Ketupat Gorontalo
Jadi Lokasi Bermukim Suku Jaton, Warga Mananggu Meriahkan Lebaran Ketupat Gorontalo
Warga Desa Salilama, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo ikut memeriahkan hari ke-8 syawal dengan perayaan Lebaran Ketupat, Senin (7/4/2025).
Penulis: Nawir Islim | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/LEBARAN-KETUPAT-Desa-Salilama-Kecamatan-Mananggu-Kabupaten-Boalemo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Boalemo -- Warga Desa Salilama, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo ikut memeriahkan hari ke-8 syawal dengan perayaan Lebaran Ketupat, Senin (7/4/2025).
Masyarakat tumpah ruah memadati area kegiatan untuk menyaksikan berbagai rangkaian lomba dan pertunjukan budaya yang kental dengan nuansa kekeluargaan.
Salah satu momen paling ditunggu adalah lomba panjat pinang, yang berlangsung penuh semangat dan tawa riuh dari penonton.
Baca juga: Indra Gobel Ngaku Pertama Kali Rayakan Ketupat, Janji Perhatian untuk Nelayan Gorontalo
Peserta berlomba memanjat batang pinang yang telah dilumuri oli, demi meraih hadiah-hadiah menarik dengan total nilai mencapai Rp7 juta.
Suasana semakin meriah dengan hadirnya masyarakat dari berbagai desa sekitar.
Perayaan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Boalemo, Lahmuddin Hambali, yang menyampaikan apresiasi atas semangat masyarakat dalam menjaga kebersamaan dan melestarikan budaya.
Ia menegaskan bahwa Lebaran Ketupat bukan hanya perayaan, tapi juga refleksi dari identitas dan kekayaan budaya lokal.
Ketua Panitia Semarak Lebaran Ketupat Mananggu, Amar Darise, mengungkapkan rasa syukurnya atas suksesnya kegiatan tahun ini.
“Alhamdulillah, antusias masyarakat luar biasa. Ini membuktikan bahwa tradisi Lebaran Ketupat tetap hidup di hati warga. Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus ajang memperkenalkan budaya lokal, khususnya tradisi Jawa Tondano yang telah menjadi bagian penting dari Mananggu,” ujar Amar.
Baca juga: Bawa Sapi Limosin Seberat 1 Ton, Yakob Adam Bawa Juara Kontes Hewan di Gebyar Ketupat Gorontalo
Selain perlombaan, acara juga diramaikan dengan pertunjukan silat Jawa Tondano, seni bela diri tradisional yang memadukan unsur budaya Jawa dan Minahasa.
Gerakan para pesilat tampil lincah dan penuh makna, mencerminkan filosofi serta nilai-nilai warisan leluhur.
Adat Jawa Tondano atau yang dikenal sebagai budaya Jaton merupakan tradisi keturunan para pengikut Perang Diponegoro (1825–1830) yang dipimpin oleh Kyai Modjo.
Setelah perang berakhir, para pengikutnya diasingkan ke Minahasa dan menikah dengan penduduk lokal. Dari sana, keturunan Jaton tersebar ke wilayah Gorontalo, termasuk Boalemo.
Kedatangan masyarakat Jaton di Mananggu dimulai pada tahun 1952, dengan permukiman awal di Dusun Dewu, yang kini dikenal sebagai Desa Buti.
Di sinilah budaya Jaton tumbuh dan berkembang, termasuk tradisi hadrah dan perayaan Lebaran Ketupat yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya setempat.
Dengan semangat gotong royong, nilai-nilai leluhur, dan kecintaan pada budaya, semarak Lebaran Ketupat di Desa Salilama menjadi bukti bahwa tradisi tetap hidup dan terus diteruskan, menjadikan Mananggu sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Jaton di Boalemo. (*)
| Warga Moodu Gelar Ketupat Dua Pekan Setelah Lebaran, Jadi Ajang Silaturahmi |
|
|---|
| 5 Tahun Menekuni Pacuan Kuda Gorontalo, Yusuf Kembali Berlaga di Event Ketupat Yosenegoro |
|
|---|
| 1.446 Ketupat Dibagikan saat Festival di Tanggidaa Kota Gorontalo |
|
|---|
| Indra Gobel Ngaku Pertama Kali Rayakan Ketupat, Janji Perhatian untuk Nelayan Gorontalo |
|
|---|
| Bawa Sapi Limosin Seberat 1 Ton, Yakob Adam Bawa Juara Kontes Hewan di Gebyar Ketupat Gorontalo |
|
|---|