Lebaran Ketupat Gorontalo
Setiap Rumah di Kecamatan Mananggu Gorontalo Sediakan Nasi Bulu Saat Lebaran Ketupat bagi Pengunjung
Setiap rumah di Kecamatan Mananggu pun membuat nasi bulu untuk disajikan kepada tamu yang datang.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Prailla Libriana Karauwan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/srtjsrtykjgbngnj.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Di Gorontalo pembuatan nasi bulu menjadi kebiasaan yang lazim dilakukan oleh warga khususnya menjelang momentum Lebaran Ketupat
Warga dengan suka rela menyajikan makanan tersebut dan membagikannya secara gratis kepada pengunjung.
Daerah paling terkenal dengan Lebaran Ketupat yakni di Kampung Jawa Desa Yosenegoro dan Reksonegoro, Kabupaten Gorontalo.
Tak hanya itu, di Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo juga tak kalah ramainya dengan Kabupaten Gorontalo saat perayaan Lebaran Ketupat.
Baca juga: Siap-Siap Kendaraan Bakal Ditilang Polisi Jika Parkir Sembarangan saat Lebaran Ketupat di Gorontalo
Tradisi ini dibawa oleh warga Jawa Tondano (Jaton) yang sudah menetap di Kecamatan Mananggu.
Seiring berjalannya waktu, warga lokal pun mulai mengikuti tradisi ini.
Setiap Lebaran Ketupat, pasti tidak pernah terlepas dari dodol dan nasi bulu.
Dua menu tersebut menjadi incaran pengunjung yang ingin merayakan Lebaran Ketupat di Gorontalo.
Sehingga setiap rumah menyajikan dua menu tersebut sebagai oleh-oleh yang dibawa pulang.
Setiap rumah di Kecamatan Mananggu pun membuat nasi bulu untuk disajikan kepada tamu yang datang.
Baca juga: 1.000 Dodol Disiapkan Warga Desa Ombulo Gorontalo Jelang Lebaran Ketupat, Gratis bagi Pengunjung
Uniknya di sini meski bukan keluarga, pengunjung bisa membawa dan makan makanan yang dihidangkan.
Perlu diketahui bahwa nasi bulu adalah beras yang dimasukan ke dalam bambu lalu dimasak hingga matang.
Pendi Rubama, warga Kecamatan Mananggu mengatakan persiapan untuk pembuatan nasi bulu dilakukannya selama dua hari sebelum lebaran ketupat.
"Untuk persiapan kami lakukan dua hari sebelum ketupat, tapi untuk proses memasak nasi bulu kami lakukan sehari sebelum ketupat," ungkapnya, Minggu (6/4/2025).
Menurut Pendi proses memasak nasi bulu harus dilakukan hampir sehari penuh agar mendapatkan hasil yang matang.
Baca juga: 1.000 Dodol Disiapkan Warga Desa Ombulo Gorontalo Jelang Lebaran Ketupat, Gratis bagi Pengunjung
Pendi bersama keluarganya pun akan memasak nasi bulu dengan cara di bakar pada siang hari sekitar pukul 14.00 Wita.
"Kalau beras basah maka matangnya lama, tapi kalau berasnya kering maka cepat matang," jelasnya.
Pendi juga menjelaskan dirinya menyiapkan beras 50 Kilogram untuk menghasilkan nasi bulu sebanyak 100 lebih.
"Setiap rumah berbeda-beda takaran," tuturnya.
Berkaca dari tahun sebelumnya, biasanya warga akan semakin banyak saat pagi pukul 08.00 Wita saat lebaran ketupat.
Warga tersebut nantinya akan selesai hingga malam hari.
"Jadi semua rumah ini akan terisi dengan tamu yang datang dari pagi sampai malam, mau keluarga dan tidak kami layani," jelasnya.
Untuk pembuatan nasi bulu kata Pendi, anggota keluarganya dibagi per tugas.
Baca juga: Polda Gorontalo Siapkan Rekayasa Lalu Lintas saat Lebaran Ketupat 2025, Ini Jalur Alternatifnya
Laki-laki akan menyiapkan bambu dan tempat memasak.
Sedangkan perempuan menyiapkan beras untuk diisi di bambu tersebut.
Selain nasi bulu juga akan disediakan buras atau yang kerap disebut warga Gorontalo burasa.
Buras adalah makanan berbahan dasar beras dengan rasa gurih.
Bentuknya mirip ketupat dan cocok untuk menjadi pendamping makanan berkuah.
Tradisi Lebaran Ketupat di Kecamatan Mananggu ini sudah berlangsung puluhan tahun.
Baca juga: Harga Cabai dan Ayam Naik Drastis di Pasar Tradisional Tilamuta Gorontalo Jelang Lebaran Ketupat
Pengunjung pun bukan hanya warga Mananggu, tapi ada dari Tilamuta, Marisa, Paguyaman bahkan Kota Gorontalo.
Non muslim pun dapat berkunjung ketika Lebaran Ketupat ini karena sikap toleransi warga yang sangat kental.
"Dari Kota Gorontalo ada yang berkunjung tapi tidak banyak karena kan di daerah sana ada Kampung Jawa," katanya.
Untuk tradisi ini warga dengan senang hati mempersiapkan segala hidangan dan buah tangan, sebab tradisi ini juga sebagai ajang silaturahmi. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.