Berita Internasional
Perang Dagang Trump Gagal Total? Pasar Obligasi Bilang Iya
Sebelumnya pada 2 April kemarin, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengaktifkan International Emergency Economic Powers Act.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Gejolak-Ekonomi-Dunia-Pasar-Obligasi-Guncang.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Sepuluh hari terakhir menjadi periode penuh gejolak bagi perekonomian global.
Ketidakstabilan menghantam pasar-pasar utama, memunculkan kekhawatiran akan ancaman resesi dan krisis likuiditas yang lebih luas.
Sebelumnya pada 2 April kemarin, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengaktifkan International Emergency Economic Powers Act.
Ia sekaligus mengumumkan kebijakan tarif bertajuk "Hari Pembebasan". Kebijakan ini menetapkan tarif 10 persen untuk seluruh impor, kecuali dari Kanada dan Meksiko.
Baca juga: Rektor Eduart Wolok Sampaikan Turut Berbela Sungkawa Atas Mahasiswa Korban air Bah di Gorontalo
Ia bahkan menambahkan tarif "resiprokal" terhadap sekitar seratus negara yang dianggap melakukan praktik dagang tidak adil.
China menjadi sasaran utama.
Namun, hanya dalam hitungan hari, tekanan dari pasar obligasi membuat Trump berbalik arah.
Pada akhir pekan, ia mencabut sebagian besar tarif tambahan, namun secara drastis menaikkan bea masuk atas produk dari China menjadi 145 persen.
Kebijakan ini mencerminkan semangat proteksionisme ala 1920-an yang dihidupkan kembali di era globalisasi.
Trump mendorong perusahaan AS untuk memindahkan kembali pabrik dari luar negeri ke tanah air dengan menjadikan tarif sebagai senjata utama.
Namun, logika globalisasi membatasi efektivitas tarif tersebut.
Jaringan rantai pasok global yang kompleks dan ketergantungan pada tenaga kerja murah membuat kebijakan Trump justru menambah biaya produksi tanpa benar-benar membawa manufaktur pulang ke AS.
Tapi yang paling mengubah arah kebijakan bukanlah kenyataan ekonomi global itu, melainkan sinyal bahaya dari pasar obligasi AS.
Sejak 2 April, pasar saham AS dan global mengalami volatilitas ekstrem. Biasanya, investor berbondong-bondong membeli obligasi negara AS (Treasury bonds) sebagai aset aman.
Namun kali ini, harga obligasi justru jatuh, menandakan investor mencari perlindungan di luar instrumen utang AS.
Imbasnya, imbal hasil (yield) obligasi naik tajam, indikasi kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi, alias stagflasi.
Yield obligasi 10 tahun melonjak dari 3,8 persen menjadi 4,12 persen hanya dalam empat hari.
Obligasi 20 tahun menyentuh 5,05 persen, dan 30 tahun naik ke angka 5 persen.
Hedge fund yang menggenggam derivatif obligasi senilai sekitar $800 miliar mulai menjual aset mereka akibat margin call, mengingatkan pasar pada krisis keuangan tahun 2008 dan 2020.
Pada 8 April, lelang obligasi tiga tahun senilai $58 miliar harus diserap oleh bank-bank dalam negeri hingga 21 persen karena investor asing menarik diri.
Gelombang penjualan ini memperdalam penurunan harga obligasi, memicu potensi krisis likuiditas dan mendorong pemerintah AS ke tepi jurang krisis ekonomi.
Penurunan harga obligasi juga merembet ke nilai tukar dolar AS.
Ketika kepercayaan terhadap Treasury bonds goyah, dominasi dolar sebagai mata uang cadangan dunia pun ikut terguncang.
Investor mulai beralih ke euro dan obligasi negara lain yang dinilai lebih stabil.
Krisis ini membongkar kontradiksi dalam strategi Trump: tarif yang dimaksudkan untuk “membawa pulang pekerjaan” justru merusak posisi dolar AS dan mengguncang fondasi kekuatan ekonomi global AS.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.