Berita Internasional
Eropa Respon Tarif Trump, Uni Eropa Balas dengan Tarif Impor Baru Senilai Rp390 Triliun
Negara-negara anggota Uni Eropa (UE) resmi menyetujui paket pertama tindakan balasan terhadap tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Ser
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Bendera-Uni-Eropa-berkibar-di-tiang-bendera.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Negara-negara anggota Uni Eropa (UE) resmi menyetujui paket pertama tindakan balasan terhadap tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Langkah ini diambil sebagai respons atas kebijakan tarif AS terhadap baja dan aluminium yang dianggap merugikan secara ekonomi, baik bagi Eropa, Amerika Serikat, maupun perekonomian global.
“Tarif AS tidak berdasar dan merugikan, menyebabkan dampak ekonomi pada kedua belah pihak serta ekonomi dunia,” demikian pernyataan resmi dari Komisi Eropa pada Rabu.
Komisi Eropa sebelumnya mengusulkan kebijakan tarif balasan pada Senin, dengan sebagian besar tarif dikenakan sebesar 25 persen.
Tarif ini menyasar berbagai produk impor asal AS, dari sektor pertanian hingga industri.
Daftarnya mencakup produk seperti kedelai, unggas, tembakau, besi, sepeda motor, benang gigi, hingga baja dan aluminium—dengan total nilai sekitar 22 miliar euro (setara Rp390 triliun) pada tahun lalu.
Pengenaan tarif akan dilakukan dalam tiga tahap:
- Tahap pertama, dimulai 15 April, meliputi produk seperti jus jeruk dan cranberry.
- Tahap kedua, dimulai 16 Mei, mencakup baja, daging, cokelat putih, dan polietilena.
- Tahap terakhir, dijadwalkan pada 1 Desember, akan menyasar produk seperti kacang almond dan kedelai.
Meski begitu, Komisi Eropa menegaskan bahwa pihaknya masih membuka pintu untuk dialog.
“Uni Eropa tetap lebih memilih solusi melalui negosiasi dengan AS yang adil dan saling menguntungkan,” lanjut pernyataan tersebut. “Langkah-langkah balasan ini dapat dihentikan sewaktu-waktu jika AS bersedia mencapai kesepakatan yang seimbang.”
Langkah ini mempertegas sikap Uni Eropa dalam menjaga kepentingan ekonominya di tengah ketegangan perdagangan yang kian meningkat dengan Washington.
Kini, dunia menanti: apakah konflik dagang lintas benua ini akan mereda lewat diplomasi, atau justru makin memanas? (*)