Pasar Senggol Gorontalo
Dinas Perhubungan Boalemo Tingkatkan Keamanan Parkir di Pasar Senggol
Kepala Bidang Perhubungan, Mustofa, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah strategis guna menghindari kemacetan.
Penulis: Nawir Islim | Editor: Minarti Mansombo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Foto-Dinas-Perhubungan-Kabupaten-Boalemo.jpg)
Kata dia bahwa kondisi Pasar Senggol tahun ini sangat jauh berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Saya melihat pasar senggol tahun ini sangat sepi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih ramai dan pembeli lebih banyak," ujarnya saat diwawancarai Tribun Gorontalo, Jumat (21/3/2025).
Menurut Fardhan, peningkatan jumlah pengunjung biasanya terjadi setelah salat tarawih.
Namun, pada pagi hingga sore hari, suasana pasar sangat sunyi.
"Biasanya usai tarawih ramai, tapi kalau pagi sampai sore itu benar-benar sepi. Sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya," tambahnya.
Fardhan, yang bekerja sebagai karyawan di salah satu lapak di depan Karsa Utama, Kelurahan Biawao, Kota Gorontalo, berjualan bersama rekannya mulai pukul 09.00 hingga 00.00 Wita.
Ia mengatakan, barang dagangan yang paling diminati adalah sandal karet, baik untuk laki-laki maupun perempuan.
"Sandal karet paling banyak diminati. Harganya kami patok mulai dari Rp40 ribu hingga Rp80 ribu. Sedangkan tas perempuan rata-rata Rp60 ribu," jelasnya.
Hal senada diungkapkan oleh Fitrah Gaga (30), pedagang sepatu. Ia mengatakan, dalam 10 hari menjelang Lebaran di tahun-tahun sebelumnya, Pasar Senggol selalu dipadati pembeli.
Namun, tahun ini situasinya berbeda drastis.
"Biasanya semakin dekat Lebaran, pasar senggol makin ramai. Tapi tahun ini, malah semakin menurun. Dalam sehari, hanya sedikit barang yang laku terjual," ungkapnya.
Fitrah menduga, penurunan jumlah pembeli disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah maraknya penjualan online yang semakin diminati masyarakat.
"Sekarang orang lebih suka belanja online. Mereka tidak perlu repot datang ke pasar dan bisa membeli barang dari rumah," katanya.
Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa semakin banyaknya pasar senggol di berbagai lokasi di Gorontalo menyebabkan pembeli terbagi-bagi.
"Mungkin juga karena sekarang sudah banyak pasar senggol, jadi pembeli tersebar ke berbagai tempat, tidak lagi terfokus di satu lokasi," jelasnya.