Berita Internasional
4 Pemuda Korea Utara Ditangkap Gara-Gara Pakai Bahasa Gaul Drama Korea
Fenomena hallyu atau Gelombang Korea tak hanya mewarnai industri hiburan dunia, tetapi juga diam-diam merembes hingga ke Korea Utara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kim-jong-un-presiden.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Fenomena hallyu atau Gelombang Korea tak hanya mewarnai industri hiburan dunia, tetapi juga diam-diam merembes hingga ke Korea Utara.
Namun, di negara yang terkenal sangat tertutup itu, pengaruh budaya pop Korea Selatan justru dianggap ancaman serius.
Buktinya, baru-baru ini empat pemuda di Kota Chongjin, Provinsi Hamgyong Utara, ditangkap aparat keamanan setempat karena ketahuan berbicara dengan bahasa gaul khas Korea Selatan.
Penangkapan ini terungkap lewat laporan Daily NK yang menyebutkan keempat pemuda berusia dua puluhan itu tertangkap basah menirukan dialog dari film dan drama Korea Selatan yang populer.
Aksi mereka dilaporkan oleh warga sekitar yang mendengar langsung percakapan tersebut.
Saat ini, keempatnya tengah menjalani interogasi intensif di kantor cabang Kementerian Keamanan Negara setempat.
Mereka terancam hukuman kerja paksa hingga satu tahun lamanya.
Sejak lama, Pemerintah Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim Jong Un memang menganggap budaya Korea Selatan sebagai pengaruh “kapitalis dan imperialis” yang dapat melemahkan ideologi sosialis.
Pemerintah pun terus berupaya menutup rapat akses warga pada konten luar, terutama drama dan musik pop Korea.
Aturan tegas mengenai larangan ini bahkan dituangkan dalam Pasal 41 Undang-Undang Jaminan Pendidikan Pemuda yang disahkan pada 2021.
Pasal ini menegaskan kaum muda dilarang menggunakan pola bicara yang dianggap bukan gaya bahasa mereka sendiri.
Meski begitu, kenyataannya banyak generasi muda Korut tetap menonton drama atau mendengarkan K-pop secara sembunyi-sembunyi.
Bahasa gaul seperti jagiya (sayang), oppa (kakak laki-laki), daebak (keren), hingga ekspresi lucu dari drama Korea kerap dipakai dalam percakapan sehari-hari, tentu saja di antara orang-orang terdekat.
“Saat ini anak muda biasanya berhati-hati saat berbicara di depan umum. Tapi ketika sudah bersama teman dekat, mereka meniru dialog dari film Korea tanpa rasa takut,” ujar seorang sumber Daily NK di Chongjin.
Fenomena ini membuat para orang tua semakin khawatir.
Seorang warga Chongjin berusia empat puluhan mengaku cemas anaknya bisa bernasib sama.
“Kalau hanya di rumah, kami bisa menegur anak-anak. Tapi siapa yang tahu apa yang mereka ucapkan di luar? Kita tidak pernah tahu siapa yang akan melapor,” ungkapnya.
Kasus penangkapan empat pemuda Chongjin ini menambah daftar panjang warga Korea Utara yang harus berhadapan dengan hukum hanya karena mencoba mendekat pada budaya pop Korea Selatan.
Bagi generasi muda di Korut, bahasa gaul drama Korea memang bukan sekadar gaya bicara, tapi juga cara sederhana untuk merasakan kebebasan berekspresi, meski risikonya tidak main-main.
Awal Larangan Bahasa Gaul Korea Selatan di Korea Utara
1. Awal Larangan dan Pengendalian Budaya (Sejak 1950-an hingga 1990-an)
Setelah Perang Korea (1950-1953), Korea Utara memperketat kontrol terhadap segala bentuk budaya asing yang dianggap dapat mengancam ideologi negara, terutama budaya Korea Selatan dan Barat.
Pada masa ini, segala bentuk media dan bahasa dari Korea Selatan hampir sepenuhnya dilarang masuk ke Korea Utara.
2. Larangan Bahasa dan Budaya Korea Selatan Makin Ketat (2000-an)
Di era 2000-an, dengan kemajuan teknologi seperti penyebaran ponsel, USB, dan media digital, budaya Korea Selatan, termasuk drama, musik K-pop, dan bahasa gaul, mulai menyusup secara diam-diam ke Korea Utara secara ilegal.
Pemerintah Korut merespons dengan memperketat hukum dan pengawasan, termasuk pelarangan tegas penggunaan bahasa dan ekspresi khas Korea Selatan.
3. Pengesahan Undang-Undang Jaminan Pendidikan Pemuda (2021)
Pada tahun 2021, Korea Utara secara resmi mengesahkan Pasal 41 Undang-Undang Jaminan Pendidikan Pemuda, yang secara khusus melarang kaum muda menggunakan pola bicara atau bahasa “yang aneh dan bukan pola bicara kita sendiri”.
Ini menjadi landasan hukum yang lebih jelas untuk melarang bahasa gaul dan ekspresi Korea Selatan di kalangan generasi muda.
4. Penindakan dan Penangkapan karena Bahasa Gaul Korsel (2022–2025)
Dalam beberapa tahun terakhir, aparat keamanan Korea Utara semakin agresif melakukan penindakan terhadap orang-orang, terutama generasi muda, yang menggunakan bahasa gaul Korea Selatan.
Kasus-kasus penangkapan dan interogasi terkait penggunaan kata-kata khas Korea Selatan seperti "jagiya," "oppa," dan "daebak" mulai dilaporkan, termasuk kasus empat pemuda yang ditangkap di Chongjin pada 2025.
Alasan Korut Larang Pakai Bahasa Gaul Korea Selatan
Larangan penggunaan bahasa gaul Korea Selatan di Korea Utara bukan sekadar soal linguistik, itu adalah bagian dari strategi besar rezim Kim Jong Un untuk menjaga kontrol ideologi, identitas nasional, dan stabilitas kekuasaan.
Berikut adalah alasan-alasan utamanya:
Menjaga Ideologi Sosialis: Pemerintah Korea Utara menganggap bahasa dan budaya Korea Selatan sebagai bentuk “pengaruh kapitalis dan imperialis” yang dapat melemahkan kontrol ideologis mereka.
Kontrol Sosial dan Politik: Bahasa gaul Korea Selatan sering diasosiasikan dengan gaya hidup bebas dan budaya pop yang bertentangan dengan norma ketat Korea Utara.
Menghindari Pengaruh Budaya Asing: Larangan ini bagian dari upaya menutup akses warganya terhadap konten asing yang dianggap dapat menimbulkan perlawanan atau ketidakpuasan terhadap rezim.
(*)
| Mayoritas Senat Dukung Trump, Hasilnya Amerika Bisa Lanjutkan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Ledakan Guncang Ibukota Iran di Hari Kelima Perang dengan Amerika, Serangan Terjadi saat Fajar |
|
|---|
| Terungkap! CCTV Iran Diretas untuk Lacak Rute Harian Ali Khamenei Sebelum 30 Rudal Ditembakkan |
|
|---|
| Fantastis! Amerika Rugi Rp 12 Triliun Hanya dalam 24 Jam Serang Iran, Ini Rincian Biayanya |
|
|---|
| Serangan Udara Hantam Ibu Kota Iran, Amerika Serikat Disebut Turut Terlibat |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.