Berita Gorontalo
Terungkap Alasan Rumah-Rumah di Bantaran Sungai Bone Gorontalo Ditinggal Pemilik
Deretan rumah di bantaran Sungai Bone, tepatnya di Kelurahan Botu, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, kini tampak lengang.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Deretan rumah di bantaran Sungai Bone, tepatnya di Kelurahan Botu, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, kini tampak lengang.
Salah satu rumah bercat hijau kebiruan berdiri sunyi, seolah menyimpan cerita tentang ancaman banjir yang kian nyata.
Sekilas rumah itu masih terlihat asri dan kokoh, namun kenyataannya telah lama ditinggalkan penghuninya.
Bukan karena tak layak huni, melainkan karena terlalu berisiko.
Rumah tersebut milik Husain Abogu. Kini, rumah itu menjadi satu dari dua bangunan yang tersisa setelah empat rumah sebelumnya terdampak langsung banjir.
Dua lainnya sudah hilang, satu terseret arus Sungai Bone pada Juli tahun lalu, dan satu lagi roboh tak bersisa.
"Saat ini rumah sudah kosong, ibu saya, saya ajak tinggal di rumah," kata Husain kepada TribunGorontalo.com, Minggu (22/6/2025). Rumah Husain sendiri hanya bersisian dengan rumah ibunya.
Meski sudah pindah, Husain tetap dihantui rasa waswas.
Ia tinggal bersama istri dan tiga anak, dan rasa cemas datang setiap kali hujan mengguyur wilayah itu.
"Dulu rumah kami juga diterjang banjir tahun 2006, setelah itu kami pindah ke sini karena dulu lokasinya dianggap aman. Tapi sekarang sungai makin dekat," ungkapnya.
Aliran Sungai Bone terus merayap mendekati permukiman warga.
Dalam 16 tahun, garis aman yang dulu dipilih Husain sudah tak lagi menjamin keselamatan.
Tahun 2020 menjadi awal kekhawatiran besar saat tanggul jebol.
“Pembatas seperti pagar dan boronjo hanyut semua,” katanya.
Puncaknya terjadi pada 2024, saat rumah yang tersisa hanya berjarak beberapa meter dari derasnya arus sungai.
"Kalau hujan pasti was-was, apalagi kalau malam," ujar Husain lirih.
Tak hanya di Kelurahan Botu, warga Kelurahan Bugis yang bermukim di bantaran Sungai Bone juga menyuarakan keresahan yang sama.
"Tanggul itu penting sekali, tapi kalau hanya seperti boronjo itu cepat rusak," ucap seorang warga, menuntut perhatian lebih serius dari pemerintah.
Kini, warga menggantungkan harapan mereka pada langkah konkret dari pemerintah daerah.
Mereka tak lagi sekadar meminta bantuan sementara, tetapi solusi jangka panjang agar tak terus hidup dalam bayang-bayang bencana. (*/Jian)
| Nilai Zakat Fitrah Seluruh Wilayah di Gorontalo, dari Rp 40-45 Ribu, Berikut Detilnya |
|
|---|
| 5 Karyawan Tambang Pani Pohuwato Gorontalo Diduga Curi Material Mengandung Emas, 10 Kg Dibawa ke Kos |
|
|---|
| Jumlah Polisi Bersertifikat Tilang di Gorontalo Masih Terbatas, Polda Datangkan Tim Uji ke Daerah |
|
|---|
| Khutbah Berbasis Sains, Kadis Kesehatan Provinsi Gorontalo Uraikan Manfaat Medis dari Perbuatan Baik |
|
|---|
| Sampah Liar Cemari Akses Menuju RSUD Toto Gorontalo, Papan Larangan Tak Digubris |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BANJIR-Rumah-ibu-Husain-Abogu-di-Kelurahan-Botu-Kota-Gorontalo.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.