Berita Viral
Mawar Berganti Gajah, Logo Baru PSI Bocor ke Publik Jelang Kongres, Ternyata Ini Filosofinya
Beberapa waktu lalu logo baru Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi perbincangan publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-logo-lama-dan-logo-baru-PSI.jpg)
Perubahan logo PSI menjadi gajah ini mulai terlihat dari adanya atribut partai seperti bendera dan spanduk yang mulai tersebar di berbagai titik strategis Kota Solo sejak Senin (14/7/2025).
Menjelang kongres, beberapa atribut di Solo menampilkan logo gajah disertai narasi “PSI Partai Super Tbk” pada bendera.
Kemudian, isi slogan di spanduk bertuliskan: "E-Voting" Calon Ketua Umum PSI, Sindiran Halus ke Parpol yang Dikuasai Segelintir Elite? “KONGRES PSI 2025, PSI PARTAI SUPER TERBUKA. Dukung Prabowo-Gibran Menuju Indonesia Raya.”
Lantas, apa filosofi lambang gajah pada logo baru PSI?
Perubahan lambang partai dari bunga mawar menjadi gajah disebut mencerminkan visi baru PSI sebagai partai yang kuat, terbuka, dan berpijak pada rakyat.
Hewan gajah juga dinilai sebagai simbol kekuatan, kecerdasan, dan daya ingat yang kuat—karakter yang ingin ditonjolkan PSI dalam panggung politik nasional.
Baca juga: Terungkap Peran Nadiem Makariem dalam Korupsi Pengadaan Chromebook, Terlibat Sebelum Jadi Menteri
Rebranding saja tak cukup
Dengan adanya rebranding dan logo baru PSI, akankah partai tersebut mampu lolos Parlemen 2029 mendatang?
Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, PSI tidak cukup hanya melakukan rebranding untuk memenangkan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2029.
Adi menilai, hal utama bagi partai politik untuk memenangkan suara adalah dengan memberikan kinerja yang menyentuh langsung ke rakyat.
"Saat ini pemilih enggak peduli dengan branding partai, karena hampir semua partai sama branding-nya, tapi jauh dari realitas lapangan," ucap Adi, saat dihubungi, Selasa malam. Akademisi itu menerangkan sejumlah aspek yang menjadi kunci partai kuat dan besar.
Aspek tersebut yakni partai yang punya basis massa yang solid dan militan, punya kerja politik ke akar rumput, dan program pro rakyat yang dirasakan langsung manfaatnya.
Oleh karenanya, branding itu bukan jawaban supaya partai kuat dan besar. Selain itu, branding suatu partai dinilai sebagai kebutuhan narasi dan kampanye udara seperti di media dan medsos.
"Dulu PSI branding-nya partai anak muda, inklusif, toleran, anti politik dinasti. Dalam perkembangannya PSI justru sama saja dengan partai lain. Lain branding, lain tindakan. Bahkan branding PSI tak bisa antarkan partai ini lolos Parlemen," tutur dia.
(TribunGorontalo.com/Tribunnews.com/Kompas.com)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menanti "Surprise" Logo Baru PSI, Apakah "Rebranding" Saja Cukup?"