Berita Internasional
Perang Dagang Trump Gagal Total? Pasar Obligasi Bilang Iya
Sebelumnya pada 2 April kemarin, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengaktifkan International Emergency Economic Powers Act.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Gejolak-Ekonomi-Dunia-Pasar-Obligasi-Guncang.jpg)
Imbasnya, imbal hasil (yield) obligasi naik tajam, indikasi kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi, alias stagflasi.
Yield obligasi 10 tahun melonjak dari 3,8 persen menjadi 4,12 persen hanya dalam empat hari.
Obligasi 20 tahun menyentuh 5,05 persen, dan 30 tahun naik ke angka 5 persen.
Hedge fund yang menggenggam derivatif obligasi senilai sekitar $800 miliar mulai menjual aset mereka akibat margin call, mengingatkan pasar pada krisis keuangan tahun 2008 dan 2020.
Pada 8 April, lelang obligasi tiga tahun senilai $58 miliar harus diserap oleh bank-bank dalam negeri hingga 21 persen karena investor asing menarik diri.
Gelombang penjualan ini memperdalam penurunan harga obligasi, memicu potensi krisis likuiditas dan mendorong pemerintah AS ke tepi jurang krisis ekonomi.
Penurunan harga obligasi juga merembet ke nilai tukar dolar AS.
Ketika kepercayaan terhadap Treasury bonds goyah, dominasi dolar sebagai mata uang cadangan dunia pun ikut terguncang.
Investor mulai beralih ke euro dan obligasi negara lain yang dinilai lebih stabil.
Krisis ini membongkar kontradiksi dalam strategi Trump: tarif yang dimaksudkan untuk “membawa pulang pekerjaan” justru merusak posisi dolar AS dan mengguncang fondasi kekuatan ekonomi global AS.(*)