Berita Paus Leo VIX

3 Sinyal Kuat Paus Leo XIV dari Balkon Santo Petrus

Dunia kini menanti dengan penuh antisipasi, apakah Paus Leo XIV akan mampu menjembatani berbagai perbedaan di dalam Gereja dan dunia yang semakin terp

Editor: Wawan Akuba
Reuters
PAUS TERPILH -- Paus Leo XIV yang baru terpilih, yang sebelumnya adalah Kardinal Robert Prevost dari Amerika Serikat, muncul di balkon Basilika Santo Petrus di Vatikan pada hari Kamis. | Paus Leo XIV yang baru terpilih, yang sebelumnya adalah Kardinal Robert Prevost dari Amerika Serikat, muncul di balkon Basilika Santo Petrus di Vatikan pada hari Kamis. waktu setempat. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Paus Leo XIV memberikan tiga sinyal penting yang mengisyaratkan arah kepemimpinannya sebagai gembala bagi 1,4 miliar umat Katolik di seluruh penjuru dunia.

Tiga sinyal itu ia kirimkan dari balkon Basilika Santo Petrus yang megah saat pertama kalinya menyapa dunia.

Paus Leo XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai Kardinal Robert Prevost dari Amerika Serikat, terpilih pada Kamis (8/5/2025) waktu Vatikan atau Jumat waktu Indonesia.

Ia terpilih di hari kedua konklaf yang berlangsung tertutup. Ia menggantikan mendiang Paus Fransiskus yang wafat bulan lalu, sekaligus mencatatkan sejarah sebagai paus pertama yang berasal dari Negeri Paman Sam.

Namun, latar belakangnya sebagai misionaris selama puluhan tahun di Peru, yang juga memberikannya kewarganegaraan ganda, turut mewarnai identitasnya.

Francois Mabille, seorang peneliti dari lembaga think tank IRIS di Paris, menilai terpilihnya Leo XIV sebagai "kandidat moderat yang disepakati bersama," sebuah pilihan yang dinilai akan melanjutkan semangat kepausan Fransiskus secara lembut, tanpa membuat kubu konservatif merasa terasing.

Namun, Mabille juga menyoroti potensi Leo XIV untuk menjadi tokoh gereja yang berseberangan dengan Presiden AS Donald Trump, mengingat pengalamannya yang mendalam dalam melayani kaum miskin di Amerika Latin.

Berikut tiga sinyal penting yang disampaikan Paus Leo XIV dalam penampilan perdananya:

1. Nama "Leo XIV": Komitmen Teguh pada Keadilan Sosial

Pilihan nama paus dalam tradisi Katolik seringkali menjadi simbol prioritas kepemimpinan.

Nama "Leo" terakhir kali digunakan oleh Paus Leo XIII (1878–1903), seorang tokoh yang dikenal gigih membela hak-hak pekerja, menyerukan upah yang layak, kondisi kerja yang manusiawi, serta hak untuk berserikat.

Pastor Thomas Reese, seorang komentator Yesuit yang aktif mengamati perkembangan Vatikan, meyakini bahwa "dengan memilih nama Leo XIV, dia menunjukkan komitmen yang kuat pada ajaran sosial Gereja."

Sinyal ini mengisyaratkan bahwa isu-isu keadilan sosial kemungkinan akan menjadi fokus penting dalam kepemimpinan Paus Leo XIV.

2. Seruan Perdamaian yang Mendalam dan Bahasa yang Sarat Makna

Dalam pidato pertamanya dari balkon Santo Petrus, Paus Leo XIV memilih untuk tidak menggunakan bahasa Inggris.

Ia menyampaikan sapaan dalam bahasa Italia, bahasa resmi Takhta Suci, serta beberapa kalimat dalam bahasa Spanyol sebagai bentuk sapaan hangat kepada komunitas lamanya di Peru.

Kalimat publik pertamanya, "La pace sia con tutti voi!" (Damai sejahtera bagi kalian semua!), langsung mengirimkan pesan kuat tentang perdamaian – sebuah tema sentral yang juga sering digaungkan oleh pendahulunya, Paus Fransiskus.

Lebih lanjut, Leo XIV menggambarkan perdamaian sebagai "perdamaian yang dilucuti dan melucuti," yang "rendah hati dan penuh ketekunan."

Ia juga mengenang Paus Fransiskus, menyebut suaranya yang "lemah namun penuh keberanian," dan mengulang pesan terakhir pendahulunya: "Tuhan mencintai kita semua, dan kejahatan tidak akan menang. Kita berada dalam tangan Tuhan." 

Pilihan kata dan bahasa ini menunjukkan kesinambungan dengan semangat Fransiskus namun dengan penekanan dan gaya komunikasi yang mungkin berbeda.

3. Pilihan Busana: Menggabungkan Tradisi dan Identitas Baru

Sebuah perbedaan mencolok terlihat dalam pilihan busana Paus Leo XIV. Berbeda dengan Paus Fransiskus yang sejak awal menolak simbol-simbol kemewahan, Leo XIV tampil mengenakan jubah merah tradisional di atas kasula putih.

Isyarat ini ditafsirkan sebagai upaya untuk menunjukkan identitas yang berbeda, meskipun ia diyakini akan meneruskan semangat kerendahan hati dan keadilan sosial yang diusung pendahulunya.

Paus baru ini kini berdiri di persimpangan harapan: melanjutkan warisan Paus Fransiskus dalam semangat kerendahan hati dan keadilan sosial, namun dengan sentuhan gaya yang lebih tradisional dan pendekatan yang mungkin menawarkan perspektif baru.

Dunia kini menanti dengan penuh antisipasi, apakah Paus Leo XIV akan mampu menjembatani berbagai perbedaan di dalam Gereja dan dunia yang semakin terpolarisasi di bawah kepemimpinannya. Babak baru Vatikan telah dimulai.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved