Minggu, 8 Maret 2026

Berita Gorontalo

Masalah Ekonomi Bikin Warga Gorontalo Sering Stres, Laki-Laki Paling Rentan

Tren kesehatan mental di Provinsi Gorontalo makin mencuat dalam beberapa tahun terakhir.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Masalah Ekonomi Bikin Warga Gorontalo Sering Stres, Laki-Laki Paling Rentan
freepik
TERUNGKAP -- Di Gorontalo, stres bukan lagi sekadar keluhan sepele. Faktor ekonomi, relasi, sampai gadget bikin warga tertekan, kaum laki-laki justru paling rentan. Apa kata Dinas Kesehatan dan Psikolog? 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Tren kesehatan mental di Provinsi Gorontalo makin mencuat dalam beberapa tahun terakhir.

Ironisnya, tren ini menunjukkan tanda-tanda yang memprihatinkan karena kasus stres hingga bunuh diri masih kerap terjadi.

Tahun 2023 lalu, sejumlah kasus bunuh diri di Gorontalo tercatat masih berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental yang tak tertangani.

Permasalahan yang memicu stres pun bervariasi, mulai dari persoalan keluarga, hubungan dengan pasangan, hingga tekanan ekonomi yang kian menghimpit.

Fenomena ini turut diakui oleh Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, para psikolog klinis, hingga sejumlah warga yang merasakan sendiri tekanan tersebut.

Baca juga: Pengendara di Gorut Masih Bandel, Helm Tak Dipakai, Surat Tak Lengkap

Ketua Tim Kerja UPL, Keswa dan Napza, Helen Kadir, menjelaskan sebagian besar masyarakat Gorontalo yang mengalami stres didominasi oleh usia dewasa.

Faktor ekonomi disebut jadi pemicu paling besar.

"Kalau orang dewasa lebih ke ekonomi dan permasalahan rumah tangga dan itu permasalahan lebih besar yang kami temui," ujar Helen saat ditemui Tribun Gorontalo, Senin (21/7/2025).

Untuk kalangan anak-anak dan remaja, masalah kesehatan mental lebih banyak dipengaruhi kondisi keluarga dan penggunaan gadget berlebih.

"Kalau anak-anak itu pertama gadget yang kedua perceraian orang tua," sebut Helen.

Laki-Laki Lebih Rentan, Kenapa?

Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Gorontalo, Christy Ruth Titiari Nainggolan, mengungkapkan stres dan depresi di Gorontalo mayoritas dipicu masalah relasi sosial yang buruk, mulai dari pasangan, orang tua, hingga tekanan pekerjaan.

"Kebanyakan masalah relasi, baik kepada pasangan, orang tua, dan pekerjaan," beber Christy.

Data statistik rinci memang masih digarap, tetapi keluhan yang diterima para psikolog sebagian besar mengarah ke persoalan itu.

"Karena data statistik belum kita telusuri lebih mendalam tapi ini sesuai dengan keluhan yang kita dapat di lapangan," tegasnya.

Berdasarkan laporan layanan hotline, kasus gangguan kesehatan mental paling banyak dialami kelompok dewasa awal, yaitu mereka yang berusia 18 hingga 25 tahun.

"Jadi paling banyak kita tangani hampir 60 persen dari usia dewasa awal. Kalau dilihat kebanyakan perempuan tapi ada juga laki-laki," kata Christy.

Meski begitu, kaum laki-laki justru dinilai lebih rentan terkena gangguan mental karena jarang terbuka.

Baca juga: Miris! 1.595 ODGJ di Gorontalo, Hanya 10 Persen yang Tersentuh Faskes

"Ini menjadi faktor kenapa laki-laki lebih gampang terkena gangguan mental. Nah, kalau perempuan sering terbuka dengan orang lain untuk curhat," jelasnya.

 Christy menambahkan, tren kesadaran warga Gorontalo terhadap kesehatan mental sebenarnya mulai meningkat. Namun, keterbatasan biaya menjadi tantangan bagi mereka yang ingin berkonsultasi secara rutin.

"Beberapa keluhan warga karena harga, menurut mereka cukup mahal. Tapi itu sudah murah dari ukuran Jawa," ujarnya.

Ia mengingatkan, masalah kesehatan mental ibarat gunung es — yang terlihat hanya sebagian kecil.

"Selama tiga tahun kita jalani banyak kasus kesehatan mental yang dialami di Gorontalo, bahkan banyak yang mengarah kepada bunuh diri, tidak terlihat tapi tertutup seperti gunung es," paparnya.

Christy pun mendukung rencana pembangunan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Gorontalo agar penanganan kasus berat bisa lebih maksimal.

"RSJ ini kita dukung ada di Gorontalo khususnya penanganan berat," tandasnya.

Kekhawatiran soal masa depan juga dirasakan Nurholis Muhamad, warga Desa Modelidu, Kecamatan Telaga Biru.

"Kalau di usia saya sekarang lebih ke masa depan, jadi terbayang bagaimana nanti besok bisa sukses atau tidak ya," ungkapnya.

Baginya, tekanan juga muncul karena tuntutan status sosial di lingkungan sekitar.

"Biasanya kan di kalangan masyarakat itu sering membandingkan kita sama orang lain, ini yang selalu teringat di kepala," tegasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved