Jumat, 13 Maret 2026

Lipsus Ikan Nike Gorontalo

Produksi Ikan Nike Gorontalo Tembus 3.700 Ton, Harga Sekarung Capai Rp 800 Ribu

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Gorontalo terus memantau produksi ikan Nike yang menjadi komoditas khas daerah ini. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Produksi Ikan Nike Gorontalo Tembus 3.700 Ton, Harga Sekarung Capai Rp 800 Ribu
FOTO: Wawan Akuba, TribunGorontalo.com
NIKE GORONTALO -- Ikan nike jadi komoditas lokal Gorontalo yang banyak peminatnya. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Gorontalo terus memantau produksi ikan Nike yang menjadi komoditas khas daerah ini. 

Pencatatan hasil tangkapan dilakukan setiap semester dengan data yang dihimpun dari daerah penghasil Nike terbanyak di Gorontalo.

"Hasil produksi Nike itu hanya ada di Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dan Pohuwato," ungkap Validator Data Statistik DKP Provinsi Gorontalo, Muhajir Thaib, Kamis (24/7/2025).

Kabupaten Gorontalo Utara memang memiliki hasil produksi, namun jumlahnya tidak signifikan. 

Untuk tahun 2025, data produksi Nike masih berada di masing-masing dinas kelautan kabupaten/kota.

Baca juga: Ekspor Perikanan Gorontalo ke Luar Negeri Anjlok, Sektor Lain Justru Moncer

Namun jika mengacu pada catatan tahun 2024, jumlah produksi Nike dalam setahun mencapai jutaan kilogram.

"Kalau dalam catatan 2024 itu mencapai 3.708.594 Kg atau 3.700 ton," jelasnya.

Pada triwulan pertama, produksi Nike tercatat sekitar 350 ton. 

Angka ini terus meningkat hingga pertengahan tahun dengan capaian 439 ton, lalu menurun pada bulan terakhir namun masih berada di angka 250 ton.

Jika ditarik dari data lima tahun terakhir, produksi Nike cenderung fluktuatif karena sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Kadir Menu, selaku Pengawas Perikanan DKP Provinsi Gorontalo, menegaskan bahwa potensi produksi ikan Nike sangat diperhitungkan karena merupakan spesies endemik di perairan Teluk Tomini.

Menurutnya, kemunculan ikan Nike berkaitan erat dengan fase bulan mati.

Para nelayan tidak menggunakan hitungan kalender masehi, melainkan pengamatan langsung terhadap peredaran bulan.

Kemunculan hewan laut dengan nama Latin Awaous Melanocephalus ini efektif hasil tangkapannya rata-rata di awal kemunculannya. 

"Untuk maksimal masa pengangkapan Nike ini hanya sekitar dua minggu sejak awal musimnya," beber Kadir.

Setelah lewat minggu kedua, ikan Nike yang tidak tertangkap akan kembali bergerak ke arah sungai.

Tak seperti ikan pada umumnya, alat tangkap untuk Nike pun berbeda.

"Nike ini ditangkap menggunakan waring yang sudah dimodifikasi, namanya Tagahu," jelas Kadir.

Dari segi harga, Nike menjadi komoditas potensial, terutama di hari-hari pertama musim panen.

"Satu karung Nike dengan berat 25 Kilogram bisa mencapai Rp 600-800 ribu," ungkapnya.

Kadir menambahkan bahwa pemasaran ikan Nike juga telah menjangkau wilayah luar Gorontalo.

"Dan untuk pemasaran bisa sampai ke luar daerah," pungkasnya. 

Ikan nike adalah nama yang digunakan untuk merujuk beberapa spesies ikan goby seperti awaous melanocephalus, sicyopterus parvei, sicyopterus cynocephalus, sicyopterus longifilis, sicyopterus lagocephalus, dan stiphodon semoni.

Ikan ini memiliki kuran kecil, dan tubuh ikan dewasa berwarna belang-belang.

Ikan ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Nike juga sering disebut dengan ikan duwo oleh orang Gorontalo.

Kandungan dan Gizi

Dalam keadaan segar, sebagian besar kandungan ikan nike yakni air sekitar 70 persen dan protein 16 persen.

Selain itu, ikan nike juga mengandung kalsium, fosfor, yang bagus untuk pertumbuhan. Ada zinc juga kemudian zat besi. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved