Sabtu, 7 Maret 2026

Lipsus Chromebook

5 Chromebook SDN 21 Dungingi Kota Gorontalo Rusak, Layar Jadi Warna-Warni

Program bantuan digital dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 5 Chromebook SDN 21 Dungingi Kota Gorontalo Rusak, Layar Jadi Warna-Warni
FOTO: Herjianto Tangahu, TribunGorontalo.com
CHROMEBOOK : Kondisi Chromebook di SDN 21 Dungingi Kota Gorontalo, Kamis (17/7/2025). Kondisi Chromebook Rusak, LCD Jadi Warna-warni. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Program bantuan digital dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah menjangkau banyak sekolah di Indonesia, termasuk di Kota Gorontalo. 

Namun dalam pelaksanaannya, tidak semua perangkat bantuan dapat bertahan dalam kondisi baik.

Seperti yang terjadi di SDN 21 Dungingi Kota Gorontalo, di mana lima unit Chromebook mengalami kerusakan pada layar. 

Kerusakan tersebut menimbulkan tampilan layar yang tidak normal, bahkan disebut sudah berubah menjadi "warna-warni".

Kepala Sekolah SDN 21 Dungingi, Dewi Rauf, menjelaskan bahwa sekolahnya menerima bantuan 15 unit Chromebook pada tahun 2020. 

Saat itu, kondisi semua perangkat masih berfungsi normal. 

Sekolah ini bahkan menjadi salah satu yang pertama menerima bantuan, sebelum sekolah-sekolah lainnya mendapatkan pada tahun-tahun berikutnya.

"Total ada 15 biji, ada lima yang sudah tidak bisa digunakan," jelas Dewi kepada TribunGorontalo.com, Kamis (17/7/2025)

Menurutnya, kerusakan tidak terjadi sekaligus, melainkan bertahap dari waktu ke waktu. 

Dugaan utama penyebab kerusakan adalah pada bagian LCD perangkat.

"LCD, cuma layar saja, sudah jadi warna-warni," ungkap salah seorang guru.

Chromebook tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pelaksanaan ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer). 

Penggunaannya pun dikelola oleh bagian aset sekolah. 

Ketika dibutuhkan, perangkat akan diambil dari bagian tersebut dan dikembalikan setelah digunakan.

Meski mengalami kerusakan pada lima unit, 10 unit lainnya masih berfungsi dengan baik. 

Jumlah tersebut dinilai masih cukup memadai, mengingat jumlah siswa SDN 21 Dungingi tidak sebanyak sekolah-sekolah lain di pusat Kota Gorontalo. 

Jumlah murid di sekolah ini berkisar antara 110 hingga 130 siswa.

Hal ini disebabkan karena letak sekolah yang berdekatan dengan beberapa SD negeri maupun swasta, sehingga penyebaran siswa menjadi lebih merata.

Meski tidak menjadi kebutuhan mendesak, pihak sekolah tetap menyampaikan keinginan untuk memperbaiki lima unit Chromebook yang rusak. 

Namun, terbatasnya dana operasional sekolah (BOS) menjadi kendala utama.

"Dana pemeliharaan hanya sekitar 20 persen dari total pagu anggaran selama setahun," jelas Dewi.

Ia menambahkan bahwa ada banyak item lain yang lebih menjadi prioritas untuk dilakukan pemeliharaan melalui dana tersebut.

Faktor penyebab rusaknya lima Chromebook dengan kondisi layar "warna-warni" juga dikaitkan dengan jarangnya perangkat digunakan, serta penyimpanan yang hanya dilakukan di dalam lemari biasa, bukan laboratorium.

"Mungkin karena jarang dipakai, kalau saya tanya ke teman-teman biasanya juga karena jarang penggunaan," ungkap seorang guru.

Selain itu, Dewi menyebutkan bahwa penggunaan Chromebook tidak hanya dilakukan oleh guru, tetapi juga melibatkan siswa-siswi. 

Menurutnya, hal ini membuat perangkat lebih rentan mengalami kerusakan karena tidak seluruh aktivitas siswa dapat diawasi secara ketat.

"Ini bukan hanya guru yang gunakan, tapi juga siswa," tuturnya.

SDN 50 Dumbo Raya

Chromebook bantuan pemerintah pusat di SDN 50 Dumbo Raya, Kota Gorontalo, memang masih berfungsi baik meski sudah digunakan sejak tahun 2020.

Namun, di balik kondisinya yang awet, para siswa, terutama di kelas rendah, ternyata kesulitan mengoperasikannya.

SDN 50 Dumbo Raya tercatat menerima 15 unit Chromebook pada 2020, sebagai bagian dari program bantuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Guru kelas IV SDN 50, Moh Hidayat Rauf, mengatakan semua unit masih terawat dengan baik.

“Alhamdulillah sampai sekarang kondisinya baik semua,” ujar Hidayat kepada Tribun Gorontalo, Kamis (17/7/2025).

Dalam praktiknya, laptop Chromebook ini digunakan siswa dan guru untuk mendukung proses belajar mengajar, misalnya untuk mencari materi melalui internet atau untuk pelaksanaan ujian berbasis digital.

Namun, Hidayat mengakui tidak semua siswa mudah menggunakan perangkat tersebut. Anak-anak di kelas rendah (kelas 1–4) justru kerap kesulitan.

“Anak-anak kelas rendah kita bimbing, tapi memang agak sulit. Kecuali anak-anak kelas 5–6, mereka sudah lumayan mahir,” ungkapnya.

Akibatnya, pemanfaatan Chromebook di luar jadwal ujian pun tidak maksimal.

Seringkali hanya beberapa unit saja yang benar-benar dipakai dalam kegiatan belajar di kelas.

Dari 15 unit yang ada, rata-rata hanya lima unit yang aktif digunakan sehari-hari, sementara sisanya disimpan di lemari sekolah.

Awal Kasus

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, menjalani pemeriksaan intensif selama 12 jam oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) pada Senin, 23 Juni 2025.

Pemeriksaan ini berkaitan dengan dugaan kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook senilai Rp 9,9 triliun.

Nadiem tiba di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta Selatan, sekitar pukul 09.10 WIB dan baru terlihat keluar pada pukul 21.00 WIB.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Harli Siregar, mengungkapkan bahwa penyidik mendalami peran Nadiem dalam kapasitasnya sebagai menteri pada saat itu.

Fokus utama pemeriksaan adalah sejauh mana pengetahuan Nadiem terkait penggunaan anggaran Rp 9,9 triliun untuk proyek pengadaan Chromebook.

Selain itu, penyidik juga mengkonfirmasi perihal rapat yang diselenggarakan pada 6 Mei 2020. Rapat ini menjadi sorotan karena dianggap janggal.

Harli menjelaskan bahwa meskipun kajian teknis pengadaan laptop sudah dilakukan sejak April 2020 dan menyimpulkan Chromebook tidak efektif.

Sebab, keputusan untuk pengadaan justru muncul setelah rapat di bulan Mei tersebut, yang kemudian berubah di bulan Juni atau Juli.

Kejanggalan ini menjadi salah satu poin penting yang digali penyidik.

Harli belum dapat memastikan apakah akan ada pemeriksaan lanjutan terhadap Nadiem.

Ia mengindikasikan bahwa masih ada data yang belum diserahkan dan pertanyaan yang perlu didalami lebih lanjut, serta akan dikonfirmasi dengan keterangan dari pihak-pihak lain.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved