Berita Viral
Terinspirasi dari Film Walid 'Bidaah' Santri di Lombok Bongkar Pelecehan Seksual Pimpinan Ponpes
Kasus dugaan pelecehan ini diduga dilakukan oleh ketua yayasan sekaligus pimpinan Ponpes yang mencabuli puluhan santriwatinya.
Penulis: Redaksi | Editor: Minarti Mansombo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-sdhfgdhfgs.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM-Viralnya drama Malaysia 'Bidaah' dengan karakter antagonis seorang Walid.
Serial Walid kini menjadi kisah nyata yang terjadi di sebuah pondok pesantren di Gunung Sari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kasus dugaan pelecehan ini diduga dilakukan oleh ketua yayasan sekaligus pimpinan Ponpes yang mencabuli puluhan santriwatinya.
Murut pengakuan para korban, aksi bejatnya pimpinan Ponpes ini kabarnya telah dilakukan sejak tahun 2016 silam.
Modusnya pelaku yakni membohongi korban dengan mengatakan siapapun yang tidur dengannya maka rahimnya akan berkah dan melahirkan wali.
Baca juga: Harga HP Vivo X200s, Punya Baterai 6.200 mAH Serta 4 Opsi Warna yang Bisa Dipilih
Baca juga: Demi Nikahi Wanita Muda, Pria ini Ngaku Lulusan UGM dan PNS, Siasat Terbongkar Sudah Beristri
"Itu modusnya pimpinan yayasan ini menjanjikan akan memberikan keberkahan di rahimnya supaya dapat melahirkan anak-anak yang menjadi seorang wali," ungkap Koordinator Aliansi Stop Kekerasan Seksual NTB Joko Jumadi di Mapolresta Mataram, Senin (21/4/2025).
Diketahui jumlah para korban sementara sebanyak 22 orang santri yang suda masuk laporannya sebagai korban dari kekerasan seksual ini.
Adapun keberanian yang melaporkan kasus ini ke kepolisian baru 7 korban pekan lalu.
Menurut pernyataan Joko para korban berani angkat bicara atas peristiwa yang menyedihkan ini usai menonton drama 'Bidaah'
Dari jumlah korban yang teridentifikasi, sekitar 10 orang santri diduga telah disetubuhi pelaku. Sisanya mengalami tindakan pencabulan (meraba) dan manipulasi psikologis.
Baca juga: GORONTALO TERPOPULER: Mahasiswa Gelar Pentas Jalanan - Eksekusi Rumah Warga Jadi Tontonan
Baca juga: Miris, Dosen Usir Mahasiswa dari Kelas Perkuliahan Gegara Tak Beli Buku Karyanya Rp215 ribu
“Pelecehan kerap dilakukan di ruang kelas sekolah yang berada di lingkungan pondok pesantren. AF diduga memanggil korban satu per satu untuk masuk ke ruang tersebut pada malam hari, tepatnya antara saat santri lainnya sedang beristirahat,” kata Ketua LPA Kota Mataram Joko Jumadi.
Para korban kebejatan AF mulai membongkar kasus ini karena termotivasi oleh kisah serial 'Bidaah' asal Malaysia yang viral di media sosial. Sebab, para korban merasa pengalamannya mirip seperti korban sang tokoh antagonis, Walid
"Korban ini adalah alumni santriwati pondok yang terinspirasi dari film 'Bidaah' Malaysia. Kemudian, kok di film itu hampir sama dengan pengalamannya di pondok yang dilakukan oleh terduga pelaku ini," ujar Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram, Joko Jumadi, mengutip detikcom, Selasa (22/4).
Joko menjelaskan bahwa modus yang dilakukan AF dengan cara menjanjikan keberkataan agar kelak melahirkan anak-anak yang baik.
"Modusnya adalah si pimpinan ponpes ini menjanjikan akan memberikan keberkatan di rahimnya (korban) supaya dapat melahirkan anak-anak yang akan menjadi seorang wali," ungkap Joko.