Selasa, 24 Maret 2026

Perempuan Inspiratif Gorontalo

Nurlin Amelia Mahasiswi Gorontalo Belajar Bahasa Isyarat demi Perjuangkan Hak Disabilitas

Nurlin Amelia Chelsi Ngadi (22) merupakan mahasiswi semester ke-6 Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Nurlin Amelia Mahasiswi Gorontalo Belajar Bahasa Isyarat demi Perjuangkan Hak Disabilitas
TribunGorontalo.com/Hand Over
PEREMPUAN INSPIRATIF -- Nurlin Amelia Chelsi Ngadi (22), mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Nurlin bertekad terus memperjuangkan hak-hak disabilitas. 

(Penulis: Mawar Hardiknas Tasya Datunsolang/ Peserta Magang dari Universitas Negeri Gorontalo)

TRIBUNGORONTALO.COM – Nurlin Amelia Chelsi Ngadi (22) merupakan mahasiswi semester ke-6 Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Di tengah kesibukannya menjalani studi, Nurlin kerap memperjuangkan hak-hak disabilitas.

Perempuan asal Kota Bitung Sulawesi Utara ini dikenal aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan nonakademik.

Motivasi utama Nurlin adalah keberadaannya bisa bermanfaat bagi orang lain. 

"Berprestasi bukan hanya kepuasan diri, tapi agar kita bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Kalau kita hanya jadi mahasiswa biasa, itu sudah terlalu standar," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Selasa (17/6/2025).

Nurlin kini aktif dalam komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin). 

"Saya belajar bahasa isyarat dan berinteraksi dengan teman-teman tuli. Bangga rasanya bisa memperjuangkan hak-hak mereka," ungkap Nurlin.

Nurlin mengaku tergerak ketika pertama kali mengenal Gerkatin.

 "Saya jadi tertarik isu inklusivitas, terutama terkait disabilitas, karena ini jarang mendapat perhatian," ucapnya. 

Ketertarikannya mempelajari bahasa isyarat karena dirinya ingin berinteraksi para tuna rungu. Sehingga dirinya bisa memperluas relasi atau pertemanan.

"Jadi selain mendapat koneksi, saya juga bisa belajar bagimana berinteraksi dengan teman teman tuli dengan bahasa isyarat Indonesia," tutur Nurlin.

Nurlin bertekad terus memperjuangkan kelompok yang membutuhkan bantuan seperti komunitas disabilitas.

Dari sisi akademik, Nurlin tercatat pernah lolos program Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Ia juga menjadi finalis Filmapres (Pemilihan Mahasiswa Berprestasi).

Ia juga kerap mengikuti ajang Duta Bahasa dan Duta Baca UNG, hingga Duta Bahasa Provinsi Gorontalo. 

Terlepas dari semua kegiatan yang digandrunginya, Nurlin tetap memprioritaskan dunia akademik. 

"Menurut saya, kuliah itu hak istimewa. Kalau saya lewatkan tanpa dimaksimalkan, sia-sia perjalanan ini," ungkapnya.

Baca juga: Sosok Umar Airmas, Penjahit di Pasar Satya Pradja Kota Gorontalo, Irit Makan karena Minim Pemasukan

Nurlin bercita-cita membangun komunitas edukasi berbasis teknologi yang mendukung pendidikan inklusif.

Bagi Nurlin, perempuan harus berani melawan stigma dan opini patriarki. 

"Jangan dengarkan opini bahwa perempuan hanya di kasur, sumur, dapur. Perempuan itu kuat, bisa jadi apa saja selama mau berjuang," tegasnya.

Ia berharap dapat menjadi representasi perempuan muda yang menginspirasi dan memperjuangkan pendidikan ramah bagi semua kalangan.

Nurlin ingin terus belajar, peka terhadap isu-isu sosial, dan membangun karier di bidang pendidikan inklusif yang terintegrasi dengan teknologi. 

"Saya ingin menciptakan sistem yang mendukung pendidikan berkualitas dan merata untuk semua kalangan," tandasnya.

 

(TribunGorontalo.com/*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved