UT Gorontalo
UT Gorontalo dan Kantor Bahasa Perkuat Pelestarian Bahasa Lewat Kerja Sama Strategis
Universitas Terbuka (UT) Gorontalo menunjukkan komitmen kuat dalam pelestarian bahasa dan penguatan Tridharma perguruan tinggi melalui penandatanganan
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/UT-GORONTALO-Direktur-UT-Gorontalo-Safriansyah-kemeja-batik-peci-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Universitas Terbuka (UT) Gorontalo menunjukkan komitmen kuat dalam pelestarian bahasa dan penguatan Tridharma perguruan tinggi melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo.
Kesepakatan strategis tersebut diteken bertepatan dengan puncak acara Penganugerahan Duta Bahasa Provinsi Gorontalo 2025 yang digelar di Kantor Bahasa Gorontalo pada Jumat (4/7/2025).
Acara ini dibuka dengan penampilan tarian tradisional khas Gorontalo, yang memeriahkan suasana sejak awal.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah pejabat dan mitra, serta sesi sosialisasi program "Cinta, Bangga, Paham Rupiah" yang diinisiasi oleh Bank Indonesia.
Kemeriahan dan antusiasme peserta serta tamu undangan terlihat jelas sepanjang acara, mencerminkan semangat kolaborasi dalam penguatan kebahasaan dan kebudayaan daerah.
Komitmen UT Gorontalo Jalankan Tridharma
Direktur UT Gorontalo, Safriansyah, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk nyata sinergi dalam menjalankan Tridharma perguruan tinggi, khususnya di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Kerja sama ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pendidikan, pelatihan, hingga pelestarian bahasa—terutama bahasa daerah di Gorontalo. Ini akan kami integrasikan ke dalam berbagai aktivitas akademik,” ungkap Safriansyah kepada TribunGorontalo.com.
Menurutnya, pelestarian bahasa tidak hanya menjadi tugas lembaga bahasa, melainkan tanggung jawab bersama, termasuk institusi pendidikan tinggi.
Ia menyebut bahwa bahasa adalah bagian penting dari identitas dan budaya lokal yang harus terus dijaga dan diperkuat.
Sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin, UT Gorontalo juga menyerahkan plakat penghargaan kepada Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo.
Simbolisasi ini menjadi penanda hubungan yang lebih erat antara kedua institusi dalam bidang linguistik dan kebudayaan.
Lebih jauh, UT Gorontalo juga menunjukkan dukungan aktif terhadap ajang tahunan Duta Bahasa dengan mengutus satu mahasiswa terbaiknya untuk berkompetisi dalam pemilihan tahun ini.
“Meski seleksinya sangat ketat, kami tetap antusias mengirimkan perwakilan. Harapan kami, mahasiswa UT Gorontalo bisa meraih hasil terbaik dan mewakili Provinsi Gorontalo di tingkat nasional,” ujar Safriansyah.
Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, Arie Andrasyah Isa, menyambut positif kolaborasi yang dilakukan UT Gorontalo.
Ia menyebut bahwa pemilihan Duta Bahasa merupakan salah satu ajang penting untuk mendorong penguasaan bahasa secara menyeluruh—meliputi bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing.
“Kegiatan ini menjadi medium strategis untuk memperkuat daya saing generasi muda melalui penguasaan bahasa. Kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti UT Gorontalo tentu sangat kami apresiasi,” tuturnya.
Menurut Arie, keberadaan Duta Bahasa bukan sekadar simbol, tetapi agen yang membawa misi pelestarian dan pembinaan bahasa di kalangan generasi muda.
Dengan terjalinnya kerja sama ini, UT Gorontalo berharap bisa memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dan lembaga bahasa dalam menjaga kekayaan linguistik di daerah.
Kolaborasi ini juga diharapkan mampu mendorong berbagai program akademik yang berfokus pada pelatihan, penelitian kebahasaan, hingga kegiatan pengabdian masyarakat berbasis bahasa dan budaya.
MoU yang diteken menjadi awal dari langkah strategis berkelanjutan dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam dunia pendidikan tinggi, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk terlibat aktif dalam pelestarian bahasa.
“Kami percaya, bahasa adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Dan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk menjaganya,” tutup Safriansyah.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.