Berita Kabupaten Gorontalo
Bupati Gorontalo Lagi Bicara saat Rapat Evaluasi, ASN Ini Malah Asyik Nonton Game Catur
Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) menunjukkan perilaku tidak etis saat rapat evaluasi pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ASN-main-handphone.jpg)
- Layar pada gawai berupa titik-titik piksel, sehingga mata tak henti-hentinya melakukan penyesuaian fokus.
- Jumlah kedipan mata per menit yang normalnya 12-20 kali per menit, turun menjadi hingga 6-10 kali per menit.
- Adanya sinar biru yang dipancarkan dari gawai.
- Posisi duduk dan posisi menggunakan gawai yang tidak ergonomis.
Dampak menggunakan terlalu lama
Penggunaan gawai terlalu lama, ditambah dengan menggunakannya terlalu dekat dengan mata, juga dapat mengkibatkan mata minus atau miopia.
“Kalau sudah minus, lebih berisiko bertambah minusnya dibanding dengan mata orang normal (emetropia) berubah menjadi minus,” ungkap Isna.
Mata minus itu terjadi karena saat melihat gawai dengan jarak yang dekat, lensa mata akan menjadi lebih cembung dibanding tidak melihat dengan jarak dekat.
“Saat melihat dekat dalam waktu lama maka lensa dalam posisi mencembung terus menerus. Sehingga memungkinkan adanya perubahan titik fokus bayangan saat melihat jauh, lensa mata belum memipih kembali,” jelasnya.
Isna mengungkapkan, kondisi miopia ada yang bersifat sementara (transien) dan juga permanen. Kondisi miopia yang permanen terutama terjadi pada anak-anak.
Ia menyarankan sebaiknya berikan jarak mata dengan ponsel atau tablet minimal 30 cm dan dengan laptop atau komputer minimal 50-60 cm.
“(Menggunakan gawai) juga dengan posisi yang sejajar atau eye level dan tidak di tempat yang gelap,” pungkasnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga) (Kompas.com/Aditya Priyatna Darmawan)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com