Kamis, 12 Maret 2026

UMKM Gorontalo

Produk Bantal Guling UMKM Gorontalo Ini Bersaing dengan Produk Import, Pelanggannya Se-Sulawesi

Usaha ini dirintis orang tuanya sejak 1959. Saat itu Halim masih kecil namun mulai mempelajari tekniknya dari sang ayah. 

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Produk Bantal Guling UMKM Gorontalo Ini Bersaing dengan Produk Import, Pelanggannya Se-Sulawesi
FOTO: Herjianto Tangahu, TribunGorontalo.com
HIS PENGUSAHA BANTAL : Halim Umar, Pengusaha Bantal di Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, Selasa (8/4/2025). Halim memasarkan produknya sampai ke Halmahera, Maluku Utara. FOTO: Herjianto Tangahu, TribunGorontalo.com 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Halim Umar, salah satu pengusaha bantal di Keluhkan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo pasarkan produknya hingga ke Halmahera, Maluku Utara.

Usaha ini dirintis orang tuanya sejak 1959. Saat itu Halim masih kecil namun mulai mempelajari tekniknya dari sang ayah. 

"(Sedangkan) Ayah saya belajarnya dari orang Surabaya," kata Umar, Selasa (8/4/2025).

Saat itu fokus penjualannya masih berkutat di pusat Kota Manado, Ibukota Provinsi Sulawesi, Utara.

Baca juga: Adhan Dambea Wanti-wanti ASN Gorontalo soal Disiplin Kerja: Banyak Keluhan Masyarakat soal Pelayanan

Seiring berjalan waktu, usahanya makin mengalami peningkatan.

Baru kemudian tahun 1985, usaha tersebut beralih pengelolaannya ke Halim.

Sejak saat itu, Halim lah yang kemudian meneruskan pengembangannya dan memperluas jangkauan pasar.

Kini usahanya makin berkembang hingga ke luar daerah. 

"Untuk saat ini kita rutin kirim ke Halmahera, Sangir, Minahasa, Kotamobagu dan Manado," ungkapnya. 

Pembuatan bantal dilakukan di rumahnya menggunakan mesin seadanya dengan bantuan beberapa orang karyawan. 

Di Kelurahan Huangobotu, pengusaha bantal bukan Halim saja. Ada beberapa juga yang melakoni usaha tersebut sejak dulu.

Baca juga: BREAKING NEWS: Nama-nama Calon Sekda Kabupaten Gorontalo, 13 Kandidat Sudah Mendaftar

Untuk bahan dasar pembuatan bantal, Halim hanya membutuhkan kain, busa, dan kapok. 

Busa bantal ia dapat dari limbah pabrik, sementara kapok ia peroleh dari Kecamatan Bone Pantai dan Kecamatan Paguyaman. 

Rata-rata penjualan bantalnya per bulan bisa mencapai 300 buah. 

"Kalau harga satu bantal itu Rp 35 ribu," imbuhnya. 

Sementara untuk kasur, ia menjual dua jenis berdasarkan ukuran, masing-masing harganya Rp 500 ribu san Rp 400 ribu. 

Kendati saat ini banyak pengusaha bantal di Kelurahan Huangobotu, namun bagi Halim, masing-masing sudah ada pembagian wilayahnya sendiri-sendiri. 

Selain itu, jumlah pengusaha saat ini tak sebanyak saat awal usaha tersebut dilanjutkan dari ayahnya. 

Kendala Halim saat ini adalah cuaca yang tidak menentu. 

Curah hujan yang tinggi bagi Halim dan pengusaha bantal lainnya, adalah kendala utama saat proses pengeringan kapuk. 

"Kita jemur manual saja, kalau dia pakai mesin bisa lebih cepat, tapi memang harga mesinnya mahal sekitar Rp 500 juta," pungkasnya. 

Pengeringan bahan bakunya dilakukan di belakang rumah.

Sementara proses pengisian bantal dan menjahitnya dilakukan di teras rusa, menggunakan mesin pencacah dan mesin jahit. (*/Jian) 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved