, kasus ini menunjukkan lemahnya empati birokrasi.

“Betapa kita gagap dan lalai. Perangkat birokrasi yang tersusun sampai tingkat RT ternyata tidak bisa membangun empati,” tegasnya. (*)

 

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved