Berita Internasional
Krisis Politik di Turki Memanas! Lebih dari 1.100 Orang Ditahan, Termasuk Jurnalis
Ketegangan di Turki terus meningkat, dan dunia menunggu bagaimana Erdogan akan menanggapi krisis politik yang bisa menjadi tantangan terbesar dalam pe
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/AKSI-PROTES-Seorang-demonstran-melakukan-unjuk-rasa-Hal-ini-menambah-ketegangan-di-Turki.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Ketegangan politik di Turki semakin memuncak setelah lebih dari 1.100 orang, termasuk jurnalis, ditahan oleh pihak kepolisian sejak penangkapan rival utama Presiden Recep Tayyip Erdogan, Ekrem Imamoglu. Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, mengonfirmasi hal ini pada Senin (24/3/2025).
Demonstrasi yang awalnya berlangsung di Istanbul telah menyebar ke lebih dari 55 dari 81 provinsi di seluruh negeri.
Bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi antihuru-hara semakin intens, menarik perhatian dunia internasional dan memicu kecaman global.
Penangkapan Imamoglu dan Gelombang Protes Nasional
Ekrem Imamoglu, sosok berusia 53 tahun yang populer di kalangan oposisi, telah lama dianggap sebagai satu-satunya kandidat yang berpotensi mengalahkan Erdogan dalam pemilu.
Dalam waktu hanya empat hari, Imamoglu mengalami perubahan drastis: dari wali kota Istanbul—jabatan yang juga menjadi awal karier politik Erdogan—menjadi tahanan.
Ia diinterogasi, dipenjara, dan dicopot dari jabatannya akibat tuduhan korupsi dan keterlibatan dalam aksi terorisme.
Meskipun demikian, pada Minggu (23/3), Imamoglu secara besar-besaran memenangkan suara dalam pemilihan internal Partai Rakyat Republik (CHP) sebagai kandidat presiden untuk pemilu 2028.
Sekitar 15 juta warga berpartisipasi dalam pemilihan ini, menunjukkan dukungan kuat terhadap Imamoglu.
Para pengamat menilai bahwa pemilihan ini menjadi pemicu tindakan keras pemerintah terhadap Imamoglu.
Erdogan, yang telah berkuasa sejak 2003 sebagai perdana menteri dan kemudian presiden, tampaknya merasa terancam oleh popularitas Imamoglu.
Kecaman Internasional dan Gelombang Solidaritas
Penahanan Imamoglu langsung menuai kritik dari komunitas internasional. Jerman mengecamnya sebagai “tidak dapat diterima,” sementara Yunani menyatakan bahwa segala bentuk pelanggaran terhadap kebebasan sipil “tidak bisa ditoleransi.”
Uni Eropa pun mengingatkan Turki untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap norma-norma demokrasi.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Prancis menyebut tindakan tersebut sebagai “serangan serius terhadap demokrasi.”
Di dalam negeri, mahasiswa dari berbagai universitas utama di Istanbul dan Ankara menyerukan boikot perkuliahan sebagai bentuk protes. Sore harinya, ribuan pemuda berkumpul di Pelabuhan Besiktas di Bosphorus, sebelum bergabung dalam aksi massa di depan Balai Kota Istanbul.
Pada Minggu malam, demonstrasi berubah menjadi bentrokan sengit dengan polisi antihuru-hara yang dilaporkan menendang dan memukul para demonstran.
Sebelum fajar menyingsing pada Senin, polisi menangkap 10 jurnalis Turki di rumah mereka, termasuk seorang fotografer AFP.
Menurut kelompok hak asasi manusia MLSA, mereka ditangkap karena meliput aksi protes, tindakan yang dikecam oleh istri Imamoglu, Dilek Kaya Imamoglu.
“Apa yang dilakukan terhadap pers dan jurnalis adalah masalah kebebasan. Kita tidak boleh diam,” tulis Dilek Kaya Imamoglu di platform X.
Pesan Tegas Imamoglu dari Balik Jeruji
Sejak Rabu (20/3), lebih dari 1.133 orang telah ditangkap karena aktivitas yang disebut sebagai “ilegal” oleh pemerintah.
Di antara mereka, terdapat dua pengacara yang sedang membela para demonstran yang ditahan, menurut laporan Asosiasi Pengacara di Kota Izmir.
Dari balik penjara, Imamoglu mengirimkan pesan menantang melalui pengacaranya.
“Saya mengenakan kemeja putih yang tak bisa kalian nodai. Saya memiliki tangan yang kuat yang tak bisa kalian patahkan. Saya tak akan mundur sejengkal pun. Saya akan memenangkan perang ini,” ujar Imamoglu.
Sementara itu, pemilihan internal CHP pada Minggu menunjukkan hasil yang mencengangkan.
Dari total 15 juta suara, lebih dari 13 juta berasal dari pemilih di luar anggota resmi CHP, menegaskan besarnya dukungan rakyat terhadap Imamoglu.
Sebagai respons terhadap gelombang protes yang semakin meluas, otoritas Turki telah berusaha memblokir lebih dari 700 akun di platform X guna meredam penyebaran informasi tentang aksi demonstrasi ini.
Ketegangan di Turki terus meningkat, dan dunia menunggu bagaimana Erdogan akan menanggapi krisis politik yang bisa menjadi tantangan terbesar dalam pemerintahannya selama lebih dari dua dekade.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.