Minggu, 8 Maret 2026

Harga BBM

Siap-siap Harga BBM di Indonesia Terancam Naik Drastis Apabila Selat Hormuz di Iran Ditutup

Siap-siap harga BBM di Indonesia bakal naik pesat jika Selat Hormuz ditutup oleh Iran akibat konflik yang tengah terjadi.

Tayang:
Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Siap-siap Harga BBM di Indonesia Terancam Naik Drastis Apabila Selat Hormuz di Iran Ditutup
Tribun-timur.com
HARGA BBM - Ilustrasi pengisian BBM di SPBU wilayah Pertamina Sulawesi, pada 2024 lalu. Harga BBM ini bakal naik drastis apabila Selat Hormuz ditutup Iran 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Siap-siap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia bakal naik pesat.

Harga BBM bakal naik jika Selat Hormuz ditutup oleh Iran akibat konflik yang sementara terjadi

Selat Hormuz adalah titik persimpangan minyak paling penting di dunia.

Banyak negara yang sangat bergantung pada aliran ini.

Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), yang menyebut saluran tersebut sebagai "titik kritis pasokan minyak."

Jika Selat Hormuz ditutup maka tak hanya minyak bumi yang akan goyah, namun perekonomian suatu negara juga akan terdampak.

Baca juga: Lowongan Kerja BUMN Bank BTN Dibuka Juni 2025, Terbuka Untuk Lulusan S1!

Dilansir dari Tribun-Timur.com, Indonesia secara langsung akan merasakan dampak yang besar akibat hal tersebut.

Kini rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran mulai ramai jadi pembahasan.

Jika Selat Hormuz ditutup, rakyat Indonesia langsung merasakan dampak.

Penutupan Selat Hormuz berdampak pada perekonomian Indonesia.

Baca juga: Ingin Kuliah di Luar Negeri? Kamu Bisa Daftar 5 Beasiswa Ini, Hanya Perlu Nilai IPK 3.0

Hal itu disampaikan Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Puan) TB Hasanuddin.

TB Hasanuddin mengatakan, sebagai negara importir minyak utama dari Timur Tengah, Indonesia akan terdampak dalam beberapa hari.

Indonesia akan merasakan, pembengkakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada APBN, kenaikan harga BBM domestik, serta inflasi akibat tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Selain itu, Indonesia juga mengalami hambatan pasokan energi lain, yaitu LPG yang diimpor dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) yang melewati Selat Hormuz.

“Peningkatan biaya logistik juga akan terjadi jika Indonesia harus mencari jalur alternatif untuk suplai energi,” ujar TB Hasanuddin kepada wartawan, Selasa (24/6/2025).

Dalam menghadapi situasi ini, TB Hasanuddin menyarankan langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh Indonesia, seperti diversifikasi sumber energi ke energi terbarukan, mengupayakan diplomasi energi dengan negara-negara di luar Teluk Persia, serta memperkuat cadangan energi strategis dan mempercepat pembangunan kilang minyak dalam negeri.

Hal ini penting untuk menghindari Indonesia dari krisis energi jika eskalasi konflik makin tinggi.

Baca juga: Dana BSU 2025 Resmi Cair Rp600 Ribu Mulai 23 Juni di Rekening Himbara! Begini Cara Ceknya

Mengenai eskalasi konflik pasca serangan AS ke Iran, TB Hasanuddin mengingatkan potensi peningkatan konflik jika Iran melakukan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Irak, Suriah, Qatar, atau UEA.

“Kemungkinan eskalasi juga meningkat jika Iran menyerang kapal perang atau tanker minyak di Teluk Persia. Penguatan kelompok militan pro-Iran seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak juga dapat melancarkan serangan asimetris terhadap AS, Israel, dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah,” ucapnya.

Ia menegaskan, situasi ini berpotensi menyebabkan perang terbuka antara negara-negara besar dunia, seperti Rusia, China, Inggris, Prancis, dan AS, apabila polaritas konflik terus meningkat.

Dia menjelaskan, Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak mentah yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia. 

Setiap hari, sekitar 20-30 persen minyak mentah global melewati jalur ini.

Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini dan potensi penutupan Selat Hormuz membawa risiko serius bagi stabilitas pasokan energi dunia, termasuk Indonesia.

“Blokade Selat Hormuz akan menyebabkan terganggunya pasokan minyak dan memicu kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujar TB Hasanuddin.

Sedangkan harga minyak mentah Brent naik dari USD 65 per barrel di awal Juni menjadi USD 73 di pertengahan Juni 2025. 

Baca juga: Tak Semua Pekerja Dapat BSU 2025, Ini 5 Golongan yang Dipastikan Tidak Dapat Bantuan

Jika Iran benar-benqr menutup selat ini, maka harga minyak dan LNG ke depan akan naik, dan berpotensi harga minyak mentah bisa naik di atas USD 90 per barrel.

Walaupun hingga saat ini kedua negara belum menargetkan serangan ke fasilitas-fasilitas migas, namun potensi serangan tetap ada dan ini merugikan suplai minyak mentah dunia. 

Iran sendiri diketahui memiliki cadangan minyak nomor delapan di dunia dan cadangan gas nomor empat di dunia. Diperkirakan 3 persen suplai minyak mentah di dunia akan terganggu.

Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran bersiap menutup Selat Hormuz setelah Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir di negara itu pada Minggu (22/6).

Berdasarkan laporan Press TV dikutip dari Reuters, keputusan Dewan Tertinggi Keamanan Iran tersebut harus diambil setelah parlemen mendukung penuh rencana blokade Selat Hormuz.

Iran sebelumnya mengancam akan menutup selat yang amat penting untuk sekitar 20 persen permintaan minyak dan gas dunia itu.

Baca juga: Jemaah Haji Wafat Atau Cacat Akan Dapat Asuransi, Ini Cara Klaim dan Dokumen yang Wajib Disiapkan

Ancaman itu disampaikan sebagai cara untuk menangkal tekanan negara-negara Barat yang kini mencapai puncaknya setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran.

Keputusan untuk menutup Selat Hormuz belum final dan belum dilaporkan secara resmi bahwa parlemen telah mengadopsi rancangan undang-undang berkaitan dengan rencana itu.

Berikut simak update daftar harga BBM Pertamina terbaru untuk seluruh Indonesia pada hari ini Selasa 24 Juni 2025, dilansir dari mypertamina.id.

1. Provinsi Aceh
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

2. Free Trade Zone (FTZ) Sabang
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp11.400
- Pertamax Turbo: -
- Dexlite: Rp11.920
- Pertamina Dex: -

3. Provinsi Sumatera Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.700
- Pertamax Turbo: Rp13.600
- Dexlite: Rp13.290
- Pertamina Dex: Rp13.800

4. Provinsi Riau
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.700
- Pertamax Turbo: Rp13.600
- Dexlite: Rp13.290
- Pertamina Dex: Rp13.800

5. Provinsi Kepulauan Riau
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.700
- Pertamax Turbo: Rp13.600
- Dexlite: Rp13.290
- Pertamina Dex: Rp13.800

6. Provinsi Bengkulu
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.700
- Pertamax Turbo: Rp13.600
- Dexlite: Rp13.290
- Pertamina Dex: Rp13.800

7. Provinsi Sumatera Utara
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.850
- Dexlite: Rp13.700
- Pertamina Dex: Rp14.100

8. Provinsi Sumatera Selatan
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.850
- Dexlite: Rp13.700
- Pertamina Dex: Rp14.100

9. Provinsi Jambi
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.850
- Dexlite: Rp13.700
- Pertamina Dex: Rp14.100

10. Provinsi Lampung
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.850
- Dexlite: Rp13.700
- Pertamina Dex: Rp14.100

11. Provinsi Bangka Belitung
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.850
- Dexlite: Rp13.700
- Pertamina Dex: Rp14.100

12. Free Trade Zone (FTZ) Batam
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp11.600
- Pertamax Turbo: Rp12.350
- Dexlite: Rp12.080
- Pertamina Dex: Rp12.550

13. Provinsi DKI Jakarta
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.100
- Pertamax Turbo: Rp13.050
- Pertamax Green 95: Rp12.800
- Dexlite: Rp12.740
- Pertamina Dex: Rp13.200

14. Provinsi Banten
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.100
- Pertamax Turbo: Rp13.050
- Pertamax Green 95: Rp12.800
- Dexlite: Rp12.740
- Pertamina Dex: Rp13.200

15. Provinsi Jawa Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.100
- Pertamax Turbo: Rp13.050
- Pertamax Green 95: Rp12.800
- Dexlite: Rp12.740
- Pertamina Dex: Rp13.200

16. Provinsi Jawa Tengah
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.100
- Pertamax Turbo: Rp13.050
- Pertamax Green 95: Rp12.800
- Dexlite: Rp12.740
- Pertamina Dex: Rp13.200

17. Provinsi DI Yogyakarta
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.100
- Pertamax Turbo: Rp13.050
- Pertamax Green 95: Rp12.800
- Dexlite: Rp12.740
- Pertamina Dex: Rp13.200

18. Provinsi Jawa Timur
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.100
- Pertamax Turbo: Rp13.050
- Pertamax Green 95: Rp12.800
- Dexlite: Rp12.740
- Pertamina Dex: Rp13.200

19. Provinsi Bali
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.100
- Pertamax Turbo: Rp13.050
- Pertamax Green 95: Rp12.800
- Dexlite: Rp12.740
- Pertamina Dex: Rp13.200

20. Provinsi Nusa Tenggara Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.100
- Pertamax Turbo: Rp13.050
- Pertamax Green 95: Rp12.800
- Dexlite: Rp12.740
- Pertamina Dex: Rp13.200

21. Provinsi Nusa Tenggara Timur
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Biosolar Nonsubsidi: Rp12.640
- Pertamax: Rp12.100
- Pertamax Turbo: Rp13.050
- Dexlite: Rp12.740
- Pertamina Dex: Rp13.200

22. Provinsi Kalimantan Timur
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

23. Provinsi Kalimantan Tengah
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

24. Provinsi Kalimantan Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

25. Provinsi Kalimantan Utara
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.700
- Pertamax Turbo: Rp13.600
- Dexlite: Rp13.290
- Pertamina Dex: Rp13.800

26. Provinsi Kalimantan Selatan
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.700
- Pertamax Turbo: Rp13.600
- Dexlite: Rp13.290
- Pertamina Dex: Rp13.800

27. Provinsi Sulawesi Selatan
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

28. Provinsi Sulawesi Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

29. Provinsi Sulawesi Tenggara
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

30. Provinsi Sulawesi Tengah
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

31. Provinsi Sulawesi Utara
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

32. Provinsi Gorontalo
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: Rp13.350
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

33. Provinsi Maluku
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: -
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: -

34. Provinsi Maluku Utara
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: -
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: -

35. Provinsi Papua
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: -
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: -

36. Provinsi Papua Pegunungan
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: -
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: -

37. Provinsi Papua Tengah
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: -
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: -

38. Provinsi Papua Selatan
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: -
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: -

39. Provinsi Papua Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: -
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500

40. Provinsi Papua Barat Daya
- Pertalite: Rp10.000
- Bio-solar (subsidi): Rp6.800
- Pertamax: Rp12.400
- Pertamax Turbo: -
- Dexlite: Rp13.020
- Pertamina Dex: Rp13.500. (*)


Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved