Kamis, 26 Maret 2026

Berita Viral

Siswa Berprestasi Depresi dengan Biaya Pendidikan, Tak Bisa Sekolah, Gubernur Jabar Turun Tangan

Diketahui, peristiwa ini terjadi pada Jumat (6/6/2025) malam. Saat itu, MMH sedang bekerja sebagai penjaga warung buah di Pasar Kalitanjung.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Minarti Mansombo
zoom-inlihat foto Siswa Berprestasi Depresi dengan Biaya Pendidikan, Tak Bisa Sekolah, Gubernur Jabar Turun Tangan
(KOMPAS.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON)
BERITA VIRAL-Gagal Lanjut ke SMA, Siswi di Cirebon Nekat Minum Cairan Pembersih karena Terlilit Biaya Pendidikan. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Jumat malam, 6 Juni 2025. Saat itu, MMH tengah bekerja sebagai penjaga warung buah di kawasan Pasar Kalitanjung, Kota Cirebon. Sekitar pukul 23.30 WIB, ia menenggak cairan beracun dan segera menghubungi temannya karena menahan rasa sakit yang luar biasa. 

*) Disclaimer

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup.

Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

TRIBUNGORONTALO.COM-Impian seorang siswi berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA nyaris berakhir tragis. MMH (17), santri pintar asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, nekat menenggak cairan pembersih lantai karena putus asa tak mampu melanjutkan sekolah akibat keterbatasan ekonomi.

Peristiwa memilukan itu terjadi pada Jumat malam, 6 Juni 2025. Saat itu, MMH tengah bekerja sebagai penjaga warung buah di kawasan Pasar Kalitanjung, Kota Cirebon. Sekitar pukul 23.30 WIB, ia menenggak cairan beracun dan segera menghubungi temannya karena menahan rasa sakit yang luar biasa.

Ia putus asa karena nasibnya yang tidak punya uang.

Diketahui, peristiwa ini terjadi pada Jumat (6/6/2025) malam.

Saat itu, MMH sedang bekerja sebagai penjaga warung buah di Pasar Kalitanjung, Kota Cirebon.

Ia menenggak cairan berbahaya sekitar pukul 23.30 WIB.

Kemudian ia segera menghubungi temannya karena tidak mampu menahan sakit.

Rekan-rekannya yang panik langsung meminta bantuan warga dan membawa MMH ke rumah sakit.

Baca juga: Damkar Kabupaten Gorontalo Ternyata Cuma Punya 5 Unit Armada Aktif Beroperasi

Korban sempat dirawat intensif di ruang ICU, sebelum akhirnya sadar dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa.

Ketua LBH Bapeksi Kota Cirebon yang juga kuasa hukum keluarga korban, Ahmad Faozan, mengatakan bahwa MMH melakukan aksi nekat tersebut karena putus asa.

"Dia depresi karena keinginan untuk sekolah di Kota Cirebon tidak dapat dia gapai. Masalahnya adalah ekonomi yang menghantui kehidupannya," kata Faozan saat dihubungi Kompas.com pada Senin (9/6/2025).

Menurut Faozan, MMH merupakan anak tunggal yang tinggal bersama ayahnya, seorang buruh lepas.

Ibunya telah lama berpisah.

Untuk mencukupi kebutuhan, MMH bekerja menjaga warung buah dengan penghasilan Rp20.000 per hari.

"Korban depresi karena kemiskinan, dia tidak bisa melanjutkan SMA-nya."

"Dia sudah berusaha menjadi pelayan dan penjaga toko buah, tetapi upahnya tidak mencukupi," tambahnya.

MMH diketahui merupakan santri berprestasi di salah satu pondok pesantren di Kota Cirebon.

Ia pandai berpidato dalam bahasa Inggris dan memiliki nilai akademis yang baik.

Setelah lulus dari pesantren pada 2024, MMH sempat bersekolah di SMA Negeri di Kecamatan Tengah Tani.

Namun, terhenti akibat kendala biaya.

Peristiwa ini menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Ia menyatakan akan menanggung seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan hidup MMH, serta mengangkatnya sebagai anak asuh.

"Pertama, rumah sakitnya sudah saya selesaikan. Seluruh biayanya."

"Kedua, mulai besok anak itu jadi anak asuh saya, dan berkah bersekolah di sekolah negeri," ujar Dedi melalui akun Instagram pribadinya, Senin (9/6/2025) malam.

Dedi juga memastikan bahwa MMH telah didaftarkan ke SMAN 1 Cirebon melalui jalur mutasi.

Menurutnya, siswa tersebut didaftarkan melalui jalur mutasi karena sebelumnya sempat menempuh pendidikan di SMA wilayah Tengah Tani, Cirebon. 

Baca juga: Jadwal KM Tidar Kapal Pelni Juni 2025: Pagi Ini Berangkat dari Baubau ke Maumere

"Anak yang menenggak pembersih lantai karena ingin diteruskan sekolah dan orang tuanya tidak mampu, dia hari ini sudah terdaftar di SMAN 1 Cirebon," kata Dedi dalam video tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa proses administrasi sebelumnya terkendala karena ijazah MTs MMH tertahan akibat tunggakan Rp2 juta.

Biaya tersebut kini telah dilunasi.

"Ternyata anak ini ijazah tsanawiyah-nya belum ditebus. Dua juta rupiah masih menunggak. Sekarang sudah diserahkan."

"Malam Jumat ajudan saya menemui pihak tsanawiyahnya, pihak pesantrennya, dan sudah membereskan,” ujar Dedi.

"Ke depannya, sudahlah, saya tanggung pendidikannya sampai selesai," tambahnya.

Dedi mengaku mengetahui kisah MMH dari pemberitaan media dan langsung memerintahkan ajudannya untuk mengurus segala kebutuhan MMH.

"Karena ketidakmampuan orang tuanya membelikan seragam, akhirnya dia menggunakan seragam Tsanawiyah (SMP), bet-nya yang diganti seragam SMA."

"Dan kemudian, dia (MMH) hanya bisa sekolah sampai satu semester," kata Dedi.

Langkah ini menurut Dedi merupakan bentuk komitmennya dalam memastikan seluruh anak di Jawa Barat bisa bersekolah hingga jenjang SMA. 

Ia menyayangkan masih adanya siswa di Jawa Barat yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena persoalan biaya, meskipun sekolah negeri tidak memungut uang pendidikan.

Ia pun menyoroti kembali kebijakan pelarangan kegiatan studi tur, perpisahan, dan outing class di sekolah-sekolah.

Baca juga: Ramalan Zodiak Aries, Taurus, Gemini Besok Kamis 12 Juni 2025: Cinta, Karier, hingga Keuangan

Menurutnya, biaya lainnya hanya akan menambah beban bagi siswa yang kurang mampu.

Dedi juga menegaskan pentingnya kebijakan pendidikan yang adil dan tidak memberatkan siswa.

Termasuk larangan kegiatan perpisahan dan outing class yang kerap menambah beban orang tua.

"Bayangin, jangankan untuk studi tur, wisudaan, perpisahan, outing kelas, bayar baju seragam saja enggak bisa. Akhirnya seperti ini," tutur Dedi.

Dedi juga mengingatkan orangtua dan anak-anak untuk lebih bijak dalam mengelola keinginan konsumtif yang tidak relevan dengan pendidikan.

Saat ini, menurut Dedi, proses penerimaan murid baru (SPMB) di Jawa Barat sedang berlangsung.

Ia berharap, seluruh anak-anak di Jawa Barat bisa melanjutkan pendidikan tanpa kendala berarti.

"Semoga anak-anak kita semuanya bisa sekolah. Tetap semangat dan sekolah," pungkasnya

 

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com

Sumber: TribunJatim
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved