Human Interest Story
Ismail Kadir Cerita Pengalaman 27 Tahun jadi Buruh Pelabuhan Ferry Gorontalo
Ismail Kadir adalah satu dari 36 buruh pelabuhan yang masih aktif bekerja di Pelabuhan Ferry Gorontalo.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ismail-Kadir.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Ismail Kadir adalah satu dari 36 buruh pelabuhan yang masih aktif bekerja di Pelabuhan Ferry Gorontalo.
Ismail sudah 27 tahun menjadi buruh pelabuhan. Hasil jerih payahnya itu digunakan untuk menghidupi keluarganya.
Bukan sekadar mata pencaharian, rupanya pelabuhan jadi saksi bisu kali pertama ia bertemu dengan sang istri.
"Untuk pertama kali kami bertemu di pelabuhan ini," kenang pria yang kerap disapa Pani saat ditemui TribunGorontalo.com, Selasa (25/3/2025).
Dulu tahun 1998, jumlah buruh sangat banyak bahkan sampai ratusan.
Seiring dengan sistem manajemen dan pengelolaan pelabuhan yang makin baik, akhirnya satu persatu mundur.
Kini hanya tersisa beberapa orang senior saja termasuk Pani, yang masih setia dan konsisten menjalani pekerjaan ini.
Ia berasal dari Kelurahan Botu, Kecamatan Dumbo Raya. Sementara rekan-rekannya juga berasal dari kecamatan tetangga seperti Kabila Bone dan sekitarnya.
"Jadi kami disini orang-orang yang tinggal di sini," tukasnya.
Pani bertahan menjadi buruh pelabuhan hanya untuk membiayai istri tiga anaknya.
Meskipun kadang hanya dapat upah seadanya, Pani tetap bersyukur.
Namun jangan salah, pada beberapa momen mudik di pelabuhan, Pani dan rekan-rekannya bisa meraup ratusan ribu bahkan hingga jutaan sehari
Baca juga: BREAKING NEWS: 7 Debt Collector di Kota Gorontalo Keroyok Nasabah, Motor Ditarik Paksa
"Kalau dalam kondisi ramai begini, paling sedikit Rp 500 ribu," bebernya.
Namun tentu sudah pasti ia pernah menerima bayaran sehari hanya Rp 50 ribu.
Lingkungan kerja yang baik seperti keluarga serta manajemen pelabuhan yang baik, membuatnya betah dan tetap bertahan.
Prinsip paling utama bekerja sebagai buruh kata Pani adalah saling menghargai, baik sesama pekerja, atasan maupun penumpang.
Sehingga tidak heran tarif buruh di Pelabuhan Ferry masih bisa dinegosiasikan, bahkan terbilang murah.
Prinsip yang ia pegang dari dulu itu telah menghidupi ia dan keluarganya selama 27 tahun.
Ia juga selalu mengendapkan kepuasan pelanggan, agar senang dengan jasanya dan rekan-rekannya.
"Dari dulu sampai sekarang ini saya tidak pernah dapat masalah. Apalagi sampai barang penumpang hilang, syukur tidak pernah,"pungkasnya.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.