Jumat, 13 Maret 2026

Gempa Bumi

Gorontalo Baru Saja Diguncang Gempa Selasa Pagi Ini 27 Mei 2025, Info BMKG Kedalaman 10 Km

Gempa bumi dengan magnitudo 2,6 mengguncang wilayah barat daya Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, pada Selasa dini hari, 27 Mei 2025.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Gorontalo Baru Saja Diguncang Gempa Selasa Pagi Ini 27 Mei 2025, Info BMKG Kedalaman 10 Km
BMKG
GEMPA GORONTALO - Titik-titik gempa di perairan Teluk Tomini Gorontalo. Gempa pagi tadi meski terjadi di perairan, tidak menyebabkan tsunami. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Gempa bumi dengan magnitudo 2,6 mengguncang wilayah barat daya Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, pada Selasa dini hari, 27 Mei 2025.

Berdasarkan informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 04.23 WIB atau 05.23 Wita. 

Episenter gempa terletak di koordinat 0,33 Lintang Selatan dan 122,92 Bujur Timur.

Lokas ini sekitar 99 kilometer barat daya Bone Bolango, dengan kedalaman 10 kilometer.

Meski tergolong gempa dangkal diperairan, BMKG menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan terkait kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut.

Belum ada pula laporan gempa dengan kekuatan 2,6 itu dirasakan masyarakat. 

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi.

Masyarakat juga diminta tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

BMKG mengingatkan warga agar waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, meskipun belum ada indikasi signifikan mengenai aktivitas seismik lanjutan di sekitar lokasi gempa.

Mitigasi Gempa

Mitigasi gempa bumi adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana tersebut, baik dari segi korban jiwa, kerusakan bangunan, maupun kerugian ekonomi.

Di wilayah yang rawan gempa seperti Indonesia, pengetahuan dan kesiapsiagaan terhadap gempa menjadi sangat penting untuk dimiliki oleh setiap warga.

Segalanya dimulai dari rumah. Sebelum gempa terjadi, langkah paling mendasar adalah memastikan bahwa bangunan tempat tinggal dibangun sesuai standar tahan gempa.

Bagi masyarakat yang tinggal di zona rawan, penting untuk memeriksa kekuatan struktur rumah, menata perabotan dengan aman, menghindari meletakkan barang-barang berat di tempat tinggi, dan memastikan tidak ada benda yang berisiko jatuh saat guncangan terjadi.

Kesiapsiagaan juga mencakup pengetahuan dasar seperti mengenali jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul yang aman, serta membekali diri dengan tas siaga bencana yang berisi makanan, air minum, obat-obatan, senter, radio portabel, dokumen penting, dan uang tunai secukupnya.

Tas ini harus mudah dijangkau dan rutin diperiksa kelayakannya. Dalam keluarga, perlu ada kesepakatan tentang apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, termasuk tempat berkumpul jika terpisah.

Saat gempa benar-benar mengguncang, hal terpenting yang harus dilakukan adalah tetap tenang.

Jika berada di dalam ruangan, segera berlindung di bawah meja yang kokoh, lindungi kepala dan leher dengan tangan, serta menjauh dari jendela, lemari, dan benda-benda yang bisa jatuh.

Jika berada di luar, menjauhlah dari bangunan tinggi, tiang listrik, dan pohon. Sementara jika sedang berkendara, pengemudi harus menghentikan kendaraan di tempat terbuka dan aman, lalu tetap berada di dalam mobil sampai guncangan mereda.

Setelah gempa berhenti, kewaspadaan tetap harus dijaga. Periksa kondisi diri dan orang-orang di sekitar.

Jika ada yang terluka, berikan pertolongan pertama semampunya. Pastikan tidak ada kebocoran gas, percikan api, atau kabel listrik yang terkelupas. Jangan menyalakan api karena berisiko menimbulkan ledakan jika ada gas yang bocor.

Warga juga disarankan untuk segera mengakses informasi resmi dari BMKG atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Jangan mudah percaya pada kabar yang beredar tanpa sumber yang jelas, terutama terkait isu tsunami atau gempa susulan. Jika terdapat peringatan evakuasi, segera lakukan sesuai petunjuk dan arahkan keluarga menuju titik aman.

Dalam jangka panjang, membangun budaya siaga bencana adalah bagian dari mitigasi yang tak kalah penting.

Sekolah-sekolah, kantor-kantor, dan komunitas perlu melakukan simulasi evakuasi secara berkala. Pemerintah daerah dapat membentuk kelompok masyarakat siaga bencana atau komunitas tangguh yang bertugas mengedukasi warga dan memimpin evakuasi saat terjadi gempa.

Dengan pengetahuan dan kesiapan yang tepat, dampak gempa bumi bisa ditekan seminimal mungkin. Karena pada akhirnya, keselamatan bukan hanya soal keberuntungan, tapi hasil dari kesiapsiagaan dan kesadaran kita bersama. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved