Rabu, 4 Maret 2026

Tribun HIS

Curhat IT Sapriadi Pelukis Asal Padang, Peminat Sepi di Pasar Senggol Kota Gorontalo

Dalam hitungan menit, pola-pola wajah mulai terbentuk, perlahan menyerupai sosok seseorang.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Curhat IT Sapriadi Pelukis Asal Padang, Peminat Sepi di Pasar Senggol Kota Gorontalo
FOTO: Jefry Potabuga, TribunGorontalo.com
PELUKIS WAJAH--IT Sapriadi merupakan pelukis jalanan asal Padang, Sumatra Barat. Kini membuka lapaknya di Pasar Senggol, Kota Gorontalo berdekatan dengan tokoh Sama Jaya, Rabu (26/3/2025). Foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Berkaos oblong coklat dan topi khas seniman, IT Sapriadi nampak serius menggoreskan pensilnya di atas kertas putih.

Dalam hitungan menit, pola-pola wajah mulai terbentuk, perlahan menyerupai sosok seseorang.

Dengan teknik serbuk pensil, ia menghidupkan setiap detail, menciptakan lukisan yang realistis dan penuh karakter.

IT Sapriadi (48) bukan nama baru di dunia seni lukis. Selama 23 tahun, ia telah menggeluti profesi ini, menawarkan jasa melukis wajah di berbagai kota.

Baca juga: 20 Tahun Rumahnya Digusur Jadi Jalan Umum, Wanita Ini Masih Ditagih Pajaknya

Kini, ia mencoba peruntungan di Pasar Senggol, Kota Gorontalo, berharap menemukan lebih banyak pelanggan.

Namun, ekspektasinya tidak selalu berjalan mulus.

Mengadu Nasib di Kota Baru

Pria asal Padang, Sumatra Barat ini datang ke Gorontalo sejak hari kedua Ramadan.

Sebelum tiba di kota ini, ia sempat berkelana ke Toraja dan Makassar.

Mendengar bahwa Gorontalo memiliki banyak peminat seni, ia pun mencoba membuka lapaknya di sini.

Sayangnya, realitas yang dihadapi tidak seindah harapan.

Baca juga: Atmosfir Tumbilotohe di Rudis Wali Kota Gorontalo, Alikusu dan Janur Kuning Mendominasi

“Awalnya saya coba di Taman Limboto, Kabupaten Gorontalo, tapi sepi orderan. Lalu saya pindah ke Pasar Senggol dengan harapan lebih ramai, tapi ternyata sama saja,” tuturnya kepada Tribun Gorontalo, Rabu (26/3/2025).

Dalam sehari, ia paling banyak menerima dua pesanan.

Bahkan, sering kali tidak ada satu pun pelanggan yang datang.

Padahal, untuk bertahan di kota ini, ia harus membayar sewa indekos dan tempat berjualan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved