Berita Teknologi

Intel Umumkan PHK Massal dan Aturan Baru Kerja Kantor, Lebih dari 20.000 Karyawan Terancam

Hal ini disebabkan lonjakan permintaan mendadak terhadap prosesor Raptor Lake dan Alder Lake, karena konsumen mulai menghindari chip AI Intel yang leb

Editor: Wawan Akuba
iStock
RENCANA PHK INTEL - Gedung Kantor Pusat Intel Di Santa Clara California. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Kabar buruk menghampiri para karyawan Intel.

Dalam rapat kinerja perusahaan terbaru, CEO baru Lip-Bu Tan mengumumkan langkah besar.

PHK massal yang bisa mencapai lebih dari 20.000 orang dan perubahan aturan kerja hybrid yang lebih ketat bakal direncanakan.

Dalam surat kepada investor, Tan menegaskan bahwa Intel akan melakukan penyederhanaan operasional.

Itu berarti pemangkasan di berbagai divisi, penghentian produk non-inti, efisiensi struktur manajemen, serta perubahan kebijakan kerja dari rumah.

“Tak ada jalan lain. Perubahan besar ini akan berdampak pada jumlah tenaga kerja kami,” ujar Tan.

“Seperti yang saya katakan saat pertama kali bergabung, kita harus membuat keputusan sulit agar masa depan perusahaan lebih kokoh.”

Tan tidak menyebut angka pasti, namun laporan Bloomberg sebelumnya menyebutkan bahwa Intel berencana memangkas lebih dari 20 persen dari total tenaga kerjanya saat ini—setara dengan sekitar 20.000 orang. PHK dijadwalkan dimulai pada kuartal kedua 2025 dan akan berlangsung “secepat mungkin dalam beberapa bulan ke depan.”

Langkah ini menyusul pemutusan hubungan kerja terhadap 15.000 orang pada Agustus lalu, kemudian 2.000 karyawan lagi di beberapa lokasi AS pada Oktober, serta pemangkasan 1.900 orang dan 400 orang dari Mobileye sejak awal 2025.

Kerja Kantor Wajib 4 Hari

Tan juga mengubah aturan kerja hybrid. Karyawan yang sebelumnya hanya diwajibkan masuk kantor tiga hari seminggu, mulai 1 September nanti harus hadir empat hari per minggu.

Tan mengklaim, kehadiran langsung meningkatkan keterlibatan, kolaborasi, dan produktivitas—meski hal ini masih menjadi perdebatan luas di dunia kerja.

Intel bukan satu-satunya perusahaan yang memperketat aturan kerja hybrid.

Google bahkan memperingatkan karyawan full-remote untuk kembali ke kantor atau berisiko diberhentikan.

Efisiensi Besar-besaran

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved