Berita Nasional
Tewas di Rinjani, Juliana Bikin Presiden Brasil Cabut Aturan Lama: Negara Akan Pulangkan Jenazahnya
Proses evakuasi sempat terkendala cuaca buruk dan medan ekstrem, hingga akhirnya jenazahnya berhasil dievakuasi tiga hari kemudian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Juliana-Marins.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM––Tragedi yang menimpa Juliana Marins (26), pendaki asal Brasil yang tewas saat mendaki Gunung Rinjani, Lombok, mengguncang negeri asalnya.
Kejadian memilukan ini bahkan membuat Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, mencabut aturan lama demi memulangkan jenazah Juliana ke kampung halamannya.
Juliana dilaporkan terjatuh ke kawah Rinjani saat mendaki Sabtu dini hari, 21 Juni 2025.
Proses evakuasi sempat terkendala cuaca buruk dan medan ekstrem, hingga akhirnya jenazahnya berhasil dievakuasi tiga hari kemudian dalam kondisi tak bernyawa.
Dalam pernyataan emosionalnya pada Kamis (26/6/2025), Lula menyatakan akan mencabut peraturan lama yang selama ini melarang pemerintah membiayai pemulangan jenazah WN Brasil dari luar negeri.
Baca juga: Gempa Bumi Terkini dengan SR 1,9 Menguncang Wilayah Pulau Sumatera, Indonesia BMKG: Kedalaman 125Km
Langkah itu diumumkan hanya sehari setelah Kementerian
Luar Negeri Brasil (Itamaraty) menegaskan bahwa sesuai dengan Decreto nº 9.199/2017, negara tidak bisa menggunakan dana publik untuk menanggung pemulangan jenazah, kecuali dalam kondisi darurat medis atau kemanusiaan.
Namun, tekanan publik, gelombang dukungan dari masyarakat, serta komunikasi langsung dengan ayah Juliana, Manoel Marins, membuat Lula bergerak cepat.
Ia menyatakan akan membuat dekrit baru yang memungkinkan negara menanggung penuh biaya repatriasi jenazah Juliana dari Indonesia ke Brasil.
“Ketika saya tiba di Brasília, saya akan mencabut dekrit itu. Saya akan menandatangani dekrit baru agar pemerintah Brasil bisa menanggung pemulangan jenazah Juliana,” kata Lula dalam pidatonya di São Paulo.
Juliana Jatuh ke Kawah, Evakuasi Terkendala Medan dan Cuaca
Juliana Marins dikabarkan terjatuh ke kawah Gunung Rinjani saat melakukan pendakian pada Sabtu dini hari, 21 Juni 2025.
Proses evakuasi berjalan lambat karena medan yang ekstrem dan cuaca buruk. Setelah tiga hari, tim penyelamat baru berhasil menjangkau tubuh Juliana pada Selasa (24/6), namun ia sudah dalam kondisi meninggal dunia.
Jenazah Juliana baru berhasil dievakuasi sepenuhnya dari tebing curam tempat ia terperosok pada Rabu (25/6).
Proses evakuasi berlangsung dramatis dan memakan waktu hingga 15 jam.
Pihak keluarga mengkritik keras lambannya respon tim penyelamat Indonesia, yang menurut mereka, baru bertindak setelah salah satu rekan Juliana turun gunung untuk meminta bantuan.
“Empat hari Juliana menunggu bantuan yang tak kunjung datang. Kami tidak akan diam. Kami akan menuntut keadilan atas kelalaian ini,” tulis keluarga dalam akun Instagram @resgatejulianamarins.
Baca juga: Kronologi Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Perjalanan Dinas Pemkot Gorontalo Terendus Kejati
Presiden, Ibu Negara, hingga Walikota Niterói Turut Bergerak
Presiden Lula bukan satu-satunya pejabat publik yang menunjukkan empati. Ibu Negara Brasil, Rosângela “Janja” da Silva, juga turun tangan.
Ia menyatakan bahwa Presiden telah menandatangani dekrit baru agar jenazah Juliana bisa segera dipulangkan.
“Hari ini, saya berbicara dengan Mari, saudari Juliana. Kami mengenang betapa Ju adalah sosok yang berani mengejar mimpinya. Kini, negara bertanggung jawab membawa Ju pulang,” ujar Janja lewat akun media sosialnya.
Sebelumnya, Wali Kota Niterói Rodrigo Neves juga sempat menawarkan bantuan dengan menyatakan siap menanggung biaya pemulangan jenazah warganya itu. Bahkan, pesepak bola Brasil Alexandre Pato juga ikut menyatakan kesediaan untuk menanggung biaya repatriasi.
Namun, kini dengan keputusan resmi Presiden, pemerintah pusat Brasil mengambil alih seluruh proses repatriasi Juliana Marins dari Indonesia ke tanah kelahirannya di Niterói, negara bagian Rio de Janeiro.
Kebijakan Lama Dicabut, Netizen Merespons Keras
Sebelum pengumuman Lula, Itamaraty mendapat hujan kritik dari publik.
Netizen menyebut pemerintah tidak hadir dalam saat-saat genting warganya di luar negeri.
Salah satu komentar yang viral berbunyi:
“Kalau untuk menyelamatkan kuda waktu banjir Lula bisa turun tangan, kenapa untuk manusia sendiri dia harus pikir-pikir?”
Bahkan ada yang membandingkan dengan keputusan pemerintah Brasil yang pernah mengirim pesawat khusus milik Angkatan Udara Brasil (FAB) untuk menjemput eks ibu negara Peru, Nadine Heredia, yang mendapatkan suaka politik di Brasil.
Baca juga: Bupati Bone Bolango Gorontalo Ismet Mile Tegaskan Anak Harus Dilindungi
Kini, setelah keputusan resmi Lula diumumkan, banyak yang memberi apresiasi atas sikap cepat Presiden.
Walau sebagian menyebut langkah ini sebagai “hasil tekanan publik,” publik menilai bahwa yang terpenting adalah negara hadir untuk warganya, bahkan hingga akhir hayat.
Jenazah Segera Dipulangkan, Autopsi di Bali
Jenazah Juliana saat ini tengah berada di Bali untuk proses autopsi resmi oleh otoritas Indonesia. Autopsi ini dilakukan guna mengetahui secara pasti penyebab kematiannya.
Setelah hasil autopsi selesai, jenazah akan segera diterbangkan ke Brasil dan dimakamkan di Niterói.
Belum ada jadwal pasti pemakaman, namun pihak keluarga memastikan semua proses akan dilakukan dengan penuh penghormatan.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.