Minggu, 15 Maret 2026

Human Interest Story

Nurhalizah Duslan Mahasiswi Gorontalo Cerita Pengalaman Kuliah Sambil Kerja, Penuh Tantangan

Nurhalizah Duslan (20),warga Paguyaman Pantai, Gorontalo, menceritakan pengalamannya bekerja sambil kuliah. 

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Nurhalizah Duslan Mahasiswi Gorontalo Cerita Pengalaman Kuliah Sambil Kerja, Penuh Tantangan
Mawar Hardiknas Tasya Datunsolang/Peserta Magang dari Universitas Negeri Gorontalo
HUMAN INTEREST - Nurhalizah Duslan, mahasiswi Universitas Negeri Gorontalo. Nurhalizah menceritakan pengalamannya bekerja sambil kuliah. 

(Laporan: Mawar Hardiknas Tasya Datunsolang/Peserta Magang Universitas Negeri Gorontalo)

TRIBUNGORONTALO.COM – Nurhalizah Duslan (20), warga Paguyaman Pantai, Gorontalo, menceritakan pengalamannya bekerja sambil kuliah. 

Anak ketiga dari lima bersaudara ini merupakan mahasiswi semester keenam Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Ia tinggal bersama kakak kandungnya di Jalan Rusli Datau, Kelurahan Dulomo, Kecamatan Kota Utara, tepat di depan Waterboom Tiarak Park.

Kedua orang tua Nurhaliza telah meninggal dunia sejak ia masih duduk di bangku SMA.

Sehari-harinya, Nurhalizah kuliah dari pagi hingga sore, lalu menjual makanan pada malam hari di Lapangan Taruna Remaja, Kota Gorontalo.

Nurhalizah menjual berbagai menu seperti lalapan, nasi goreng, geprek, gado-gado, soto ayam, jus, nutrisari, hingga roti bakar.

"Awalnya saya hanya ikut-ikut teman bekerja, terus saya mencoba sendiri. Ternyata bisa kuliah sambil kerja," ujar Nurhalizah saat ditemui pada Jumat (11/4/2025).

Ia kini bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga keperluan kampus.

"Saya kerja supaya tidak membebani kakak saya yang membiayai kuliah. Orang tua saya sudah tidak ada, jadi saya bantu untuk uang makan, uang bensin, kebutuhan harian," tuturnya.

Baca juga: Hati Andi Indalan Tergugah Lihat Anak Debt Collector Nginap di Polresta Gorontalo Kota: Kasihan!

Nurhalizah bekerja setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 02.00 Wita. Saat Ramadan, ia bekerja sejak pukul 16.30 hingga sahur.

Ia tidak pernah berhenti bekerja terkecuali sedang sakit atau ada jadwal perkuliahan di malam hari.

Setelah pukul 16.00 Wita, ia langsung menuju tempat kerja. Nurhaliza sudah memberi tahu pemilik usaha agar memaklumi jika datang terlambat karena masih harus menyelesaikan kuliah. 

Gajinya dihitung harian, berkisar antara Rp 50.000 - Rp 100.000, tergantung penjualan.

"Tantangan terberat itu tugas, apalagi tugas kelompok. Kalau lagi ramai, saya tidak bisa pegang HP. Jadi saya biasa kirim materi tengah malam," tukasnya.

Waktu tidur yang minim juga menjadi tantangan tersendiri. Apalagi kampusnya berada di Suwawa, sedangkan rumahnya di Kota Gorontalo.

 "Kadang saya pulang malam dan takut di jalan. Pernah juga saya terlambat ke kampus karena kurang tidur," jelas Nurhaliza.

Rasa lelah dan keinginan untuk menyerah sering muncul, namun semangatnya tak pernah pudar.

 "Saya yakinkan diri saya bisa. Saya ingin meringankan beban kakak-kakak saya," ujar Nurhalizah.

Keluarga awalnya sempat melarangnya bekerja karena khawatir mengganggu kuliah. Tapi setelah diyakinkan, mereka mendukung keputusannya.

Meski penuh tantangan, ia bersyukur memiliki lingkungan kerja yang ramah dan mendukung.

 "Teman-teman di Taruna baik, bos saya juga baik. Kebersamaan di sana sangat berarti," katanya.

Baginya, manfaat terbesar dari kuliah sambil bekerja adalah kemampuan mengatur waktu dan belajar mandiri. 

"Waktu itu berharga sekali. Saya belajar mengatur waktu, belajar tanggung jawab, dan tetap bisa menyelesaikan tugas walau harus bekerja," tandasnya. 

 


(TribunGorontalo.com/Peserta Magang dari Universitas Negeri Gorontalo)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved