Lipsus Desa Digital
Nasib Pilu Desa Digital Tunggulo Gorontalo Peraih Kominfotik Awards 2023, Terancam Mandek
Desa Tunggulo di Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, pernah menjadi pionir desa digital di Provinsi Gorontalo sejak 2023.
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/DESA-DIGITAL-Kades-kiri-dan-Sekdes-kanan-Tunggulo-usai-diwawancarai-TribunGorontalocom.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Desa Tunggulo di Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, pernah menjadi pionir desa digital di Provinsi Gorontalo sejak 2023.
Inovasi ini sempat dielu-elukan sebagai langkah besar modernisasi pelayanan publik berbasis teknologi di tingkat desa.
Namun, program desa digital di Tunggulo kini terancam mandek.
Dua kendala utama muncul: keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan masalah teknis server.
Kepala Desa Tunggulo, Herman Rajak, mengatakan sejak awal diluncurkan, program desa digital memberi manfaat nyata.
Warga merasakan kemudahan mengurus administrasi, mengakses informasi desa lewat anjungan digital, hingga pemberdayaan ekonomi melalui pelatihan UMKM.
“Alhamdulillah, awalnya efektif sekali menunjang pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan ekonomi warga,” ujar Herman Rajak, Jumat (26/7/2025).
Salah satu bukti suksesnya adalah pelatihan pemasaran online bagi pelaku UMKM yang digelar di aula kantor desa.
Kala itu, para kader desa digital mendampingi pelaku usaha memasarkan produk melalui internet.
Sayangnya, capaian tersebut mulai terhambat sejak awal 2025.
Operator utama yang menguasai sistem aplikasi dan website desa digital mengundurkan diri.
“Orang yang operasikan anjungan digital sudah tidak bekerja di sini. Ilmunya sempat ditransfer ke perangkat desa lain, tapi tidak sedalam operator sebelumnya. Jadi layanan digital pun ikut berhenti. Kami masih berusaha mencari pengganti,” jelas Herman.
Selain krisis operator, masalah teknis juga muncul. Server yang menopang sistem digital sering bermasalah.
Website desa pun membutuhkan biaya hosting tahunan yang tidak sedikit.
“Anjungannya masih bagus, tidak rusak. Tapi servernya sering error. Kami harap pemerintah daerah sampai pusat, termasuk Dinas Kominfo, bisa membantu,” imbuh Herman.
Sekretaris Desa Tunggulo, Rolan Hamani, menambahkan bahwa Tunggulo pernah dinobatkan sebagai desa digital terbaik tingkat kabupaten.
“Kami memulai dengan pendataan detail penduduk: jumlah laki-laki, perempuan, hingga balita. Dari situ kami jadi desa percontohan bersama Desa Pone. Sebagai penghargaan, kami dapat PC, printer besar, dan anjungan digital dari Kementerian Desa,” papar Rolan.
Sayangnya, keberlanjutan fasilitas ini kini bergantung pada kemampuan internal desa dan dukungan pemerintah.
“Warga bisa mengurus surat dari rumah lewat link online. Data diisi, kami proses, lalu surat bisa diambil atau dikirim PDF. Tapi semua itu tidak jalan kalau tidak ada operator dan server yang berjalan baik,” ucapnya.
Dulu, operator yang juga diangkat sebagai Duta Digital Desa oleh kementerian masih bertugas.
Bahkan ia mendapat insentif tambahan dari desa. Kini, ia sudah tidak lagi di Tunggulo.
Desa Tunggulo menjadi contoh nyata bahwa digitalisasi desa memang mungkin dilakukan dan bermanfaat.
Namun, keberlanjutan transformasi digital butuh lebih dari sekadar alat. SDM terlatih, pemeliharaan sistem, dan dukungan anggaran adalah syarat mutlak agar inovasi tidak hanya sekadar program jangka pendek yang redup di tengah jalan. (*)
Kalau mau, saya bisa bantu bikin versi lebih pendek, outline rencana liputan, atau infografik ringkas dari isu ini. Mau saya buatin?
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.