Berita Gorontalo

Terungkap Alasan Rumah-Rumah di Bantaran Sungai Bone Gorontalo Ditinggal Pemilik

Deretan rumah di bantaran Sungai Bone, tepatnya di Kelurahan Botu, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, kini tampak lengang.

Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
FOTO: Herjianto Tangahu, TribunGorontalo.com
BANJIR : Rumah ibu Husain Abogu di Kelurahan Botu, Kota Gorontalo, Minggu (23/6/2025). Rumah tersebut kini dibiarkan kosong karena rawan banjir. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Deretan rumah di bantaran Sungai Bone, tepatnya di Kelurahan Botu, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, kini tampak lengang.

Salah satu rumah bercat hijau kebiruan berdiri sunyi, seolah menyimpan cerita tentang ancaman banjir yang kian nyata.

Sekilas rumah itu masih terlihat asri dan kokoh, namun kenyataannya telah lama ditinggalkan penghuninya.

Bukan karena tak layak huni, melainkan karena terlalu berisiko.

Rumah tersebut milik Husain Abogu. Kini, rumah itu menjadi satu dari dua bangunan yang tersisa setelah empat rumah sebelumnya terdampak langsung banjir.

Dua lainnya sudah hilang, satu terseret arus Sungai Bone pada Juli tahun lalu, dan satu lagi roboh tak bersisa.

"Saat ini rumah sudah kosong, ibu saya, saya ajak tinggal di rumah," kata Husain kepada TribunGorontalo.com, Minggu (22/6/2025). Rumah Husain sendiri hanya bersisian dengan rumah ibunya.

Meski sudah pindah, Husain tetap dihantui rasa waswas.

Ia tinggal bersama istri dan tiga anak, dan rasa cemas datang setiap kali hujan mengguyur wilayah itu.

"Dulu rumah kami juga diterjang banjir tahun 2006, setelah itu kami pindah ke sini karena dulu lokasinya dianggap aman. Tapi sekarang sungai makin dekat," ungkapnya.

Aliran Sungai Bone terus merayap mendekati permukiman warga.

Dalam 16 tahun, garis aman yang dulu dipilih Husain sudah tak lagi menjamin keselamatan.

Tahun 2020 menjadi awal kekhawatiran besar saat tanggul jebol.

“Pembatas seperti pagar dan boronjo hanyut semua,” katanya.

Puncaknya terjadi pada 2024, saat rumah yang tersisa hanya berjarak beberapa meter dari derasnya arus sungai.

"Kalau hujan pasti was-was, apalagi kalau malam," ujar Husain lirih.

Tak hanya di Kelurahan Botu, warga Kelurahan Bugis yang bermukim di bantaran Sungai Bone juga menyuarakan keresahan yang sama.

"Tanggul itu penting sekali, tapi kalau hanya seperti boronjo itu cepat rusak," ucap seorang warga, menuntut perhatian lebih serius dari pemerintah.

Kini, warga menggantungkan harapan mereka pada langkah konkret dari pemerintah daerah.

Mereka tak lagi sekadar meminta bantuan sementara, tetapi solusi jangka panjang agar tak terus hidup dalam bayang-bayang bencana. (*/Jian)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved