Kamis, 5 Maret 2026

Perang Rusia Ukraina

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata Energi

Sementara itu, Uni Eropa menegaskan tidak akan memenuhi syarat yang diajukan Rusia untuk perjanjian gencatan senjata di Laut Hitam.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata Energi
Khav
PERANG RUSIA - Petugas pemadam kebakaran memadamkan api setelah serangan pesawat nirawak di Kharkiv, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Ukraina dan Rusia kembali bersitegang setelah saling menuduh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata terkait serangan terhadap infrastruktur energi, yang ditengahi oleh Amerika Serikat.

Sementara itu, Uni Eropa menegaskan tidak akan memenuhi syarat yang diajukan Rusia untuk perjanjian gencatan senjata di Laut Hitam.

Pada Rabu (27/3), Ukraina menuding Moskow tidak mampu mengelola keselamatan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia yang diduduki Rusia, menyusul laporan dugaan tumpahan besar bahan bakar diesel.

Namun, Rusia membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai berita palsu.

PLTN Zaporizhzhia telah berada di bawah kendali Rusia sejak awal invasi skala penuh pada 2022.

Sejak saat itu, Moskow dan Kyiv terus saling tuduh mengenai serangan yang bisa memicu insiden nuklir berbahaya.

Kesepakatan Gencatan Senjata yang Dipertanyakan

Amerika Serikat mengumumkan adanya kesepakatan terpisah dengan Ukraina dan Rusia untuk menghentikan serangan di Laut Hitam serta terhadap infrastruktur energi masing-masing negara.

Namun, pernyataan dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa ketegangan masih jauh dari kata mereda.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan bahwa menurut pihak AS, kesepakatan tersebut mulai berlaku segera setelah diumumkan.

Namun, Kremlin menyatakan bahwa perjanjian di Laut Hitam baru akan berlaku jika bank negara Rusia yang dikenai sanksi dihubungkan kembali ke sistem pembayaran internasional.

Uni Eropa menolak permintaan tersebut dan menegaskan bahwa tidak akan ada pencabutan sanksi hingga Rusia menarik pasukannya dari wilayah Ukraina.

Kremlin mengklaim telah menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina sejak 18 Maret lalu.

Namun, pejabat senior Ukraina menyebut bahwa Rusia telah menyerang delapan fasilitas energi sejak tanggal tersebut.

Serangan Drone dan Eskalasi Konflik

Meski ada kesepakatan gencatan senjata, serangan terus terjadi.

Semalam, Rusia mengklaim telah menembak jatuh sembilan drone Ukraina, termasuk dua di atas Laut Hitam. 

Selain itu, Moskow menuding Kyiv mencoba menyerang fasilitas penyimpanan gas di Krimea yang diduduki Rusia serta infrastruktur energi di wilayah Kursk dan Bryansk.

Di sisi lain, Ukraina melaporkan 117 serangan drone Rusia pada malam yang sama.

Kota Kryvyi Rih menjadi salah satu target serangan drone terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Zelensky mengecam aksi tersebut dan mendesak Amerika Serikat untuk memperketat sanksi terhadap Rusia.

"Meluncurkan serangan berskala besar setelah negosiasi gencatan senjata adalah sinyal jelas bagi dunia bahwa Moskow tidak berniat mencari perdamaian sejati," tulisnya di platform X.

Sikap Uni Eropa dan Tantangan Keamanan

Sejumlah diplomat menyebut bahwa sebagian besar tuntutan Rusia terkait pencabutan sanksi adalah kebijakan yang ditetapkan oleh Uni Eropa.

Namun, UE menegaskan tidak akan melonggarkan pembatasan selama pasukan Rusia masih berada di Ukraina.

"Akhir dari agresi Rusia yang tidak beralasan dan penarikan tanpa syarat semua pasukan Rusia dari seluruh wilayah Ukraina adalah salah satu syarat utama untuk mengubah atau mencabut sanksi," ujar juru bicara Komisi Eropa.

Di sisi lain, negara-negara Eropa mulai mencari cara lain untuk membantu Ukraina dalam mempertahankan langit, laut, dan perbatasannya, tanpa mengirim pasukan langsung karena kendala politik dan logistik.

Seorang pejabat senior pertahanan Eropa mengatakan bahwa kelanjutan dukungan terhadap Ukraina sangat bergantung pada prospek gencatan senjata, meski ia sendiri pesimistis akan hal tersebut.

Serangan Berlanjut, Perdamaian Kian Samar

Serangan drone Rusia hampir setiap malam telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Ukraina selama berbulan-bulan.

Pemadaman listrik akibat serangan rudal terhadap jaringan energi semakin sering terjadi, sementara Ukraina juga membalas dengan menyerang fasilitas minyak Rusia.

Dalam serangan terbaru di Kryvyi Rih, kampung halaman Zelensky, setidaknya terjadi 15 ledakan. Namun, tidak ada korban jiwa atau luka-luka yang dilaporkan.

"Jelas, begini cara penjajah menunjukkan keinginan mereka untuk 'damai'," sindir Oleksandr Vilkul, kepala administrasi militer Kryvyi Rih.

Di wilayah Mykolaiv, yang memiliki pelabuhan strategis di Laut Hitam, tujuh drone Rusia berhasil ditembak jatuh.

Gubernur setempat menegaskan bahwa meskipun pelabuhan tersebut telah ditutup sejak invasi Rusia, Ukraina tetap akan berupaya mempertahankan wilayahnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved