Senin, 23 Maret 2026

Lipsus Ikan Nike Gorontalo

Akademisi Gorontalo Ungkap Nama Ikan Kecil sebelum Dikenal Sebutan Nike

Jauh sebelum nama "Nike" akrab di telinga masyarakat Gorontalo, tersimpan sebuah nama asli nike.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Akademisi Gorontalo Ungkap Nama Ikan Kecil sebelum Dikenal Sebutan Nike
TribunGorontalo.com
NAMA IKAN -- Potret ikan Nike tangkapan para nelayan di Kelurahan Leato, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo. Akademisi Gorontalo mengungkap nama ikan kecil sebelum dikenal dengan sebutan nike. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Jauh sebelum nama "Nike" akrab di telinga masyarakat Gorontalo, tersimpan cerita menarik dari masyarakat terdahulu.

Ikan mungil nan lezat ini menjadi bahan penelitian akademisi Gorontalo.

Seorang akademisi berdedikasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Gorontalo (FPIK UNG), Prof Dr Femy M Sahami, menyusuri asal muasal ikan Nike. 

Ia tak hanya fokus pada aspek biologis, melainkan juga menggali akar budaya dan narasi tradisional yang telah lama menyelimuti keberadaan ikan ini.

Perjalanan Prof Femy membawanya ke Kelurahan Leato, Kota Gorontalo, pada tahun 2019. 

Di sana, ia bertemu dengan beberapa warga, termasuk seorang kakek berusia 72 tahun yang menjadi narasumber kunci. Sang kakek, yang kini telah tiada, adalah penjaga ingatan masa lalu yang berharga.

Dari kakek itulah Prof. Femy pertama kali mendengar asal mula nama "Nike". 

"Awalnya bukan Nike tapi Duwo," tutur Prof Femy kepada TribunGorontalo.com pada Senin (28/7/2025).

Baca juga: Viral Pria Nekat Raba Wanita di Toko Gorontalo, Pelaku Diinterogasi Warga

Kisah itu bermula saat masyarakat Gorontalo pertama kali menyaksikan kemunculan Ikan Nike. Kala itu, ikan ini masih berupa larva, tampak seperti gumpalan merah menyerupai darah.

Bingung akan makhluk asing ini, mereka mengikuti kebiasaan turun-temurun: meminta petuah dari orang yang lebih tua atau berpengetahuan luas.

Maka, orang yang pertama kali menemukan gumpalan merah misterius itu pun "mengundang" seorang tokoh masyarakat. Dalam bahasa Gorontalo, "mengundang" dikenal sebagai Toduwo atau Moloduwo. 

Namun, sesampainya di lokasi, sang tokoh pun dibuat terheran-heran. Karena tak tahu apa gerangan gumpalan itu, ia hanya spontan berseru, "Duwo!"

"Banyak kata dalam bahasa Gorontalo yang terbentuk dari kebiasaan pertama kali atau spontanitas," jelas Prof. Femy, menguatkan narasi budaya yang melekat pada bahasa.

Sejak era 1940-an, kata "Duwo" pun resmi menjadi sebutan umum bagi ikan kecil ini di kalangan masyarakat lokal. Namun, lantas mengapa kini nama "Nike" jauh lebih populer?

Femy menjelaskan bahwa pergeseran nama ini kemungkinan besar berkaitan erat dengan kebijakan bahasa nasional pada tahun 1970-an.

Di masa itu, pemerintah gencar menggalakkan penggunaan Bahasa Indonesia secara massal, termasuk di Gorontalo. Salah satu puncaknya adalah peresmian Ejaan yang Disempurnakan (EYD) pada tahun 1972.

Bersamaan dengan semangat kebangsaan itu, para pedagang Gorontalo yang berdagang ke Manado menemukan ikan serupa yang mereka kenal dengan nama "Nike". 

Meskipun ada perbedaan jenis, para pedagang ini menganggap "Nike" di Manado sama dengan "Duwo" yang mereka kenal di Gorontalo.

"Pedagang Gorontalo yang pergi ke Manado adalah yang pertama kali mempopulerkan Nike; mereka mengadopsi kata Nike," ungkap Prof. Femy, menyoroti peran strategis para pedagang dalam penyebaran nama.

Mereka pun mulai mengadopsi dan memperkenalkan istilah "Nike" di Gorontalo. 

Dalam benak mereka, "Nike" adalah versi Bahasa Indonesia dari "Duwo", dan tak butuh waktu lama hingga nama "Nike" menyebar luas dan mendominasi.

"Dulu, bahasa komunikasi adalah bahasa Gorontalo. Kemudian kami 'dipaksa' menggunakan bahasa Indonesia, jadi mereka mengira Nike adalah bahasa Indonesianya dari Duwo," pungkas Prof Femy.

Baca juga: Asal Muasal Ikan Nike Gorontalo Terungkap, Ternyata Bukan Endemik dan Punya 13 Spesies

Selama bertahun-tahun, asal muasal ikan Nike menjadi misteri bagi masyarakat Gorontalo. 

Ikan kecil ini diyakini muncul tanpa induk, sesuai dengan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. 

Keyakinan ini begitu kuat sehingga ikan Nike dianggap sebagai spesies endemik yang hanya ditemukan di Gorontalo.

Namun, anggapan tersebut mulai terbantahkan sejak tahun 2017.

Sekelompok akademisi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Gorontalo (FPIK UNG), yang dipimpin oleh Femy M Sahami bersama Abd Hafidz Oli'i, Sri Nuryatin Hamzah, Sitty Ainsyah Habibie, dan Nuralim Pasisingi, melakukan penelitian ilmiah menggunakan pendekatan genetika molekuler DNA.

Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa ikan Nike bukanlah hewan endemik.

Hewan endemik merupakan hewan yang hanya bisa ditemukan secara alami di satu lokasi spesifik, misalnya di sebuah pulau, wilayah tertentu, atau zona ekologi khusus.

Femy menyatakan bahwa riset ini bermula dari kegelisahan ilmiah terhadap narasi kuat cerita rakyat yang berkembang di masyarakat.

“Saat itu kami bertanya (kepada warga) mengenai asal-usulnya. Jika hanya berasal dari cerita rakyat, secara ilmiah sulit dibuktikan dan terkesan tidak masuk akal,” jelas Femy kepada TribunGorontalo.com, Senin (28/7/2025).

Penelusuran dilakukan dengan pendekatan genetika molekuler DNA, bahkan hingga tahap disertasi. Dari proses pengujian di laboratorium, Femy menemukan adanya perbedaan spesies ikan Nike.

“Dari lima sampel yang dikirim, saya menemukan empat spesies ikan Nike yang berbeda-beda,” ungkapnya.

Eksplorasi kemudian diperluas ke pesisir selatan Gorontalo, meliputi Paguyaman, Taludaa, Bilungala, hingga Marisa. Selain itu, pada waktu yang hampir bersamaan, beberapa rekan akademisi dari berbagai daerah di Indonesia Timur juga melakukan penelitian serupa. 

Penelitian tersebut mereka lakukan di Muara Jengki Manado, Sungai Poigar Tondano, hingga Pulau Halmahera, Maluku.

“Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa ikan Nike juga ditemukan di sana, dengan spesies yang sama,” terang Femy.

Hasil ini menegaskan bahwa ikan Nike tidak secara eksklusif hanya ada di Gorontalo. Namun, Gorontalo memang memiliki populasi ikan Nike yang jauh lebih melimpah.

“Di luar daerah juga ada, tetapi tidak sebanyak di Kota Gorontalo, Marisa, dan Paguyaman,” tegasnya.

Riset berlanjut hingga berhasil memetakan 13 spesies ikan Nike, antara lain Sicyopterus longifilis, Sicyopterus lagocephalus, Sicyopterus cynocephalus, Sicyopterus parvei, Sicyopterus microcephalus, Belobranchus belobranchus, Belobranchus segura, Stiphodon semoni, Eleotris fusca, Eleotris melanosome, Awaous ocelaris, Sicyopus zosterophorus, dan Bunaka gyrinoides.

Di antara semua spesies tersebut, Sicyopterus longifilis adalah spesies yang paling sering dijumpai. Perbedaan masing-masing spesies dapat dikenali dari pola melanofor (pigmen) yang membentuk corak unik, ada yang lurus, zig-zag, hingga bentuk lain.

Penelitian juga menyingkap keterkaitan genetik antara larva Nike dan induknya yang berada di hulu Sungai Bone dan Sungai Bulango.

“Induknya ada di sana. Ini bisa dibuktikan karena saya menggunakan analisis DNA,” ujar Femy.

Temuan ini semakin memperjelas siklus hidup ikan Nike. Femy menjelaskan bahwa ikan ini mengalami perubahan fisik ketika melewati beberapa fase hidup.

“Ikan Nike akan berubah warna menjadi kehitaman ketika ia masuk sungai,” katanya.

 

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved